Kamis, 16 April 2026

Badai laut dan hutan

Badai laut...
Menyapu sebuah pesisir dan semua isinya.
Menciptakan gulungan ombak tinggi.
Menghantam segalanya yang ada di tepian.
Kekuatannya tinggi, datang bersama hujan dan angin.

Evaporasi hutan membuatnya bergemuruh.
Menderu saat dahan rantingnya tertiup angin.
Badai ini sangat merusak...
Bakau yang hancur dan mengeruh.
Kapal yang terangkat ketepian.
Dan lamun yang terdampar...

Di muara itu, sungai terputus...
Bagaimana bisa cuacanya begitu buruk sedari pagi.
Misterinya, siklon yang bergerak dan meluas.
Dia akan mati pada waktunya.
Dipecah hutan dan segala floranya.
Meredup, dan kembali cerah.
Larut bersama semua nutrisi yang dibawanya.

Jakarta, 16 April 2026
06.33 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Selasa, 24 Maret 2026

Padang lamun

Arus laut yang tenang di sebuah padang lamun.
Yang bersih, melantun bersama biotanya.
Hangat hidup di dalam suasananya.
Menumbuhkan segala misterinya.
Larut dalam sebuah kekayaan batin.

Bioma ini sangatlah mempesona.
Ada di dalam dirimu, yang merawat lingkunganmu.
Nyaris tak teratur dan alamiah.
Karangmu telah memecah gelombangnya jauh.
Biotanya hidup dengan damai dan seimbang.
Para ikan berlindung...
Penyu berkembang...
Alga bertumbuh...
Semuanya ada dalam padang lamunmu.
Yang kamu bentuk atas dasar idealisme.

Jakarta, 24 Maret 2026.
09:35 P.M.
Gamal johanes perdana


Matahari yang menjadi samudra

Aku bukanlah orang yang aku kenal dulu.
Sekitar 3-4 tahun yang lalu.
Saya cukup periang, idealis, dan sangat dinamis.
Dan sedikit demi sedikit itu semua tergerus.
Sampai di akhir akhir ini saya bertanya pada diri sendiri.
Mengapa bisa sejauh itu saya berubah?
Saya selalu mencari motif dan alasan dibaliknya.
Tapi tak temukan maknanya.

Saat ini, saya adalah orang yang selalu mengamati atmosfer lingkungan.
Nyaris sulit terbawa suasana.
Sosial energi yang mudah habis.
Dan lebih banyak menarik diri dari lingkungan dan keluarga.
Hanya sedikit sekali orang yang bisa masuk ke internal.
Itupun mereka punya batas jelas.

Kehidupanku saat ini lebih banyak mendalami pikiran.
Terkadang jika terlalu berisik.
Olahraga adrenalin adalah hal yang saya lakukan.
Hanya untuk sebuah pelarian.
Dan saya masih tidak mengenal saya saat ini.
Mengapa dan kenapa?
Saya tidak setress, tidak sedih, dan tidak memiliki minat apapun.
Saya hanya sedang di fase tenang dan damai.
Lalu...
Mengapa perubahan ini semakin jelas melahap jati diri ini?



Jakarta, 24 Maret 2026
06.55
Gamal Johanes Perdana

Selasa, 27 Januari 2026

Tentang Samudra yang Belajar Menumbuhkan Karang

Jika kamu bertanya apa Love Language untukmu. Jawabannya adalah seberapa besar kamu mengetahui semua tentang diriku. Bagiku privasi itu adalah nomor satu dan aku adalah orang yang hidup seperti laut. Hanya sedikit orang yang mengetahui banyak tentangku, bahkan hanya sekedar memahami pola pikirku yang unik ini. jadi, semakin dalam orang itu mengetahui sifatku yang unik dan random, berarti itu adalah bahasa cinta yang dibalut dengan sebuah kepercayaan. Dia adalah orang yang pernah melihatku menangis, marah, sedih, senang, senyum, antusias, dan ada. Bagiku itu adalah sebuah kepercayaan besar tentang kerentanan perasaan yang benar-benar murni tanpa filter yang keluar dari diri ini. Dan jika kamu masih bertanya apakah aku mencintaimu?... Jawabanku hanyalah, "sejauh ini berapa banyak dan berapa dalam yang kamu tahu tentang diriku dan tahu semua tentang semua kelemahanku". Karena semakin banyak seseorang mengetahui kelemahanku tandanya orang itu adalah orang yang aku percaya. orang itu yang bisa membimbing dan aku percayakan untuk mengarahkanku secara penuh. Aku adalah orang kosong yang perlu dituntun hidupnya. Bagiku, membiarkanmu memahami isi kepalaku bukan sekadar berbagi cerita, tapi memberikanmu kunci untuk masuk ke labirin yang selama ini aku jaga ketat gerbangnya. Kepercayaan ini adalah bentuk penyerahan diri yang paling mutlak.

Ini adalah sebuah cinta yang sangat idealis. Aku akan mengorbankan semuanya yang aku punya dari waktu, tenaga, kehadiran, support, dan bahkan telinga di saat kamu menangis. Dan jika kamu bertanya apakah aku masih mencintaimu?... jawabannya sudah jelas bahwa sejauh ini kita saling bertukar pikiran saling membebaskan satu sama lain, saling memperhatikan satu sama lain, bahkan tidak jarang bahwa kita memiliki kontak batin yang kuat diantara kamu dan aku. Dan bahkan hal yang paling krusial di hidup aku adalah titik lemah, di mana emosi mentah dan segala kerentanan diri ini bisa terlihat jelas dihadapan matamu. Bagi orang yang mengutamakan logika sepertiku itu adalah sebuah aib yang tidak boleh sembarang orang melihat itu. Menunjukkan kelemahanku di hadapanmu adalah cara termurniku untuk berkata bahwa aku mencintaimu. Karena hanya padamu, aku berani menanggalkan logikaku dan membiarkanmu melihat sisi manusiawi yang paling rapuh. Aku hanya terlihat seperti manusia biasa dan memiliki perasaan yang benar-benar mentah, dan hanya di beberapa lingkungan orang yang mengetahui itu. Dan perwujudan emosi itu pun berlapis, Karena hati itu sangat dalam dan banyak orang yang hanya tahu soal permukaannya saja. Seperti pada tulisan ini.

Aku adalah samudra yang mulai menumbuhkan karangnya, menjaga biotanya dan memperkaya kandungannya. Jika kamu ingin menyelaminya, kamu harus bersiap dengan tekanannya. Jika kamu ingin mengarunginya, kamu harus siap badainya. Dan jika kamu ingin menikmati keindahannya kamu harus hidup dalam pikirannya yang luas. Lautan sangat membenci orang yang merusak. Jika ada yang membuang sampah di dalamnya, dia akan menerimanya kembali dengan utuh. Jika ada yang merusak karangnya, dia akan ditelan oleh biotanya. Dan jika ada yang memicu ledakan di atasnya, mereka akan terima gelombang balik sebagai pembalasan. Dan lautan akan selalu menjaga isinya dan juga takdir hidupnya. Maka, bermainlah denganku di permukaan yang tenang atau riak ombak yang kecil. Lalu masuklah ke dasar terdalam, di mana hanya ada kesunyian dan kejujuran. Jika kamu sanggup bertahan dalam tekanannya, kamu akan menemukan seluruh duniaku tersimpan utuh di sana hanya untukmu.




Jakarta, 27 Januari 2026
09.27 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Selasa, 20 Januari 2026

Pesan Untuk Penjaga Mercusuar

Aku tau kamu sedang tidak baik-baik saja.
Di tepi pantai sebagai penjaga lautan yang dingin dan luas.

Jika kamu butuh teman untuk di dengar.
Pandanglah bintang utara itu.
Dia masih menjadi pengamat setiamu di langit.
Gelap bersama luasnya cakrawala.
Mimpi dan wataknya tidak banyak berubah.

Sejak pertama terlupakan...
Dia tetap disana mengawasimu.
Setidaknya memastikan bahwa kamu masih ada.
Menjaga lautan yang gaduh dan tenang.
Ditiup angin dan kadang di terpa badai siklon.

Tuliskan sajakmu lagi...
Lemparkan botol itu pada laut yang tenang.
Biarkan arus yang membawanya padaku.
Atau biarkan laut yang menelannya.



Jakarta, 20 januari 2026
05.58 A.M.
Gamal johanes perdana

Selasa, 30 Desember 2025

Barisan Bintang

Aku masih duduk di bawah barisan bintang desember.
Menikmati fantasi malam dengan intuisiku.
Dan masih menggenggam erat nilai yang terbentuk padamu.
Dibawah sinarnya yang kamu puja...
Ada harap yang tercipta dengan sangat baik.
Kamu sangat menikmati ketenangan setelah peperangan panjang.
Malam ini...
Kamu hidup penuh damai dalam intuisi yang selama ini menuntunmu.
Dan tetap menjadi yang paling tenang menuntun.
Kamu menikmati semuanya...
Di tahun ini.
Kamu mendapatkan jawaban yang kamu inginkan selama ini.

Gn. Luhur, 30 Desember 2025
03.34 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Mimpi kecil yang menjadi nyata

Bagaimana jika benih itu tumbuh lebih baik.
Atau...
Memang ada untuk menghiasi dunia yang tidak terduga.
Sepertinya...
Aku melihat ada yang tumbuh didalamnya.
Entah itu baik atau buruknya.
Semua pasti memiliki makna didalamnya.

Langkah kecil mereka terlihat beriringan.
Dengan suksesnya rencanamu.
Entah apa ini artinya.
Jikalau memang suaranya sudah jelas tentang tumbuh.
Hal yang paling berat adalah...
Menjaga apa yang sudah tumbuh.
hingga menjadi benih di kemudian hari.

Siklusnya akan berulang, tapi tidak dengan kisahnya.


Gn. Luhur, 30 Desember 2025
01.17 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 08 Desember 2025

Empati Dan Emosi

Hal yang saya ingat dan tak akan pernah mungkin saya lupakan. Hari itu adalah hari dimana aku merasa sangat terpuruk. Di akhir desember tahun lalu. Tenangnya pagi tak mampu menutupi riuhnya hati yang lelah dan bergejolak tak terkendali. Mungkin karna hati yang terlalu banyak menguras energi atau memang aku yang banyak di salah artikan orang lain. Tapi pada pagi itu adalah pagi dimana aku sedang tidak baik-baik saja dan tidak bersuara apapun untuk membela diri. Aku merasa semua orang menyerangku atau banyak hal kabur yang tidak bisa aku bedakan mana yang membenci dan dipihakku. Dan di belakang sebuah rumah sederhana itu aku merenungkan banyak hal tentang jerih payah yang ku anggap sia-sia kala itu.

Ditenangnya pagi dan membaranya hati. Aku sangat tidak menyangka kalau hal kecil dari sebuah empati yang tidak sengaja kutanamkanlah yang akan membuatku bangkit dan berdiri lagi bahkan sembuh secara perlahan. Berawal dari mereka yang baru saja dilantik, datang mendobrak tempat persembunyianku, dia mengucapkan terimakasih dengan riang layaknya anak polos yang baru tau dunia dan semangat yang hidup. Aku menahan haru yang kuat saat itu, pikirku adalah "ternyata saya masih memiliki harga disini". Mereka yang paham ternyata tau bahwa aku sedang lelah dan terpuruk meskipun aku tak berkata apapun. Empati adalah bahasa asing untukku, sebab aku tumbuh di lingkungan dan didikan yang minim empati dan cenderung keras. Kemudian, dua orang senior di atas saya datang menghampiri dan berbincang dengan saya, setelah itu beberapa senior tua datang dan untuk berpamitan pada saya. Saat itu saya berasa bahwa beban yang saya pikul banyak di angkat sedikit demi sedikit. Hari itu akan selalu saya ingat, siapa saja orangnya dan akan selalu saya ingat.

Empati adalah hal yang asing untuk saya, dan emosi adalah hal yang paling saya benci dari diri ini. Tapi seiring berjalannya waktu, kejadian itu membuat saya banyak bertanya soal emosi dan empati. Sebab secara naluriah, dua bahasa itu adalah bahasa asing yang saya tidak mengerti fungsinya. Sampai di tahun ini, saya membuat beberapa eksperimen sosial kecil soal empati dan emosi. Yang secara singkatnya kedua itu adalah hal yang menjadikan manusia menjadi manusiawi, emosi dan empati adalah alat yang menghubungkan batin manusia dengan manusia lain. Beberapa orang memperkuatnya dengan intuisi. Lalu saya bertanya, apakah saya bisa memiliki alat itu? Dan apa yang membuat saya tidak memilikinya selama ini? Pola didik orang tualah yang membuat saya tidak mengembangkan sisi empati dan emosi, ketika saya dilepas pada dunia yang ternyata damai, tentram, dan demokratis membuat saya merasa kalau ini aneh, bukankah perang tidak akan pernah usai?

Di tahun ini, pada akhirnya saya melepas genggaman pedang itu dan mulai belajar banyak soal empati dan emosi, memang agak menguras tenaga, tapi saya juga ingin marasa terhubung dengan orang yang mungandalkan ini sebagai komunikasi batinnya. Meskipun tidak sekuat orang yang memang memilikinya secara alami, namun saya sudah mulai bisa mengandalkan logika yang dipandu oleh intuisi alamiah saya. setidaknya, saya juga ingin dipandang sebagai manusia layaknya manusia yang berempati dan eq tinggi. Saya tau ini akan sangat menguras energi, tapi itu sudah saya tekatkan sejak saat saya terpuruk kala itu. Saya tau bahwa ada hal penting yang terlewat selama ini.

Jakarta, 08 Desember 2025.
03.58 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 01 Desember 2025

Sudut paling tenang dari sebuah mimpi

Harifahnya, manusia memang adalah mahkluk yang penuh teka-teki. Aku adalah orang logic yang sedang memecahkan algoritma tersulit di dunia tentang intuisi dan over thinking manusia. Selama ini aku menggunakan logika sebagai kompas dalam menganalisa. Tapi, satu waktu intuisi kuat memberi aku petunjuk akan satu hal. Semua itu muncul tanpa informasi kongkret di kepala, naluriah, dan spontanitas terlintas.

Jakarta, 01 Desember 2025.
10.22 P.M.
Gamal Johanes Perdana


Selasa, 18 November 2025

Rasa Bangkit

Sekarang aku tau apa makna dari semuanya ini, aku sudah bangkit dan merasa lebih kuat saat ini. Setidaknya permasalahan lalu bisa menjadi pedoman dalam menyikapi segala hal yang berbau idealisme buta. Aku sudah banyak melakukan hal yang hebat sejauh ini.

Terima kasih untuk kalian semua, sekecil apapun support yang kalian berikan, akan selalu saya ingat sampai kapanpun. Semua tidak luput dari pandanganku.


Jakarta, 18 November 2025
09:33 A.M.
Gamal johanes perdana