Sabtu, 31 Desember 2016

Tutup Buku 2016

Sebelum akhir...
Ku titipkan salam pada angin yang berhembus dari timur.
Yang tenang berhembus melintasi ilalang...
Pula besar impianku sebelum berganti tahun.
Meski masih samar ku lukis...
Ingin ku jabarkan...

Aku ingin penjelajahan ini berkembang...
Dimana ada tempat baru yang ku jelajahi lagi.
Dan pula aku ingin memiliki teman...
Teman yang selalu mendampingi langkahku dalam perjalanan.
Teman yang setia dan mengerti semua keadaan.
Teman yang satu tujuan, satu perjalanan, dan satu kegemaran.

Aku ingin menemukan satu potensial...
Dimana diantara semua ilmu yang ku geluti dengan baik.
Aku ingin temui satu potensi yang lebih diantara semua ini...
Yang nantinya akan menjadi profesi dalam dunia karirku.
Yang nantinya banyak memiliki manfaat untuk orang lain di dunia.
Yang nantinya aku akan menjadi profesional  dalam bidangku sendiri.
Entah guru ataupun sastra...

Aku ingin menatap dunia dengan luas...
Yang artinya aku ingin ada hal baru yang mengisi kehidupan ini.
Memiliki usaha dan bisnis di bidang teknologi informasi,,,
Yang artinya aku membangun usaha sendiri.
Agar aku tek perlu repot buang-buang waktu untuk bekerja.
Yang ada hanya bagaimana cara management dana dan laba.

Aku ingin di tahun 2017 esok adalah tahun yang lebih baik.
Dimana perkataan dan karyaku bisa bermanfaat untuk kehidupan orang.
Oh tuhan...
Perkenankanlah doaku ini...
Agar aku tak sia-sia hidup di dunia ini tuhan...
Aku mendambakan kehidupan yang lebih baik...
Yang artinya baik untukku dan orang di sekitarku.
Perkenankanlah doaku...


Jakarta, 31 Desember 2016
08:08 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 30 Desember 2016

Desember 2016

Dimana banyak menyimpan kisah...
Dari awal dimana bulan ini lahir.
Lalu berakhir...
Rotasiku hanya cinta, alam dan teman.
Serta perjalanan kecil yang tak jua ku temukan hasil.
Meski dibalik itu semua...
Ada niat terselubung yang hingga kini aku pelajari.
Desember yang baik...

Kehidupan ini penuh dengan teka-teki...
Permainan tanpa aturan tertulis.
Yang artinya kalian bebas melakukan semua hal sesuka hati.
Selama itu baik...
Silahkan kalian bertualang dan menjelajah sebanyak mungkin.
ketika kalian bosan dengan peradaban...
Pergilah yang jauh, agar kau tau apa itu arti peradaban...
ketika kau bosan berada di rumah...
Pergilah ke hutan,,,
Agar kau tau betapa nikmatnya berada di dalam rumah...


Jakarta, 30 Desember  2016
10:25 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Bertualang Di Baru Bolang

Langkah baik di akhir taun...
Tanpa rasa tanpa cinta...
Hanya berkelana dan menjauhi peradaban.
Dimana kala malam kelam...
Ada satu hal suasana yang sangat ku cintai.
Kala kabut tutupi mata dan hujan menghapus langkah...
Aku hidup diantara dua punggungan di tapak pangrango.
Menjelajah ke tempat baru...
Hidup damai diantara kerasnya alam.

Semua terasa beda ketika ku berjalan bersama mereka...
Diantara hujan rintik menembus sela ranting dan dahan.
Menyelami rimba...
Mengisi dunia dengan sebuah petualangan...
Dimana dunia...
Yang kurasa saat ini hanyalah derik jangkrik...
Katak..
Pula derasnya sungai...
Yang mengalir deras dengan beriakannya.

Dan itulah kehidupanku...
Yang menghilang...
Untuk menyendiri di alam...
Bebas tanpa aturan formal.


Baru Bolang, 30 Desember 2016
12:51 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Penuntut Kebebasan

Dirinya adalah pelita yang ku sembunyikan...
Dibalik kabut asap yang samar.
Ada cahayanya yang menjagaku dengan setia.
Dirinya adalah cinta...
Yang membuatku berontak...
Atau semacam gerakan bawah tanah.

Apa yang kan terjadi jikalau dia temuiku pada akhir tahun.
Tanpa jejak, tanpa berita yang jelas...
Akanhak dia menerima atau dia menyadari.
Kalau aku pergi lagi berkelana...
Dua perjalanan dalam satu pekan.
Dirinya tidak pernah mengizinkanku jujur akan hal ini.
Namun, apapun itu....
Aku sangat mencintai kebebasan yang artinya...
Hidup ku adalah perjalananku.
Tak usah kau urusi urusanku.
Aku hanya ingin bahagia dengan caraku sendiri...
Sebab hingga kini...
Kamu belum bisa jadi seperti apa yang ku pinta...
Selamat malam cinta...


Cibubur, 28 desember 2016
01:56 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Malam Tanpa Peradaban

Redupnya api...
Mengantarku ke dalam mimpi sang imajinasi.
Dibawah bintang nan redup...
Di tanah nan lapang pula gersang.
Bersma hangatnya bara...
Dan merdunya lantunan musik.
Lagi ku tuliskan tentang ketenangan abadi.

Dengan tekanan yang kuat...
Tak jua ku temukan jenuh akan langkah ini.
Perjalanan di akhir tahun.
Tanpa listrik...
Tanpa sinyal...
Tanpa cinta...
Tanpa notebook pula internet.
Aku coba menjauh dari peradaban.

Meski tanpa bintang...
Langkah ku cukup menawan.
Berjalan di bawah panasnnya sang dewa langit.
Dan meraba dengan sinar dewi kegelapan.
Dalam derita tanpa cerita...
Penghujung desember, menuju tahun baru...
Habiskan waktu dan tenaga...
Dalam sinar orion nan cantik.
Pula asri diatas langit.


Cibubur,  26 Desember 2016
09:22 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Rabu, 21 Desember 2016

Selatan Penuh Anarki

Tenggelamlah matahari...
Sungguh aku muak akan anarkinya selatan.
Dimana semua jalan tak lagi lapang...
Penuh amarah yang tak terkendali.
Busuk pula kotor...
Disamping terminal...
Dengan latar belakang senja penuh anarki...
Selatan...

Dari angkutan ke angkutan...
Kuperhatikan kehidupan sekitar akan ke egoisan.
Kepincangan ekonomi...
Serta kerusakan moral anak bangsa.
Mereka semua mengembara dengan penampilan buruk.
Merekalah musisi jalanan...
Yang menghias anarkinya jalan dengan nada sumbang.
Pula karya seninya yang abstrak diatas kulit cokelat...

Dari persimpangan...
Ku simak mereka yang angkuh dalam kendaraan.
Sendiri dalam satu roda empat...
Melontarkan sirine dengan keras tanpa sadar.
Kalau dirinya lah faktor kemacetan...
Lalu motor jalan saling mendahului seperti semut...
Dan bis yang lapang tanpa penumpang...

Aku terduduk santai di kursi belakang...
Lalu ku putar musik dengan nada lembut.
Ku tenangkan jiwa ini...
Dibawah langit oranye bercampur abu-abu biru.
Dalam lelahnya tubuh yang telah di hujat...
Aku tak ingin menjadi orang yang tempramental.
Aku hanya ingin menjadi orang yang damai...
Tentram diantara kisruhnya selatan...
Senja menuju malam...


Jakarta, 21 Desember 2016
07:48 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Pesan Dalam Rangkaian Kata

Menunggu dan memutar lagu...
Tenangkan pikiran dengan perasaan.
Ku tarik napas dan hembuskan perlahan.
Perlahan....
Menyelinap ke dalam otak...
Halus...
Dan kita mulai bilangan abstrak.

Wahai bintang nan tenang...
Jalan ini begitu mudah kala hujan menerpa.
Katanya mengantarku pulang pada duniaku sendiri.
Meski sebelumnya...
Kupikir kelana lah yang akan mengobati semuanya.
Nyatanya aku mampu terbangun...
Dan semua ini hanyalah ilusi...

Wahai lautan...
Kala ledakan mengguncang dari ujung timur.
Seakan-akan perdamaian tiada arti...
Ketika perasaan yang tidak stabil lalu menjadi stabil.
Dirinya hilang ditelan awan...
Langkah ini berjalan lentang tanpa beban...
Hidup itu terlalu singkat untuk ku tempuh...

Sebelum itu...
Aku sempat hidup diantara kabut.
Kala dini nan larut bersatu di kaki pangrango.
Di tepi sungai halimun,...
Pula cibodas bersama rekaman yang telah punah.
Takan ku lupakan perjalanan bersama kalian...
Meski semua dokumen hancur lebur.
Otak ini masih menyimpan rapih kisah itu...
Aku bersama alam liar...


Jakarta, 21 Desember 2016
02:13 A.M.
Gamal Johanes Perdana


Selasa, 20 Desember 2016

Malam Tanpa Inspirasi

Dalam remang malam...
Sayup mata terpejam.
Tanpa kata...
Tanpa ukiran sastra...

Pulihnya luka membuatku tak berkata.
Dan hampir sepenuhnya pola berubah...
Sebab yang ku tau adalah...
Tak selamanya bumerang melontar lurus.
Hingga detik pergantian tahun tiba.
Bisa ku katakan kalau hidup ini stabil.
Tak ada obat yang tak membutuhkan proses.
Dan tindakannya bijak dan bajik...

Pula esok hari...
Ketika matahari membuat dunia sibuk.
Aku sama seperti mereka...
Pekan penuh dendam catur wulan.
Dimana ketika semua orang bersanda gurau...
Aku acuh dan berjalan lembut diantara papan.
Pula aksara nan abstrak.
Dalam lelahnya pikir yang terkuras.
Ku bermain diantara akar sang program.
Hingga penutupan di umumkan...
Dan lembar baru di mulai...


Jakarta, 20 Desember 2016
01:01 A.M.
Gamal Johanes Perdana


Minggu, 18 Desember 2016

Untuk Pagi

Matahari...
Ledakkan sinarmu dari ufuk timur.
Hangatkan bumi dengan radiasimu.
Ketika bintang kau telan...
Mimpi indah itu pun hilang perlahan.
Kicau burung menyambut hadirnya pagi.
Nan permai pula damai...

Untuk perasaan yang tertinggal...
Tak ingin ku hapus sebab itu alami adanya.
Mimpi itu memang indah...
Tapi apakah selalu mimpi itu indah?...
Mimpi memang tak pernah nyata.
Tapi apa selamanya mimpi itu tetap mimpi?...
Akankah mimpi itu bisa terwujud...
Menjadi mimpi yang utuh...


Jakarta, 18 Desember 2016
03:19 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Sabtu, 17 Desember 2016

Masih Terasa Bodoh

Dunia itu begitu indah ku rasakan...
Berjalan mengembara...
Belajar bersosialisasi dengan baik.
Berusaha menebar bibit ilmu dan kebaikan.
Menyalin kisah hidup...
Dengan harapan agar orang bisa belajar dari pengalaman.
Kelak nanti aku pun akan dewasa.

Ribuan hari telah ku lewati...
Dari terbit fajar hingga terbenam senja.
Aku selalu ingin berusaha berbuat hal yang sedikit berguna.
Entah apapun...
Hingga aku tak memiliki keunggulan di satu titik.
Dimana semua ilmu ku telan dan ku terapkan.
Sosiologi,geografi, dan sejarah...
Serta elektro...
Otomotif...
Astronomi pula astrologi.
Fisika, nuklir, fluida, listrik...
Sastra, nada, grafik, citra, dan lukis...
Travel...
Logika algoritma, logika pemrograman...
Pula kini sistem informasi...
Semua aku mengerti meski hanya sebagai orang awam.
Semua ku pelajari otodidak...

Lalu ketika hampir banyak ku mengerti...
Aku bingung apa potinsi atas semua ini...
Semua ku pelajari atas kesukaan...
Hingga akhirnya aku lelah akan semuanya yang terjadi.
Apa yang ku dapat seakan-akan nol besar...
Aku tidak memiliki potensi yang besar di antara semua itu...
Jauh dari perkiraan...
Bahwa tuhan telah menciptakan otak dengan berjuta neuron.
Aku tak menyangka bahwa otak ini sanggup menampung semua.
Maha besar tuhan yang maha esa.

Dianara itu...
Aku tak pernah fokus di satu ilmu...
Rasa serakah akan ilmu selalu saja muncul dan ingin merauk semuanya.
Hingga akhirnya aku tak tau dimana bakatku...
Dan ketika orang bertanya apa yang aku kuasai...
Aku tak tau apa apa tentang semua ini,..
Tak ada...
Aku tak unggul diantara semua ini...
Aku masih saja merasa bodoh diantara semua ini...


Jakarta, 17 Desember 2016
02:51 A.M.
Gamal Johanes Perdana


Kamis, 15 Desember 2016

Selamat Mimpi Indah

Tuhan, lindungilah dirinya ketika malam sunyi...
Ketika tidurnya hangat dengan doaku.
Dimana mimpinya yang indah sebab aku yang temani harinya.
Tuhan, biarkan ini tetap stabil adanya...
Langkah ini berjalan menuju angka ganjil.
Dimana rasa yang tertanam tumbuh dengan baik.
Antara aku dan dirinya...

Tuhan, lelapkan tidurnya dengan cintaku...
Sosok wanita yang tangguh hatinya menemaniku.
Yang ku kenal di lapangan basket yang gersang.
Yang juga pernah mempertahankan hatiku untuk tetap miliknya.
Sehatkan raganya dalam kegelapan ini.
Cintanya begitu sejati ku miliki...
Aku sangat mencintainya kini...

Tuhan, indahkan lah mimpinya dengan sastraku...
Yang terajut sebab kekagumanku akannya yang teramat sangat.
Ya tuhan...
Terima kasih kau telah cipakan dirinya untuk temaniku selama ini.
Jalan ini masih jauh untuk di tempuh bersama.
Meski dirinya hadir dengan sedikit kekurangan ...
Doakan aku agar bisa menutupi semua keburukan itu.
Dan dirimu...
Tetaplah jadi yang terbaik untuk kehidupanku esok...
Selamat malam delman utama...


Jakarta, 15 Desember 2015
01:17 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Rabu, 14 Desember 2016

Malam Petang

Terbangun ketika malam petang...
Seperti ada hal yang tak bisa aku jelaskan.
Entah apa yang kini aku rasa.
Aku hanyut dalam alunan nada yang mendayu.
Mengayun dan menenangkan...
Hingga perasaan ini hanyut pada lantunannya.

Entah kapan kan kutemukan kejenuhan...
Ketika kerinduan yang teramat sangat hadir.
Dini sebelum fajar...
Atau ketika keharuan memakan habis semua perasaan.
Dalam pena, aku bercerita tentang kehidupan.
Hidup yang memiliki berjuta warna dan rasa...
Penuh asa dan suka cita...
Dalam denyut nadi yang kian terasa.
Aku hidup dalam perasaan ketika malam petang.

Meski tak ada bintang...
Bulan cukup indah malam ini ku pandang...
Meski di tutupi butiran awan.
Sinarnya tetap mampu menembus kabut.
Dan ketika pagi datang...
Semua akan terasa berlalu terlalu cepat.
Terlalu dingin dirasa...
Hingga aku tersadar satu saat nanti.
Untuk apa aku berlari?...


Jakarta, 14 Desember 2016
12:43 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 12 Desember 2016

Torehan Kata Untuk Alam

Hai air...
Turunlah kau lintasi lembah,,,
Lewati serumpun padi yang begitu luas terhampar.
Hijau ku pandang tanpa cacat...
Terlihat asri dengan kincir yang berputar.
Meski terbilang panas, suasana ini begitu tenang kurasa.
Inilah negriku...

Sukamantri...
Ketika kulihat ngarai nan membentang dalam hutan...
Yang diantaranya ada air yang turun dan terjun.
Burung yang terbang lalu berkicau...
Sinar yang membentuk bayang pelangi nan indah.
Di dalam sejuta pinus dan cemara yang menjulang tinggi.
Ku simpan cerita yang begitu menghangatkan jiwa...
Tentangnya yang tak jua ku temukan rasa jera...
Ketika itu...
Senar yang terpetik menciptakan deretan lagu tanpa jeda.
Di antara lembah dan lapangan hijau membentang.
Sejuk yang meneduhkan kala matahari menyengat dan membakar.
Hanya satu ingatanku kala itu...
Kala cinta datang lalu menghempasku jatuh ke dasar ngarai.
Diantara air dan koral tajam...

Halimun...
Diantara fajar yang menakjubkan kala itu..
Dan ladang teh yang sangat asri bersama bukit dan lembah.
Aku lahir bersama ke enam saudaraku.
Di atas bukit disamping padi yang berserakan...
Yang setahun kemudian ku jumpai lagi dengan suasana nan memukau.
Tak terjamah dan jauh dari peradaban metropolitan.
Dingin yang menusuk kulit, dengan kehangatan yang mendaging...
Aku turuti katanya meski tak lagi ku temui kesadaran disana.
Berjalan diantara hutan yang kelam....
Melintasi bukit teh diantara senja yang tercipta sore itu.
Kapan semua akan terulang lagi...
Aku rindu akan kehangatannya kala fajar menembus kabut...
Sejuta kenikmatan tercipta disana.
Halimun...

Meski kini tak ku jumpai lagi...
Aku yakin satu hari nanti semua akan kembali...
Jalanku masih terpapar luas di antara lembah yang tercipta.
Dan lantunan musik yang begitu menenangkan jiwa.
Katanya lembut seperti kapas, dan tenang seperti air...
Ku jumpai kau untuk di lain hari nanti...
Salam lestari...


Jakarta, 12 Desember 2016
11:38 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Minggu, 11 Desember 2016

Senandung Sastra

Dalam ketenangan,..
Semua ini tercipta dengan haru.
Tak ada pesan dan juga tak berkesan...
Ku putar musik...
Ku putar memori...
Segala yang ku ingat adalah hal yang manis.
Siapapun itu...
Masa kelam pula masa menderang...
Itu semua adalah lalu.

Ketika ku temui jalan di penghujung fajar.
Pula matahari yang terbangun dari tidurnya semalam.
Pecah dengan partikel panasnya...
Membangunkanku dari mimpi indah semalam suntuk.
Mentari yang hadir kali ini indah dari sebelumnya.
Dan sebelum itu...
Apa aku bisa pertahankan perasaan ini?...
Ketika perasaan yang perlahan ku hapus.
Akankah aku berhasil membohongi hati ini lagi.
Atau ini akan menjadi bumerang lagi?...

Tuhan, tuntun aku keluar dari perasaan ini...
Ketika dengan tenang ku ambil tindakan perlahan.
Hingga sejauh ini...
Aku  bisa berjalan untuk coba melupakan.
Dan walaupun satu saat nanti akan hancur lagi...
Sebab aku tak kuat melihat pandangan matamu yang menolek.
Tawa nan indah mempesona...
Biarlah...
Cinta memang lahir dari hati...

Ketenangan ini membawaku pada alam imajinasi...
Ketika lampu yang remang hangatkan suasana.
Ketika itu aku larut pada dunia sastra...
Sebuah karya yang lahir dari hati yang murni.
Dan ku ubah rasa pait menjadi manis di kenang.


Jakarta, 11 Desember 2016
11:35 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Rintihan Rinduku

Rindu...
Kata itu yang hanya terlontar.
Aku rindu akan amarahmu memperhatikanku.
Apa kamu juga sama disana...
Atau kamu berpikir kalau aku biasa saja.
Tak perlu kamu tau sayang...

Malam ini...
Aku berharap bisa menghubungimu.
Tapi sulit...
Aku hanya ingin datang.
Atau haruskah ku tahan perasaan ini.
Ketika rasa sayang dan cinta bersatu dalam rindu.
Aku hanya ingin kau tau...
Kalau doa ku hadir pada mimpimu malam ini...
Selamat tidur...
Salam sayang dariku...
Gamal Johanes Perdana

Jakarta, 11 Desember 2016
02:50
Gamal Johanes Perdana

Sabtu, 10 Desember 2016

Langkah Kakinya

Ya tuhan...
Aku baru menyadari semuanya.
Akan tentang hal ini setelah aku kehilangan.
Dan apa lagi yang akan kuperbuat.
Ketika sesal yang kini hanya tersisa.
Akankah semua ini membaik...
Atau aku tetap aku yang tertunduk sedih.
Yang meratap semuanya setelah badai berlalu.
Tuhan, aku yakin engkau memahaminya...

Terlintas sejenak dalam pikiran...
Ketika kuingat hal yang mungkin harus kulupakan.
Tentang bayangnya yang semu.

Langkah kakinya masih bisa terdengar...
Dan obat penawar itu.
Telah menyembuhkan segalanya yang terluka...
Dan tak jua dia pergi.
Ketika kegelapan menelan segalanya...
Akankah dia pergi untuk membenci?...

Dan tuhan...
Tak ingin lagi aku larut padanya.
Jika memang waktunya...
Aku akan keluar saat itu juga...
Sebab mencintainya penuh dengan kepedihan.


Jakarta, 10 Desember 2016
12:56 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Kamis, 08 Desember 2016

Rasa Kecewa

Kekecewaan itu hadir disaat kita berjalan lesuh.
Sebab semua tidak sesuai pada rencana.
Yang mana kala kita berusaha penuh maksimal.
Orang itu menghancurkan tanpa sesal.
Inilah aku, bersamanya yang kini mengecewakan.

Langit memang biru...
Tapi bukan berarti langit berwarna biru.
Dan rasa sedih memang lahir dalam hati...
Namun siapa tau?...
Ketika aku terduduk santai lalu berpikir.
Mengapa semua bisa mengecewakan...
Hanya bisa tabah, lalu berkata...
Kehidupan itu memang harus berubah.
Tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.

Kekecewaan itu milik mereka...
Dan tentang semuanya, biarlah...
Tak perlu ada yang mengerti akan hatiku.
Aku hanya bisa memberikan apa yang ku punya.
Katakah, atau tenagakah...
Aku lahir dengan rasa pengabdian yang besar.
Loyalitas yang baik...
Sadar atau tidak...
Mereka telah mengecewakan semua bentuk.
Dan aku...
Hanya ingin lihat apa yang terjadi nanti...
Mainkan...


Jakarta, 8 Desember 2016
11:31 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Kalley

Berlari cepat lalu berguling...
Nampak riang kulihat kau malam ini.
Putih nan lembut bulunya.
Dia adalah kalley...
Serigala kecil yang putih.

Dia hidup berdampingan bersama kakaknya...
Lois de olmow.
Buntutnya yang cacat tidak membuatnya kurang.
Sebab ia memiliki bulu dan mata yang berbeda.
Pula suara raungnya yang lembut.
Tingkahnya yang konyol serta...
Rasa manjanya yang teramat sangat...
Dia adalah Kalley...

Dan ketika sayup matanya kulihat...
Sunyi dan tak lagi ku lihatnya bermain bersamaku.
Hingga ketika pagi datang...
Dia yang akan mengganggu tidurku.
Dengan jilatan lidahnya yang kasar...
Kalley...


Jakarta, 8 Desember 2016
12:04 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Rabu, 07 Desember 2016

Perasaan Murni

Jiwa yang tenang...
Dan kali ini...
Hati, imajinasi, Dan musik menjadi satu.
Dalam satu perasaan rindu mendalam.
Kala ku ingat dirimu lagi malam ini...
Dalam kegelapan, pikiran ini melayang.
Terbawa nada dan bayangan.
Dan tuhan,,,
Cinta ini sulit larut seperti intan.

Kalau langit punya awan yang lembut...
Aku punya perasaan yang murni seperti embun.
Dan semua yang tersimpan rapih...
Pada lusuhnya buku dan pena yang kumainkan.
Lalu ku gambarkan realita berbentuk alfabet.
Karna inilah cinta yang berbuah seni.
Diatas papan, jari menari dengan lembut.
Lalu hati berbisik halus...
Bahwa aku mencintainya.

Perasaan ini seperti berlian...
Sulit hancur dan sulit dibentuk.
Biasan warnanya yang begitu sempurna...
Membuat cahaya terlihat cantik.
Sama seperti bayangnya yang kerap hantui pikiran.
Dengan rasa cinta...


Jakarta, 7 Desember 2016
12:45 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 05 Desember 2016

Tanah Air Beta

Indonesia...
Negara yang subur dan kaya.
Dengan sejuta ragam flora dan fauna.
Orangnya ramah dan tamah...
Nan indah dengan kebudayaan luhurnya.
Esa ketuhanannya...
Suku yang multikultural...
Inilah negara ku, bisa kau sebut dengan pulau melati.
Aku bangga, jadi warga negaranya...

Tidakkah kau lihat...
Air yang mengalir diapit lembah nan curam.
Nian bening dan murni seperti peradabannya.
Alangkah indah negri kita ini.
Hamparan ladang padi yang hidup dipangkuan ibu pertiwi.

Aku tenang berada disini...
Indonesia yang hidup dengan berbagai iklim.
Rimba yang berada di garis katulistiwa...

Biar orang berkata apa, aku tetap cinta negri ini...
Erat ikatan persaudaraannya...
Tangguh rakyatnya pula aman wilayahnya.
Aku tenang hidup di negara yang berdaulat ini.


Jakarta, 5 Desember 2015
11:35 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Minggu, 04 Desember 2016

Kata Untuk Semesta

Kalau saja aksara bisa menggambarkan keindahan nyata.
Aku ingin gambarkan suasana tenangnya alam disini.
Kalau disana ada punggungan dan lembahan...
Yang diantaranya ada air yang mengalir lembut...
Lalu pecah di antara ngarai yang menjulang tinggi.
Di antara partikel air yang dilewati cahaya matahari...
Membentuk sebaris warna yang sangat menakjubkan.

Kalau saja aksara bisa mewakili citra senja nan mempesona.
Yang didalamnya terdapat sejuta terumbu karang...
Dan tersimpan di dalam luasnya segara.
Terhempas dan terbawa hingga ke tepi pantai..
Tertiup tenang dengan angin lalu hancur oleh kristal.
Meski sempat ku tuliskan kata dengan lembut.
Ombak terlalu cepat menghapus kata tersebut...

Dan aku masih bermain pada imajinasiku...
Tentang semua rencana dan mimpi-mimpi.
Yang didalamnya tercatat cita-citaku akan negara ini.
Dan sejuta tujuan yang belum juga terhapus.
Masih terbaca jelas...
Meski kehidupanku belum terlalu jelas...
Aku hanya akan lakukan hal yang aku suka.
Dan benar menurutku...

Jakarta, 4 Desember  2016
11:17 P.M.
Gamal Johannes Perdana

Mimpi


Berkali-kali aku melangkah...
Di dalam perasaan yang indah...
Di dalam mimpi yang begitu menguras ilusi.
Bahkan setiap kali ku ingat dirimu.
Ada hal yang ingin aku sampaikan namun tak bisa.
Inilah aku...
Hidup bersama mimpi yang tak terungkap.

Aku paham bahwa aku hidup di alam bawah sadar...
Dan lagi-lagi aku biarkan diri terkurung disini.
Sebab aku tak mau kehilangan...
Aku tak rela melepas semua mimpi yang telah terbentuk.
Meski hanya sebatas penggemar rahasianya.
Dan walau hanya berbentuk mimpi.
Hidup ini serasa berwarna ketika aku memikirkan nya...
Karna ini cinta...
Yang hadir tanpa kenal jarak pandang.

Meski lama dia hidup dalam mimpiku.
Tak apa lah...
Sebab kehadirannya mewarnai seniku.
Aku yakin...
Ini bentuk karunia tuhan yang maha Esa


Jakarta, 4 Desember 2016
12:15 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Sabtu, 03 Desember 2016

Malam Sabtu Bersama Ibu

Kupetik dawai gitar...
Bersama ibu, aku bernyanyi malam ini.
Merdu dan asri terdengar.
Hingga akhirnya waktu yang mengakhirinya.
Ya, ibuku adalah orang yang pandai bernyanyi.
Akankah malam ini melarutkan segalanya...

Berganti nada merdu ke ceria...
Tampak jelas dimatanya ku lihat haru.
Sebab ia sangat menghayati setiap nada yang terlontar.
Dan dia adalah ibuku...
Sosok wanita yang tabah merawatku.
Hingga kini, aku sepikiran dengan hidupnya...
Sosok yang bisa kunilai melankolis koleris.
Yang jika ku telusuri jalan hidupnya...
Sifat melankolisnyalah yang turun padaku...
Aku sangat menyayanginya...
Pipalupi Rahayu...

Ya tuhan, keberkahan ini sungguh takkan ku lupa.
Dan aku bersyukur padamu atas malam ini.
Aku bisa berkolaborasi dengan merdu...
Bersamanya bernyanyi di malam sabtu...
Ibu...

Jakarta, 3 Desember 2016
01:16 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 02 Desember 2016

Bulan Dan Bintang

Malam yang damai...
Aku terduduk memandang orion yang hadir malam ini.
Mereka hadir membentuk garis khayal yang tinggi.
Dan aku hanya memandang mereka 5 bintang.
Yang saling terhubung membentuk jarum kompas.
Mereka memiliki dua arah pandang berbeda.
Dua prinsip dan ideologi yang berbeda.
Kirana...

Meski kita terpisah jarak dan waktu...
Aku yakin kita sepikiran dan sependapat.
Saling rindu dan ingin bertemu.
Mengingat kita adalah lima bintang...
Yang di ikat erat menjadi satu rasi bintang nan menolek.
Dan terpampang jelas di atas malam kelam.
Yang memang asri dilangit bersama bulan lingkar penuh.
Yang kala itu, kita saling mengisi dan bermain bersama.
Membuat suasana indah malam hari...

Kala itu, Kita tenang berdampingan di atas langit.
Mungkin itu takkan terulang...
Memang waktu terus menelan semua yang ada.
Kirana dan purnama...
Hingga akhirnya semua berpencar mengejar masa depan.
Aku rindu kalian...

Perpisahan memang pasti terjadi...
Aku yakin, meski raga berpisah, Kita tetaplah rasi bintang.
Yang asri berpadu dengan Bulan purnama.
Tampil di dalam segitiga malam...
Tetap hidup membina belantara...
Dan aku rindu kalian semua berkumpul seperti dulu.
Lagi...

Jakarta, 2 Desember 2016
12:34 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Kamis, 01 Desember 2016

Tentang Pesannya

Desember Pagi...
Awal bulan yang baik dengan lantunan musik.
Di musim penghujan, dibalik mendungnya awan.
Jakarta kini diselimuti deru hujan...
Meski pintu yang tertutup di penghujung langkah.
Ketenangan kini membawaku keluar dari mimpi.
Namun benih itu masih tertanam baik...
Dan aku memutuskan untuk berhenti melangkah.
Ketika pintu hampir tertutup...
Berat rasanya untuk meninggalkan ruangan ini...
Dan aku biarkan itu tertutup mengurungku disini.

Kata-katanya memberikanku pelajaran berharga...
Meski sempat aku menangis.
Pesannya membuka hal baru yang bisa aku terima.
Katanya bijak seperti prilakunya.
Dan dia adalah orangnya...

Desember membuka segalanya...
Ketika dini merasuk ke dalam sukma.
Saat itulah kedamaian melarutkan segalanya.
Dan aku memutuskan untuk tetap disini.
Hidup bersama pandangan baiknya.
Disana...


Jakarta, 1 Desember 2016
12:35 A.M.
Gamal Johanes Perdana