Kamis, 16 Juli 2015

Cinta...

Cinta,...
Maha dahsyat kekuatannya.
Bila cinta datang dan mengetuk pintu hati.
Takan ada yang sanggup menghindar dan lari darinya.
Bahkan bila hati yang telah dijajah cinta.
Logika pun takan ada gunanya lagi...
Cinta tak kenal rumus, tahta, dan harta.
Bahkan cinta dapat menghancurkan satu negara yang berdaulat.

Cinta,...
Tak kenal hukum dan aturan.
Sebab cinta bagian dari seni yang tak terlihat...
Akan tetapi dapat dirasakan.
Dan hanya mengenal 2 rasa...
Manis disaat pembukaan.
Sakit disaat penutupan.

Cinta tidak hanya prihal sepasang kekasih.
Cinta, hanya lima alfabet namun luas pengembangannya.
Yang menguasai alam semesta.
Sebab kekuatan cintalah yang membentuk jagat raya dan seisinya.
Lewat tangan tuhan,,,
Yang mencintai seluruh umat dan karya ciptaannya.

Cinta hanta dapat terlihat namanya...
Tapi apakah kau mengerti isinya?
Apakah kau mengerti pula makna dan tujuannya?
Cinta itu seni yang abstrak...
Banyak teori logika mengatakan cinta adalah pertemuan dua insan.
Kembali lagi,,,
Apakah cinta itu mengenal logika?

Data:
Kamis, 16 juli 2015
03:08

Karya: Gamal Johanes Perdana

Selasa, 14 Juli 2015

Lenyaplah Dalam Pikiran

Hai pagi,,,
Dengan sejuta imajinasi.
Terlihat sinar dari ufuk timur yang cemerlang memancar.
Itu pertanda bahwa matahari telah bangun dari tidurnya semalam.
Dan mungkin hanyalah aku yang belum jua tidur.
Masih samar kudengar dendang subuh di telinga ini.
Biarlah, pagi yang dingin ini lenyap dengan waktu.

Di pikiranku masih terdapat seni ilusi yang melayang.
Terbang dan kerap datang dan buat ku merubah emosi.
Sekejap hilang di pikiran dan datang kembali.
Hidup...
Aku selalu menganggap bahwa hidup adalah tantangan.
Faktanya ialah keinginan.

Separuh terletak dialam sadar.
Setelah teringat dengan semua karya telah musnah.
Aku mengerti bahwa di dunia tak ada yang abadi...
Tapi, apakah salah bila aku mencoba untuk mengabadikannya ?...
Meski hanya aksara...
Semua itu mengandung makna dan drama.
Meski bukan dengan pena...
Tapi semua itu nyata dengan tinta.
Dan itu ada...

Meski aku bukanlah pujangga....
Apakah salah bila ku menorehkan lagi kata diatas kaca dan kertas.
Aku yakin bahwa setiap manusia perlu mencurahkan isi hatinya.
Melampiaskan emosi yang kerap menggebu batin dan sukma.
Aku mengerti bahwa manusia butuh seni dalam hidupnya.
Sejuta impian yang melambung ketika fajar menjelang.
Meluluhkan sebuah rasa keinginan dan karya keindahan...
Sebelum matahari keluar dari kayangan...
Biarlah ketenangan ini menghantarku ke alam pikiran.

Data:
Selasa, 14 Juli 2015
05:20 AM

Karya: Gamal Johanes Perdana

Minggu, 19 April 2015

Senja Penuh Pesona

Secangkir teh cukup tenangkan batin yang tertutup kabut.
Dikala mentari nan indah tertelan oleh kegelapan.
Kupandangi keindahan senja yang merah nan gelap terlihat...
Burung-burung yang mulai meratap pada sangkarnya.
Dan kalalawar yang menggantung bangkit dari tidurnya.
Semua menandakan bahwa malam akan datang membawa sejuta ketenangan.
Angin yang bertiup menghalu pandangan membuatku tak lepas pada baju hangat ini.

Perlahan gelap menyatakan kilatan titik yang cantik pada langit tak beratap.
Kartika Kirana, itulah sebutan pada sansekerta...
Mereka hadir membentuk sebuah rasi yang indah.
Seakan terlihat kompak, mereka tunjukan sebiah garis cakrawala.
Yang tak terlihat oleh mata, namun terukur oleh logika.
Yah, mereka terlihat sangat cantik bukan?...

Derikan jangkrik yang tak berdurasi....
Menambah haru suasana malam dibawah bulan purnama.
Yang menerangi bumi dengan cahaya redupnya.
Segala keanggunan menyatu disini.
Ditempat yang memiliki sejuta pesona alam bumi pertiwi.
Kesejukan yang larut pada kobaran api yang hangat.

Jika aku boleh meminta...
Aku ingin lebih lama berada disini.
Meski sulit untuk hidup, aku rasa ketenangan yang membuatku bertahan.
Yang katanya rimba adalah tempat yang menyeramkan.
Sungguh, aku tak peduli...
Sebab bagiku tidak...

Oleh: Gamal Johanes Perdana


Minggu, 12 April 2015

Rimba Kelana

Berdiri setelah terjatuh untuk mengabdi...
Tanpa kata lelah berjalan lewati lembah dan punggungan.
Bukan karena angkuh atau terlebih batu.
Kebanggaan ini masih tersimpan selama aku masih hidup.
Mendaki untuk lagi menolak gravitasi.
Tarian merayap pada sebuah ngarai yang menjulang tinggi.
Aku tak takut mati sebab aku hidup untuk ini.
Melompat dan terjun bebas...

Kegelapan yang sunyi dan kelam...
Menelan sinar kehidupan pada kesunyian rimba.
Takan terlihat meski dekat memandang.
Bahkan saat kau coba untuk berteriak sekeras kau bersuara.
Getaran itu lenyap...
Tenanglah, jika riuh rimba terlalu sangar untuk kau dengar.
Pulang dan kembalilah pada kota yang banyak peradaban.
Jangan coba tuk kembali.
Karena alam rimba bukan untuk tempat bermain dan mencari ketenangan.

Oleh: Gamal Johanes Perdana

Jumat, 10 April 2015

Kedamaian Lukisan Gelap

Hai senja...
Tutuplah siang dikala ku sakit.
Dikala masa lalu hadir kembali pada ingatanku.
Yang pahit dan menyentuh sanubari.
Aku mengerti...
Manusia pasti akan berevolusi.
Baik pikir maupun sifat.

Wahai bintang...
Hiasilah senja penuh anarki dengan kedamaian.
Aku mengerti waktu akan berjalan kedepan.
Memendam semua kenangan dan cerita.
Meski pahit...
Disini aku merasakan satu keindahan.
Yang tiada duanya...
Itulah seni kehidupan.

Bila bulan datang...
Aku selalu ingin bersamanya di angkasa.
Damai tenang bersama bintang.
Semua terlukis keindahan kala malam datang.
Meski gelap...
Aku tak takut karna ku tak sendiri.
Dibalik kelam ada karya cipta sempurna.
Aku senang bila hari gelap.
Meski tak ada cinta yang pernah temaniku.
Aku tetap senang ketika malam datang.

Aroma sejuk lintasi hidung...
Ketenangan selimuti suasana hidupku.
Secangkir teh cukup menambah tenangnya suasana.
Bila ku mendaki...
Sejuta kenikmatan bersatu di malam hari.
Satu anugerah yang tak terbayar oleh uang.
Tak ada bising, tak ada polusi.
Aku rindu suasana rimba datang...
Berdiri lagi di atas awan.
Dengan udara dingin yang membakar.
Aku rindu dengan segala ketenangan.
Yang bersahabat...
Namun liar sebut orang...
Disini...
Aku mendambakan ketenangan di tengah alam liar.