Rabu, 21 September 2016

Untuk Tersayang

Sebelumnya...
Aku belum pernah menyangka kalau. Sejauh ini kita berjalan...
Sejauh ini kita berlayar...
Tapi entah kapan kita akan berlabuh.
Seperti ini kita menganyam cinta...
Sempat pula mengenyam dusta...
Pait rasanya... Perih.

Belum sempat ku menoleh...
Kau tampar lalu...
Kau peluk aku erat.
Oh, cinta...
Belum jua kutemukan jenuh...
Jika benar doa dan restu mengiringi...
Apa benar itu kan terjadi nanti.
Jika kau benci katakan...
Sebelum aku yang membencimu esok...

Cinta...
Sungguh tiada dua..
Tuhan memang mempertemukan kita.
Dia menjaga keutuhannya...
Meski sempat tertelan ombak...
Dan disapu badai...
Bahkan hampir 5 tahun aku mengenalmu...
Dari remaja...
Hingga dewasa...
Cinta tetap hidup dalam hati.
Cinta tetap ada disaat duka.
Cinta tetap hinggap di sanubari.
Dan cinta...
Mewakili rasa sayang aku yang ada...
Zahra Nadifa...

Jakarta, 21 September 2016
01:28 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Selasa, 20 September 2016

Pengabdian

Hai indonesia...
Hai negaraku.
Hari ini hari pertama aku kuliah.
Di tempat yang buruk menurut mereka.
Namun tidak untukku.
Yahh, aku telah terbuka pikirannya.
Semangat yang baru...
Dan pola pikir dewasa...
Tetap sama cita-citanya...
Pula murni tujuannya...
Mulia kata orang...

Entah kenapa hidup itu seperti labirin.
Sedangkan keinginanku melenceng...
Cita-cita yang semula ingin menjadi guru.
Sempat berantakan...
Lalu aku ubah rancangannya.
Sebab uang...
Impian itu hampir sirna.
Lagi kutemukan pelita...
Lagi motivasi melintas bersama ide.
Ya, itulah ide...

Aku berhutang dengan negara ini.
Satu saat nanti...
Setelah aku lulus strata satu...
Aku ingin mengabdi ke pelosok negri.
Aku ingin menjadi guru tanpa pamrih.
Meskipun sulit...
Meskipun rumit...
Aku yakin, tuhan memperkenankan...
Jangan bertanya berapa upah di negri ini...
Tapi bertanyalah, apa yang telah aku berikan untuk negara ini...

Jakarta, 18 September 2016
07:04 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 16 September 2016

Lagi Dan Lagi

Ada hal yang indah.
Ketika dawai memancarkan nada...
Ketika sajak terlontar....
Ketika mata membaca...
Ketika batin merasakan...
Ketika otak membayangkan...
Ketika suasana hangat dan haru...
Dan semuanya terhapus luka.
Lagi...

Aku rasa ada yang salah...
Ketika perasaan ini menjelma.
Ketika aku lupa...
Bahkan berusaha lupa...
Ketika lagi...
Ketika aku berjuang untuk lupa...
Bahkan keringat dan darah jatuh...
Tak ada hasil...
Ini virus atau bakteri...

Ya tuhan...
Aku benci perasaan ini.
Apa lagi yang harus ku perbuat?...
Jika engkau tak mengizinkan aku untuk lupa dia...
Apa rencanamu dibalik semua ini?...
Hati ini...
Rindu ini...
Perasaan ini...
Huhhh sudahlah...
Biarlah jadi derita pribadi.

Jakarta,16 September 2016
04:13 A.M.

Selasa, 13 September 2016

Pesan Angin Lembah

Udara sejuk penuh membawa makna.
Meniup aku yang terduduk santai...
Ku lipat tembakau, lalu ku bakar.
Ditemani secangkir kopi hangat...
Dan lagu yang merdu di telinga.
Itulah aku...
Yang membaur pada alam...
Pula saudara dan kawan.

Bisingnya canda tawa mereka.
Mengganggu aku yang termenung...
Memikirkan satu memo kala itu.
Tapi apa yang aku pikirkan tak seindah itu...
Semua harapan dan impian yang sirna ditelan waktu...
Dan kini aku kenang, bukan berarti aku menyimpan...
Aku hanya ingin melupakan perlahan.

Angin lembah bertiup membawa air.
Membawa kabut, dan membutakan mata...
Aku tapeduli...
Seberapa sempurnanya kamu dimata ini...
Cinta itu bukan hal yang buta...
Ia punya mata dan telinga sama seperti kita.
Selalu ada ruang pemisah yang jelas tak bisa kita lewati.
Lagi pula...
Semua ini sudah selesai.
Dan luka...
Biar alam yang menghapusnya.
Secara perlahan namun pasti...

Gunung bunder, 11 September 2016
04:46 P.M.

Rabu, 07 September 2016

Malioboro

Aku datang dengan hangat...
Berkendara dua, melintasi kota.
Kota nan asri pula damai...
Itulah malioboro...

Meski langkah kaki terlalu rentan.
Aku tetap ingin mengenal kau...
Kota nan santun.
Tak ada bising, tak ada anarki.
Benar yang orang katakan...
Malioboro terlalu indah untuk di tapaki.
Sebagai titik ujung perjalanan...
Malioboro berikan hal terindah atas perjalananku.
Kedatanganku disambut hangat oleh lantunan musikmu.
Untuk malioboro....
Terimakasih atas ceritamu nan anggun.
Aku rindu akan suasanamu.
Nanti aku kan kembali lagi...

Malioboro, 07 September 2016
12:35 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Sumbing Yang Mengakhiri

Malam yang dingin...
Aku belum bisa tertidur disini.
Sumbing baru saja selesai bercerita.
Tentang aku yang dulu...
Tentang aku dua tahun lalu.
Mencintai seseorang di 3371 Mdpl.
Ketika indah dan sakit bersatu padu.
Yang saat itu...
Pena menari membentuk bait kata.
Aksara indah di atas aldaka.
Tak akan ada yang bisa merasakan...
Kala itu hanya akulah.
Yang terhempas  dan tergelincir.
Sakit...

Aku bisa gambarkan hal yang pahit.
Tapi kuyakin tak ada yang samggup.
Sungguh...
Aku seperti bermimpi  dua tahun lamanya...
Dan aku sadar kalau semuanya semu.
Ketika aksara tak mampu...
Rekam suara tak ampuh...
Di terugkap pun menambah parah...
Elaplorasi tal bisa...
Dan terakhir sumbing...
Ku susuri jalanku,..
Dan ku buka memo.
Ku bersujud di puncaknya...
Aku menangis kesakitan...
Aku takkan ingin kenal dirinya lagi...
Mencintainya bagaikan abu...
Bahkan seperti laut.
Ketika sumbing menyembuhkan...
Ketika itu aku meminta.
Jangan lagi aku terpkat hatinya...
Cukup dua tahun...
Itupun sudah terlalu lama buatku...

Garung, 05 September 2016
23:06 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Surat Angin

Hai sumbing...
Malam yang cerah...
Sepoi angin bertiup dari timur laut.
Membawa suhu rendah hampir di titik nol.
Dan aku disini,,,
Masih mendengarkanmu bercerita.
Tentang memo yang terlupakan...
Sangat indah kisah itu...
Aku benci mengingatnya.

Dua tahun yang lalu...
Kisah cintaku diwarnai oleh savana kering.
Cinta ini bisa ku bilang cinta terselubung.
Sebab aku hanya bisa memandangnya.
Dan batu yang ku pijaki...
Tetaplah batu yang menjadi saksi bisu.
Dan saat ini...
Engkau terlalu sulit untuk ku naiki.
Hampir setiap jam kabut dan air menutupi langkah.
Kau berubah sumbing...
Namun memo itu masih rapih tersimpan.

Aku ingat,..
Pasar watu adalah satu tempat...
Dimana aku memandanginya dengan cinta.
Watu kotak pula tanah putih...
Kesejukan memukau dan kehangatan yang membakar...
Meski sulit ku terjemah.
Tapi sumbing adalah tempat terindah menurutku.
Bersama memo...
Biar ku ingat kembali.
Sebagai bukti kalau aku bisa terima kenyataan...

Seduplak Roto, 04 September 2016
09:28 P.M.
Gamal johanes Perdana

Sabtu, 03 September 2016

Kembali

Kembali...
Aku menaiki sumbing.
Lagi dan lagi...
Aku membuka kenangan lampau manis.
Oh sumbing...
Memo itu masih tersimpan rapih.
Di sini...
Sumbing menceritakan semuanya.

Kala itu...
Kala dingin menusuk.
Kala cinta merasuk dan mengetuk...
Dia bersama hangatnya.
Yang kala itu...
Aku terjerat dan terikat di hatinya.
Tak bisa lepas tak bisa napas.
Terbawa begitu larut.
Oh cinta, kala itu derita melalang buana...

Kembali...
Bersama sejuknya mimpi.
Membawa cerita tentang...
Aku yang terpikat pandangannya.
Yang kala itu akulah yang memuja dirinya.
Dia tidak tau besarnya.
Yang dia tau hanya katanya...
Dia tidak tau rasanya.
Yang dia tau hanya tulisannya...
Cinta dan cita.
Semua telah larut di atas laut...
Terbawa ombak lalu hilang di telan garam.
Hingga aku dewasa dan sadar...
Kalau mimpi itu teralu jahat untuk aku raih.

Sumbing bercerita...
Kala itu tak lepas pandanganku padanya.
Yang sempurna di mata...
Wibawa di hati...
Bahkan jutaan kata terangkai sebab aku ingin lupa...
Sampai akhirnya bisa.
Sumbing mengajarkan semuanya.
Dan aku kembali untuk mengenang.
Cinta yang ku pendam...
Tetap menjadi mimpi yang ku lupakan.

Hai sumbing...
Aku kembali sebagai bukti.
Kalau aku bisa menerima kenyataan.
Aku memang tak pantas untuknya.

Sumbing, 03 September 2016
11:45 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Traveler

Datang, lalu pergi...
Menembus udara melewati kota.
Berjalan seperti musafir.
Lewat meski tak jua mampir...
Itulah aku, dan kehidupanku...
Tak terencana, namun ada titik tuju...
Tak bosan...
Pula tak jua ku temukan jenuh...
Pergi dengan ilmu.
Tanpa uang tanpa materi...
Bisa dibilang apa adanya....

Hanya bermodal pengalaman dan semangat.
Bertualang memang itu hobiku...
Sosialisasi...
Dokumentasi...
Produktif...
Aktif...
Inisiatif...
Dan imajinatif....
Hanya itu modal yang aku bawa...
Menuju sumbing.
Dan kenangannya disana...

Tasikmalaya, 03 september 2016
12:23 A.M.
Gamal Johanes Perdana