Sebentar lagi desember tiba, bulan yang begitu kelam dan pahit ku kenal sejak aku beranjak sma hingga tahun kemaren. Begitu pula prediksiku tahun ini, mungkin pada tahun ini aku hanya akan terbeban oleh beberapa masalah keuangan, kuliah, dan cinta. Entah lah apa yang membuat semua ini menjadi bertolak belakang. Hidupku ini seperti terkekang oleh rantai yang tersangkut di kaki kanan. Aku bisa melihat betapa luasnya semesta, tapi aku tak bisa menjelajah jauh. Mungkin semua berawal dari hasrat keinginanku membangun masa depan yang lebih baik di tahun ini, hingga semua seperti ada dinding pembatas yang tak terlihat oleh mata. Ya semua aku awali dari angka 0 di januari 2017. Dan semua miliki kemajuan di pertengahan agustus. Hingga desember nanti aku akan tutup buku semua hal yang telah tercapai di 2017. Dan untuk desember nanti, mungkin aku akan lebih fokus untuk mementingkan segala kewajiban daripada keinginan.
Mungkin ini baru pertengahan november, tapi aku telah merasakan aura kelamnya desember nanti, dan ini adalah satu notifikasi untuk kehidupanku kedepan, agar aku bisa mempersiapkan diri untuk di akhir tahun nanti. Entah apa yang akan terjadi nanti, aku hanya berserah diri pada tuhan yang maha esa. Setelah melewati angka 25 di bulan desember, aku coba mulai menghitung segala tolak ukur yang telah aku capai di tahun ini. Dan bersiap membuat rencana di tahun 2018. Aku ingin kehidupanku semakin baik di tahun berikutnya.
Untuk november kemarin, mungkin hampir setahun yang lalu. Aku hanya titip salam, dan berdoa semoga semuanya tak berlanjut kekelaman ini. Aku tak ingin lagi merasakan hal yang ambigu menyelimuti batin yang kelam. Dan untuk desember kali ini, semoga kau tak menjadi awal desember yang buruk di tahun ini, dan tetap menjadi akhir desember yang tenang. Hingga aku memutuskan untuk menutup buku nanti. Desember 2017...
Jakarta, 18 November 2017
03:26 A.M.
Gamal Johanes Perdana