Minggu, 19 April 2015

Senja Penuh Pesona

Secangkir teh cukup tenangkan batin yang tertutup kabut.
Dikala mentari nan indah tertelan oleh kegelapan.
Kupandangi keindahan senja yang merah nan gelap terlihat...
Burung-burung yang mulai meratap pada sangkarnya.
Dan kalalawar yang menggantung bangkit dari tidurnya.
Semua menandakan bahwa malam akan datang membawa sejuta ketenangan.
Angin yang bertiup menghalu pandangan membuatku tak lepas pada baju hangat ini.

Perlahan gelap menyatakan kilatan titik yang cantik pada langit tak beratap.
Kartika Kirana, itulah sebutan pada sansekerta...
Mereka hadir membentuk sebuah rasi yang indah.
Seakan terlihat kompak, mereka tunjukan sebiah garis cakrawala.
Yang tak terlihat oleh mata, namun terukur oleh logika.
Yah, mereka terlihat sangat cantik bukan?...

Derikan jangkrik yang tak berdurasi....
Menambah haru suasana malam dibawah bulan purnama.
Yang menerangi bumi dengan cahaya redupnya.
Segala keanggunan menyatu disini.
Ditempat yang memiliki sejuta pesona alam bumi pertiwi.
Kesejukan yang larut pada kobaran api yang hangat.

Jika aku boleh meminta...
Aku ingin lebih lama berada disini.
Meski sulit untuk hidup, aku rasa ketenangan yang membuatku bertahan.
Yang katanya rimba adalah tempat yang menyeramkan.
Sungguh, aku tak peduli...
Sebab bagiku tidak...

Oleh: Gamal Johanes Perdana


Minggu, 12 April 2015

Rimba Kelana

Berdiri setelah terjatuh untuk mengabdi...
Tanpa kata lelah berjalan lewati lembah dan punggungan.
Bukan karena angkuh atau terlebih batu.
Kebanggaan ini masih tersimpan selama aku masih hidup.
Mendaki untuk lagi menolak gravitasi.
Tarian merayap pada sebuah ngarai yang menjulang tinggi.
Aku tak takut mati sebab aku hidup untuk ini.
Melompat dan terjun bebas...

Kegelapan yang sunyi dan kelam...
Menelan sinar kehidupan pada kesunyian rimba.
Takan terlihat meski dekat memandang.
Bahkan saat kau coba untuk berteriak sekeras kau bersuara.
Getaran itu lenyap...
Tenanglah, jika riuh rimba terlalu sangar untuk kau dengar.
Pulang dan kembalilah pada kota yang banyak peradaban.
Jangan coba tuk kembali.
Karena alam rimba bukan untuk tempat bermain dan mencari ketenangan.

Oleh: Gamal Johanes Perdana

Jumat, 10 April 2015

Kedamaian Lukisan Gelap

Hai senja...
Tutuplah siang dikala ku sakit.
Dikala masa lalu hadir kembali pada ingatanku.
Yang pahit dan menyentuh sanubari.
Aku mengerti...
Manusia pasti akan berevolusi.
Baik pikir maupun sifat.

Wahai bintang...
Hiasilah senja penuh anarki dengan kedamaian.
Aku mengerti waktu akan berjalan kedepan.
Memendam semua kenangan dan cerita.
Meski pahit...
Disini aku merasakan satu keindahan.
Yang tiada duanya...
Itulah seni kehidupan.

Bila bulan datang...
Aku selalu ingin bersamanya di angkasa.
Damai tenang bersama bintang.
Semua terlukis keindahan kala malam datang.
Meski gelap...
Aku tak takut karna ku tak sendiri.
Dibalik kelam ada karya cipta sempurna.
Aku senang bila hari gelap.
Meski tak ada cinta yang pernah temaniku.
Aku tetap senang ketika malam datang.

Aroma sejuk lintasi hidung...
Ketenangan selimuti suasana hidupku.
Secangkir teh cukup menambah tenangnya suasana.
Bila ku mendaki...
Sejuta kenikmatan bersatu di malam hari.
Satu anugerah yang tak terbayar oleh uang.
Tak ada bising, tak ada polusi.
Aku rindu suasana rimba datang...
Berdiri lagi di atas awan.
Dengan udara dingin yang membakar.
Aku rindu dengan segala ketenangan.
Yang bersahabat...
Namun liar sebut orang...
Disini...
Aku mendambakan ketenangan di tengah alam liar.