Rabu, 25 Desember 2019
Rona Senja Halimun
Jumat, 13 Desember 2019
Piskotropika
Minggu, 08 Desember 2019
Ruang Tenang
Rabu, 04 Desember 2019
Panteisme
Jumat, 29 November 2019
Hitam Pembius Waktu
Senin, 25 November 2019
Note
Senin, 18 November 2019
Senja
Kamis, 14 November 2019
Aku Yang Hina
Minggu, 10 November 2019
Sempurna
Selasa, 05 November 2019
Hujan
Tanah itu telah lama tak terbasuh kesegaran.
Dimana musim panas yang panjang membius segala perasaan.
Aku sempat lupa....
Kapan terakhir puisi terindah pernah tercipta.
Dimana melankolis akut yang menjangkit batin ini.
Dan obat penawarnya ialah menulis.
Segala yang pernah aku tulis pun aku tak ingat.
Sebab yang aku tau, setelah aku menulis lega rasanya.
Tentang apapun itu...
Hujan...
Aku sangat membenci aroma akhir tahun.
Dimana melankolis ini melonjak sempurna.
Hingga desember mengakhiri tanggalnya.
Jarang aku menemukan kebahagiaan di awal musim hujan ini...
Penderitaan yang indah bersama intuisi.
| Tak ada yang sepesial, namun ada yang sempurna ku rasa. |
Jakarta, 05 November 2019
02:39 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Senin, 21 Oktober 2019
Masih Belajar
Akan ada masanya dimana semua akan berbalik.
Yang ada akan tiada...
Yang berkecukupan akan kekurangan...
Yang di siakan akan dicari...
Yang jatuh akan bangkit...
Yang pernah sakit akan bahagia...
Begitu pun sebaliknya.
Aku tak ingin menilai mereka...
Bukan tugas manusia untuk menghakimi kekurangan orang.
Bagiku...
Yang rumit itu belajar hidup.
Bagaimana cara aku menghargai perasaan orang lain.
Dan bersyukur dengan apa yang telah kita raih.
Dan aku masih belajar untuk itu...
Jakarta, 21 Oktober 2019
07:52 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Kamis, 12 September 2019
Jenuh
Setelah vacum tiga bulan lamanya aku tidak jalan-jalan dan refreshing itu rasanya hambar. Dimana kehidupanku hanya berisikan kerja, belajar, bayar utang, main ke kampung baru dan sisanya menghabiskan waktu dengan tidur di ruangan petak berukuran 2x2x2.5 meter. Mengisolasi diri dan memikirkan hal-hal yang kurang penting. Aku bosan dengan kehidupan yang mengulang dari bangun, kerja dan tidur, Dunia ini terlalu serius untuk aku jalani. Aku butuh tempat yang baru, tidak melihat gedung, kendaraan macet dan polusi yang menutupi bintang-bintang di musim panas ini, dan tiga bulan ini aku anggap sangat membosankan.
Rasa ingin jalan-jalan ada sejak kemarin, tapi entah kenapa dengan jadwal kerja yang lebih flexible ini aku jadi sulit menemukan waktu pas untuk pergi jauh dari pusat kota. Terlebih soal dana, kerjaan pun terkadang menyita waktu, banyak sekali urusan yang menjadi beban. Semenjak hidup sendiri aku jadi tau rasanya kehidupan secara utuh. Dan intinya aku ingin pergi, sebab aku bosan ada didalam suasana yang terlalu monoton. Ingin rasanya berkemas lalu pergi selama beberapa hari untuk lepas penat yang ada di kepala ini. Terbebas dari beban kerjaan, dan pikiran soal skripsi.
Mungkin dalam dekat-dekat ini atau bisa jadi akhir bulan, aku sudah muak dengan urusan yang terlalu kompleks di bulan ini.
Jakarta, 12 September 2019
11:14 P.M.
Gamal Johanes Perdana
Selasa, 10 September 2019
Hampir Lupa
Aku lupa kalau akan ada pagi dimana semuanya tak sia-sia.
Semestaku tidak pernah bohong...
Aku telah membuang jauh itu semua.
Lalu kini, aku menoleh lagi...
Aku membongkar semua hal yang semu kurasa manis kala itu.
Aku baca bait-perbait...
Aku hampir lupa segalanya.
Lalu satu buku membangunkanku dari tidur panjang...
Semua yang pernah kala itu aku rajut, tulis, dan tumpahkan.
Memang tak se sia-sia itu.
Aku benci akan masalalu tapi aku pun rindu.
Yang aku benci adalah selalu ada kata mundur yang lahir kerap ku ingat itu.
Hingga ketika aku terlalu bahagia kini.
Aku lupa bahwa aku pernah merasakan duka sendiri.
Aku berhasil melewati badai.
Dan aku bangun dengan melihat hari yang indah kedepannya.
Aku selalu berpikir bahwa kemarin aku sempat bodoh.
Melayang di atas garis khayal tanpa batas.
Setelah segalanya mendapat titik terang, aku mundur.
Setelah aku mengejar, aku terdiam.
Dan menoleh ke arah berlawanan, lalu mencari hidup baru.
Hingga kini, aku lupa bahwa aku pernah jera dengan luka.
Jakarta, 10 September 2019
12:14 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Sabtu, 07 September 2019
Segara
Selasa, 20 Agustus 2019
Ruang Hampa Udara
Malam ini, dimana malam yang penuh dengan gemerlap kilau diatas langit yang hitam tanpa batas. Dimana aku melihat kilauan bintang yang tenang. Aku sangat kagum dengan segala yang ada dan tercipta. Alam semesta yang begitu luas, bahkan cahaya pun belum selesai menjelajahi segalanya. Alam semesta punya banyak hal yang indah dan menakutkan.
Sejenak, aku terdiam sembaring melihat ke langit. Tanpa satu titik pun mata ini hinggap, dan aku ingat sebuah kata "kita adalah keturunan bintang-bintang". Dimana kata itu akan buntu pada sebuah pernyataan opini yang kerap ku jumpai tanpa jawaban. "Apa yang akan kita lihat setelah kita mati?". Pertanyaan itu adalah hal yang membuat aku takut akan kematian dan sangat menghargai pahit manis kehidupan. Sebab hati ini berkata bahwa hidup hanya 1x. "Yang kita lihat setelah kita mati adalah ruang hampa dan kita terombang ambing didalamnya, gelap, sunyi berdenging, sakit, dan tak terbatas waktunya" kata itu adalah kata yang ku ingat dari sebuah artikel yang pernah aku baca. Apakah salah jikalau aku melihat segalahal berdasarkan logika? Sedangkan aku lebih suka mencari fakta dan kebenaran.
Jakarta, 20 Agustus 2019
03:33 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Selasa, 14 Mei 2019
Ada Untuk Tiada
Ini tentang pertanyaan besar pada bidang filsafat. Yang sukses membuat saya tidak bisa tidur semalam suntuk. Yaitu "Mengapa kehidupan ada untuk tiada?" Dan "Mengapa makhluk hidup begitu keras mempertahankan hidup walau pada akhirnya akan mati juga?", Semua tentang nalar dan logika.
Ini tentang alam semesta yang saya puja, sebab karna semesta itu, kita tercipta. Kita adalah keturunan bintang. Dimana segalanya tercipta sesuai hukum, ilmu, dan logika. Dari tak terhingganya ruang hampa, saya sadar bahwa manusia itu adalah makhluk yang mungil, tapi manusia selalu haus akan ilmu pengetahuan. Semua berawal dari pertanyaan dan tak selalu berakhir dengan jawaban. Saya selalu mencari kebenaran yang nyata, sebab saya sangat muak dengan banyaknya kebohongan di dunia ini.
Saya percaya tuhan itu ada, sebab tak terhingganya semesta alam ini adalah bukti kebesarannya. Saya percaya tuhan itu sempurna dan baik. Saya percaya agama adalah rahmat buat alam semesta. Saya tau agama itu ada untuk mengajarkan kebaikan kepada sesama umat manusia, lalu mengapa ada perang badar, salib, kontatinopel, dan lain sebagainya. Mengapa perbedaan pendapat dan pandangan itu digunakan untuk saling memusnahkan. Dimanakah kebaikan yang di ajarkan oleh agama dan tuhan?
Kembali ke pembahasan yang harus kita pikirkan, "Mengapa kita ada untuk tiada?".
Jakarta, 14 Mei 2019
08:07 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Minggu, 28 April 2019
Tulisan Itu Lagi
Ada yang ingin aku curahkan sedikit...
Tentang hati yang menolak lupa.
Dan ini tentang tulisan itu lagi.
Sungguh aku lupa isi tulisan itu...
Dan hal yang aku tak bisa lupa adalah...
Tulisan itu mampu mengoyak hati.
Hati yang membuat tulisan itu sangat kuat.
Yang terbuat dari air mata dan suasana.
Sungguh itu adalah bumerang.
Aku ingat, ketika aku mengulang membaca...
Itu sangat indah bersama penderitaan.
Yang teramat membatin...
Setiap kalimat meresap terlalu dalam.
Kalimat yang paling efektif.
Dia bukan memperbaiki luka...
Bahkan justru sebaliknya.
Aku berterima kasih terhadap tuhan...
Dia memberikan hal yang terbaik untukku.
Tulisan itu musnah bersama perangkatnya.
Dan entah lah...
Jika itu masih ku baca saat ini...
Aku takkan temukan kebahagiaan hingga detik ini...
Terima kasih tuhanku...
Jakarta, 28 April 2019
05:14 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Senin, 22 April 2019
Teman Hidup
Aku pernah berkata padamu.
Kala itu...
Kau peluk aku ketika sedang badai yang hebat.
Dari citatah menuju jakarta.
"Akan ada hari yang cerah setelah badai."
Kau peluk erat tubuh ini...
Kamu pernah berkata padaku.
Kala itu...
Hatiku sangat sedih, entah karna hal apa.
Hingga tak kuat ku menahan tangis.
"Kalau kamu nangis, lalu siapa yang nguatin hati aku"
Yah, kata itu yang akhirnya membuatku kuat...
Kita pernah sama sama berkata.
Kala itu...
Kita sangat bahagia mengeksplorasi.
Kamu berkata...
"Aku ingin hidup berdua sama kamu."
Begitupun dengan ku...
"Aku ingin menikah denganmu."
Dan dari kata itulah, kita sepakat memulai...
Ketika sepasang cincin itu melingkar.
Aku punya keseriusan soal cinta.
Dan bagiku kamu bukan sekedar pasangan.
Bahkan kamu bisa menjadi sahabat terbaik.
Aku cinta kamu...
Dan aku serius denganmu.
Jakarta, 22 April 2019
02:52 A.M.
Gamal Johanes perdana
Selasa, 16 April 2019
Teruntuk perasaan
Bukan rahasia aku mencintaimu...
Bagiku kamu hampir mendekati sempurna.
Yang menemaniku berimajinasi...
Kamu mampu hadir dan nyata di dalamnya.
Kamu adalah perwakilan diantara bintang.
Kamu salah satu rasi di ruang hampa.
Hidup bersama dengan nebula yang remang.
Dan kau nyata dalam pikiranku.
Kamu adalah orangnya...
Yang pernah aku sebut cinta sejati.
Di puisi yang pernah aku buat...
Setahun yang lalu...
Jakarta, 16 April 2019.
03:39 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Minggu, 07 April 2019
Melankolis & Sanguinis
Aku tau...
Perasaan ini sangat menggebu.
Samar bersama rasa mabuk yang kita rasa.
Tapi aku tau...
Tentang segala intuisi yang kita lakukan.
Itu adalah bukti kesamaan kita.
Ya, aku tau...
Kita adalah satu yang saling melengkapi.
Dan kamu adalah mimpiku selama ini.
Aku mengerti...
Sanguinismu adalah hal yang kubutuhkan.
Tanpa sadar, aku sangat mengagumimu.
Sekarang aku mengerti...
Aku yang teramat melankolis mencinta.
Dimana tiada hari tanpa mengagumimu.
Dan saat ini aku mengerti...
Bahwa tuhan, menemui kita atas dasar doa.
Sebab sejauh ini aku hidup di dunia.
Belum pernah aku bahagia sedalam ini.
Jakarta, 07 April 2019
02:45 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Sabtu, 09 Maret 2019
Kamu
Kamu...
Yang selalu ada di setiap hari.
Yang kerap berkata cinta yang manis.
Yang selalu aku buat bahagia.
Dan kamu...
Yang aku rencanakan...
Kamu yang sangat ingin aku miliki utuh.
Dimana segala doa dan mimpi ini.
Adalah tentang kamu...
Dan aku yang sedang bingung...
Bingung mengatur segalanya.
Meskipun kau juga membantu...
Tapi, aku masih merasa kurang untuk memulai segalanya...
Jakarta, 09 Maret 2019
03:44 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Senin, 25 Februari 2019
Metamorfosis
Ini tentang kita...
Kita yang ingin menjadi utuh.
Dan untuk sebelumnya...
Aku pernah berucap padamu.
Bahwa setelah badai pasti ada hari yang cerah.
Yakinlah kita akan lewati masanya dengan baik.
Mungkin, dengan cara ini tuhan menunjukan.
Bahwa kita harus bersikap lebih dewasa.
Meski sebenarnya aku rindu akan permainan kita.
Aku rindu hidup bahagia bersamamu.
Bilamana kita akan temui itu lagi.
Aku tetap yakin bawasanya kehidupan itu seimbang.
Dimana kita bersusah kali ini...
Dan yakinlah akan rencana ini.
Rencana yang membawa kita menjadi orang yang lebih bersyukur.
Sebab semua atas nama cinta.
Jakarta, 25 februari 2019.
03:50 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Minggu, 13 Januari 2019
Tentang Resolusi 2019
Ada satu hal yang ingin sekali aku gapai di tahun ini, terlebih mungkin aku anggap ini terlalu terburu-buru. Sebab belum pernah sebelumnya memikirkan soal ini, hingga pada saat aku bertemu dengannya dan hidup bahagia selama bersamanya. Aku punya keinginan yang akan menjadi saat yang sepesial dalam hidup ini. Dan untuk tahun ini, resolusinya ialah pernikahan.
Nikah muda itu adalah hal yang seru apabila kita menemui cinta yang pas, hanya saja kendala uang yang membuat aku berpikir 2x untuk menikah, sebab pernikahan itu tidak memakan biaya sedikit. Mangkanya saya buat taun ini resolusinya ialah pernikahan. Hal yang belum pernah terencana sebelumnya. Sebab dulu saya belum menemukan kebahagiaan yang nyata dalam hidupku. Aku sangat ingin menikah dengan tryas andini, aku berdoa dengan tuhan dan alam semesta agar dipermudah dan di perlancar rezekinya. Aku ingin hal itu terwujud segera di tahun ini dengan jalan yang baik.
Ya Tuhan kami, izinkan dan mudahkanlah jalanku untuk bisa mewujudkan pernikahan di tahun ini dengan jalan yang baik. Aminn...
Jakarta, 13 Januari 2019
02:46 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Jumat, 04 Januari 2019
Konstelasi
Aku melihatnya...
Mereka hidup damai di antariksa.
Mereka aku sebut 5 konstelasi.
Rigel, betelgeuse, alnitak, alnilam, dan nitaka.
Mereka semua ada dalam ruang hampa.
Dan nyata dalam ruang mimpiku.
Bila ku temukan waktu nanti...
Aku ingin sekali menjumpainya lagi.
Dalam kosongnya pikiran.
Dimana aku menemukan ketenangan.
Memandang kalian di antara luasnya jagat raya.
Menaruh mimpi dan harapan...
Serta melontarkan ucapan terima kasihku.
Atas harapan yang kini telah terkabulkan.
Jakarta, 04 januari 2019
05:08 A.M.
Gamal Johanes Perdana