Minggu, 26 Juni 2016

Gerak dan Gerik

Aku melihat satu pandangan dibalik gelapnya malam.
Terlalu kelam...
Kosong dan sombong...
Dengan sebab...
Ada udang dibalik batu...
Ada luka dibalik tawa...
Ada tawa dibalik masalalu...
Ada masalalu dibalik penyesalan...
Ada penyesalan dibalik hati...
Ya...
Hati yang pernah tinggi dan tercabik...
Hati yang luka dan sembuh meninggalkan berkas noda...
Aku tak peduli....

Aku pernah mendaki ditengah rimba.
Ku tutupi muka sebab aku lihat itu...
Kedua bola mata yang berkilap...
Dan melihatku dengan pandangan kosong...
Dibalik rasa rindu akan kelana dan rindu akan keajaiban...
Aku rindu...
Aku rindu...
Bahkan aku sangat rindu...
Ridah mu yang begitu mempesona...
Mendaki dan pergi menjelajah lagi...
Semua ini hanyalah masalalu...
Jika kau lihat...
Rimba bukan hal yang tepat...
Dan satu saat kau akan mengerti...
Aku lupa karna semua pernah ada...

-Gamal Johanes Perdana-

Rabu, 22 Juni 2016

Habis Gelap Terbitlah Bohong

Aku berjalan di jalan yang telah tersinari oleh cahaya mimpi yang kelak nanti akan menjadi nyata. Berjalan terarah arah dan dengan sebab, hingga aku lupa menoleh ke belakang. Aku tak ingin lagi melihat karna disana banyak luka, disana banyak cerita lama yang telah usang dimakan waktu. Disana ada rindu ingin kembali dan ada benci pernah terjadi. Ada kebodohan dan ada penyesalan, pula kemanisan dan keindahan. Aku pernah lari dan terjatuh, tergelincir dan terluka. Semua aku timbun sebab aku tak mau dibencinya. Dan aku rasa aku telah berhasil membohongi hati ini...

Lama aku telah mengurung pula menyiksa batin sendiri, sebab aku tak ingin itu terjadi, memang sakit tapi harus gimana lagi, memang berat, tapi apa yang bisa aku perbuat. Semua kulakukan perlahan mengunci, hingga sempitlah jalanku. karnanya, olehnya, dan untuknya. Terasa berat meski aku ringan ringani, terasa sakit meski tak ku pikirkan. Semua terasa sulit sebab aku tak terbiasa, walaupun kini aku hampir terbiasa dengan semuanya. Menahan diri hingga aku lupa jati diri.
Aku lupa bahwa aku adalah pemuda, aku lupa bahwa aku punya cita dan asa. Dan lagi lagi aku berhasil membohongi diri sendiri...

Dan disaat aku terpojok oleh rasa, tak berdaya, tak punya apa apa, sebab terlalu cepat waktu melarutkan semua kenangan dan harapan. Aku hanya punya angka 17, dan akhirnya akupun kalahh... Sebab aku adalah 26...

•Gamal Johanes Perdana•