Kamis, 18 Agustus 2016

Tak Perlu Pusing

Aku berjalan tanpa arah...
Tanpa tujuan...
Tanpa pikiran...
Aku santai sebab aku merasa doaku dikabulkan...
Menurutku allah telah mengabulkan doaku...
Ya, aku percaya dia ada.

Mereka sudah senang...
Dan kini hanyaku lah yang tersisa.
Entah besok aku mau jadi apa?...
Aku tak peduli.
Sebab yang aku pikir sekarang adalah harta.
Aku bodoh dan terbatas...
Jadi, ku serahkan saja semuanya pada tuhan...
Aku yakin dibalik ini semua...
Ada jalan terbaik yang ia kasih...
Tak perduli...
Sebab negri ini aneh...
Dan sekarang aku hanya punya niat.
Jika ditanya mau jadi apa aku?...
Aku akan jawab...
"Aku mau jadi apa yang aku suka, dan apa yang aku mau. terserah, itu urusanku, tak perlu di ambil pusing"

Jakarta, 17 Agustus 2016
11:45 P.M.

Gamal Johanes Perdana

Selasa, 16 Agustus 2016

Aku Dan Kepalan Tanganmu

Sedikit kehancuran terjadi...
Sebab aku benci kepalan tanganmu.
Sedikit pemberontakan kujalani.
Sebab aku ingin bebas seperti mereka.
Dan akhirnya...
Semua berantakan meski telah  kubenahi.
Tetap saja hancur sampai ke hati.
Hanya karna kau kepalkan tanganmu.
Untukku...

Sebungkus roko...
Secangkir kopi...
Sebotol beer...
Meski aku telah terhempas melayang.
Sempat membuat Mabuk dan gila...
Aku tak bisa lupa akan kehancuran hati ini.
Dia marah dan tak menghubungiku lagi.
Entah dia bosan atau jenuh.
Aku benci kepalan tangannya...
Masalah ini serius...
Aku tak mengerti mengapa dia mengepalkan tangannya untuk ku.

Senja tenggelam...
Aku baru terbangun dari sisa mabuk semalam...
Badan ini lebam sebab aku alergi alkohol.
Tapi apa boleh buat...
Aku flustasi akan kepalan tangannya.
Terlalu....
Apa itu yang disebut cinta...
Aku tak mengerti apa yang dia perbuat...
Jika sayangg, bukan itu caranya...

Senin, 01 agustus 2016
04:32 am.

Aku Tak Peduli

Aku iri dengan mereka...
Aku iri dengan kekompakannya...
Cara mereka berpasangan dan saling mengisi waktu.
Cara mereka saling menemani satu sama lain.
Indah melihat mereka bahagia...
Aku iri...
Entah mengapa aku tak bisa seperti itu dengan kamu.
Aku sedih...
Cinta bagaikan bui.
Aku benci hal yang membatasi cinta ini.

Aku iri melihat cara mereka berpasangan...
Bahagia berlari dan bermain lepas.
Bebas seperti merpati.
Aku ingin seperti mereka...
Tapi tak pernah bisa...

Kamu masih terlalu kecil otaknya.
Lalu kapan lagi aku harus menunggu?..
Mau sampai kapan kita seperti ini...
Tak pernah berkreasi, selalu saja takut dan ragu...
Jangankan kreasi, kenal keluargaku aja tidak...
Jujur, aku tak akan lagi mengharapkanmu...
Biar, hati ini terlalu sakit untuk menunggu...
Aku masih kuat menunggu.
Tapi aku menunggu kau meminta...
Aku tak ingin memohon lagi untuk kau temui orangtua ku...
Biar kau dewasa dengan sendirinya...
Aku tutup pintu permohonan itu sebab aku tak ingin menjadi lelah.
Aku telah menunggu dengan sabar...

Sekarang...
Jika kau tak terima ku seperti ini.
Lupakan sajalah aku...
Anggaplah aku bukan siapa siapa...
Lagi pula aku bukan orang yang kamu inginkan...
Aku cacat di matamu...
Biarlah, bila di perhatikan kau selalu mengelak...
Lebih baik taperduli sekalian...
Aku tak ingin lagi turuti katamu, sebab kamu egois...

Jakarta,16 Agustus 2016
01:00 A.m.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 15 Agustus 2016

Angin Pantai

Sunyi sepi senyap...
Jika ditanya gunung atau pantai?..
Aku akan pilih gunung...
Sebab kehidupan disana lebih keras dan jauh dari peradaban.
Baru saja kemarin lusa ku pulang...
Lalu lagi lagi aku rindu berkelana...
Sebab aku tak pernah merasa puas.
Akan semua langkah kaki ini.
Meski karang telah merobek telapak kaki.
Takpernah ku temui jera...
Aku luka bahkan aku lupa...
Sebab cintaku terhadap alam begitu besar.

Hai deburan ombak...
Hai desiran pasir...
Bisikmu membuatku sejuk dan nyaman.
Di bawah sinar bintang, aku termenung menyendiri...
Melimpahkan semua hal yang ada di dalam dada...
Bersama bintang, aku melayang dan berkhayal...
Ku tebar umpan dan ku tarik benang...
Hal yang begitu indah...
Ketika hujan menghapus garam...
Ketika itu ku tidur dengan butiran pasir putih...
Dan segelas kopi hangat di tepi pantai nan mempesona...

Pulau pari.
12 Agustus 2016
02:21 A.M.

Gamal Johanes Perdana

Minggu, 14 Agustus 2016

Oma

Waktu terlalu cepat menelan semuanya...
Mereka yang baik, dan orang yang ku sayangi...
Waktu terlalu jahat untuk di jalani...
Ketika satu persatu pergi...
Pula meninggalkanku untuk selamanya...
Aku benci akan semua ini, sebab waktu menelan orang yang ku cintai...
Terlalu serakah,...
Akankah secapat itu beliau pergi...

Ya tuhan...
Aku benci akan kenyataan ini...
Terlalu cepat dan kejam.
Sebab sesal menghujamku bertubi-tubi.
Belum sempat ku balas jasanya...
Belum sempat ku lihat wajahnya...
Belum sempat ku kecup wajahnya...
Dia pergi...
Tidur selamanya...
Semoga langkahnya tenang di sana...
Semoga allah menyertai doaku dan amalnya.
Oma...
Terlalu cepat engkau meninggalkan aku...
Sampai jumpa...
Satu saat nanti...
Kita akan bertemu lagi...
Di lain waktu, dilain tempat....

Jakarta, 14 Agustus 2016
10:02 am
Gamal Johanes Perdana

Rabu, 10 Agustus 2016

Bisakah Diri Menempa Hati

Bisakah diri ini...
Berlari dan mengejar asa lagi...
Aku punya cita mulia katanya...
Apakah negri ini hannya untuk orang kaya?..
Lalu apa akhirnya aku kan jadi budak...
Atau sampah?...

Lalu jadi apakah angan ini?...
Biar kutuliskan apa mauku...
Aku inginkan strata pend. geo...
Lalu ikut serta pengabdian ke pelosok...
Melalui organisasi indonesia mengajar...
Mengabdi kepada negara ini...
Yang katanya beliau...
Negara ini negara kapitalis...
Pantaskah aku orang susah mengabdi?...
Apa perlu menanam saham?
Ataukah perlu keluarkan uang banyak untuk semua...
Aku tapunya itu...
Aku hanya punya semangat belajar...
Jika diiringi dengan mencari uang...
Aku takan kuat sebab aku hanya ingin mengabdi...
Bukan menerima suap nantinya...
Aku cinta negri ini...
Indonesia.

Gamal Johanes Perdana
Jakarta, 10 Agustus 2016
11:37 P.M.

Kamis, 04 Agustus 2016

Waktu

Jika dilihat...
Mesin waktu melesat begitu cepat.
Dan yang lalu.
akan menjadi satu kenangan lampau.
Berdetuk seperti langkah.
Kala berdenting lalu berketuk lagi....
Berjalan tanpa henti...
Dan melangkah pergi.
Hingga jantung ini mati.

Waktu...
Tak berkata, hanya berkerja.
Ia hidup abadi bersama perubahan.
Hingga aku berfikir bahwa waktu terlalu cepat berevolusi.
Ulat tiada henti...
Dan diri ini...
Masih mencari ramuan abadi.
Sebab logika bertanya...
Apakah ada kehidupan setelah kematian?...

Bila boleh ku pinta...
Aku tak ingin ada kematian di dunia ini.
Hidup ini terlalu indah tuk di tinggali.
Meski dalamnya terdapat suka duka.
Aku mengerti...
Seni kehidupan adalah satu keindahan.
Aku tak ingin mati...
Meski fakta berkata aku akan rasakan kematian esok.
Sungguh, aku tak ingin itu terjadi...
Meski di beri waktu seribu tahun pun.
Aku takkan siap mati...

Fakta...
Di setiap makhluk bernyawa.
Pasti akan mengalami kematian.
Dan waktu...
Tetaplah waktu yang terus berevolusi.
Abadi dan takkan mati...