Minggu, 30 Oktober 2016
Perjalanan Panjang
Meski lelah kaki ini berjalan jauh.
Aku tetap mencari hal yang aku tuju.
Meski sempat dicaci maki, aku bertahan demi kebenaran.
Tak perduli seberapa keras dunia menghujat.
Jika logika berkata benar, mengapa harus ragu menjalani.
Aku berjalan diantara rumput ilalang...
Sampai akhirnya aku terhenti ketika kulihat senja tenggelam.
Kupandangi dengan cermat hingga akhirnya...
Aku sadar akan kegelapan yang menelan pandangan.
Meski akhirnya kewalahan ku mencari jalan keluar.
Dirinya tetap saja ada dan tumbuh di dalam pikiran.
Bagaikan virus, perasaan ini menyebar dan berkembang pesat.
Hingga aku tak kuasa mengendalikannya...
Meski terus kucari-cari obat penawarnya.
Tetap tak kutemukan kesembuhan yang pasti dari luka ini.
Meski telah berkali-kali ku berkelana dan kutuliskan.
Dia tetap tumbuh dan ikut dalam perjalananku.
Ketika dini hari datang bersama fajar yang hangat...
Aku terduduk dibawah pohon pinus dengan segelas teh hangat.
Dan ketika radiasi matahari pecah di atas langit.
Perasaan itu hilang seiring dengan udara malam yang dingin.
Kuraih tas dan kukemasi semua perlengkapan.
Lalu ku berjalan mencari kebenaran atas kehadirannya semalam.
Jakarta, 30 Oktober 2016
10:39
Memo in Sumbing, September 2016
Gamal Johanes Perdana
Jumat, 28 Oktober 2016
Untukmu Indonesiaku
Aku terduduk santai di teras rumah yang lusuh.
Dan di tanah yang basah berkas hujan tadi sore.
Di jakata...
Kutulis lagi kata tentang hari yang damai ini.
Di depan layar... Aku bercerita.....
Hujan rintik mengguyur jakarta disore hari...
Tak ada senja kulihat hari ini.
Udara yang sejuk menyelimuti jakarta yang kumuh.
Meski demikian, kotaku adalah kota yang kaya.
Pembangunan dimana-mana, sebab penduduknya yang rimbun.
Makmur meski mereka tingggal di tepi sungai.
Meski mereka ber-profesi sebagai pengemis, mereka adalah orang kaya.
Tapi itulah mereka, kaum yang mementingkan kehidupannya sendiri.
Egois bukan...
Mereka menghalalkan berbagai cara untuk memperkaya diri.
Realitanya memang seperti itu...
Dan aku membencinya...
Meski aku hanyalah seorang pelajar muda...
Tujuanku belajar bukanlah untuk menodai negara ini.
Apalagi merusak...
Aku punya cita-cita yang tinggi menurutku pribadi.
Dan ketika aku bercerita dengan bangga kepada mereka...
Mereka hanya menjawab:
"Hidup lu bakalan susah nanti disana..."
Dan terlebih lagi:
"Ngapain, buang buang waktu aja..."
Itulah komentar mereka...
Yang mencari gelar tinggi, hanya untuk memperkaya diri.
Aku Cinta Indonesia...
Tak perlu ku umbar hal ini, sebab aku memang ingin negara ini maju.
Aku ingin menjelajah dan melihat kehidupan pelosok negara ini...
Tapi, apakah aku bisa terpilih menjadi pengajar muda di kemudian hari?
Sedangkan, aku tidak bisa mendalami ilmu pendidikan itu sendiri.
Uang memang segalanya...
Tapi, apakah uang juga yang memisahkan cita-citaku untuk mengabdi?
Ohh tuhan, aku sangat mencintai negri ini...
Negri yang kapitais dengan kedok demokratis.
Sedangkan aku, masih mencari sela agar ketika sarjana nanti...
Aku bisa mengajar di perbatasan NKRI.
Hanya itu impianku...
Negara ini hanya maju di sektor kota.
Apalagi Jakarta...
Kota yang metro politan, Milik kaum Kapitalis...
Aku hanya ingin keluar dari kota ini...
Dan hidup di perbatasan negri...
Yang katanya, kehidupan disana jauh lebih keras.
Aku tak perduli...
Meski sulit, aku yakin tuhan memberikan kenikmatan tersendiri.
Bagi mereka yang tulus menolong sesama...
Bukan masalah apa yang aku cari...
Tapi, apa yang telah aku berikan untuk negara ini.
Ya tuhan, iringilah jalanku dengan limpahan rahmatmu.
Kuatkanlah batinku...
Kabulkanlah Permintaanku...
Amin...
Jakarta, 28 Oktober 2016
11:50 P.M.
Gamal Johanes Perdana
Dia Terlalu Sempurna
Aku siap hadir dikala dia menangis pilu.
Bahkan aku siap dibuang ketika dia bahagia.
Aku siap hadir dimana dia sedang sulit.
Bahkan aku siap di singkirkan ketika dia senang.
Aku siap mengisi kala dirinya jenuh cinta.
Meski kutahu pada akhirnya aku dibuang ketika ia sibuk.
Aku adalah cinta...
Yang rela menunggu dirinya datang tanpa suara.
Aku adalah kasih sayang yang belum ia temukan.
Dan aku adalah rasa yang belum iya dapati.
Aku adalah senandu nada...
Bahkan lebih indah dari mimpi yang ada, sebab...
Aku mencintainya tanpa suara...
Tanpa kata apalagi ungkapan.
Bagaikan camar...
Aku hidup diantara udara, darat, dan laut.
Meski tiap malam selalu ku termenung.
Tapi... belum prenah ku temukan kesurutan...
Meski cintanya akan menjadi pasang surut.
Tetap saja dirinya ada di mimpiku...
Dan cinta...
Mimpi ini terlalu panjang untuk ku jalani...
Meski di akhir jalan nanti kan ku temukan petaka.
Aku ingin sekali ada di hatinya walau sesaat.
Meski jalan yang ku tapaki terlalu panjang...
Aku mohon padamu tuhan...
Temukan akhir dari perjalanan cinta ini.
Sifatnya terlalu sempurna untukku miliki...
Jakarta, 28 Oktober 2016
02:15 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Senin, 24 Oktober 2016
Dalam Mimpi
Aku berjalan tanpa henti...
Seperti tidur setahun suntuk.
Dan jika ku rentangkan sejarah semua ini...
Banyak cerita dan rentetan aksara tercipta.
Tentang aku yang mencintainya.
Dan ketika aku terbangun...
Aku tersadar...
Bahwa mencintainya itu sangatlah indah.
Meski cintanya masih dalam terkubur.
Atau tersembunyi sifatnya...
Hal itu masih indah ku rasakan.
Meski waktu terus melarutkan...
Dan pikirku ini semua akan larut.
Nyatanya, rasa ini susah untuk dilarutkan.
Meski telah ku serpihkan perlahan.
Cinta, tetaplah cinta...
Dan sayang, ia tak menyadarinya.
Rasa ini telah menghempasku jauh di samudera.
Terombang-ambing hanyut ke lautan lepas.
Hingga sulit untuk terbangun dari keindahan cintanya.
Ohh tuhan...
Sampaikan rasaku padanya...
Bahwa Aku Sangat Mencintainya.
Jakarta, 24 Oktober 2016
02:23 A.M.
Minggu, 23 Oktober 2016
Aku Terlalu Sayang
Hampa meninggalkan angan dan harapan.
Dengan sisa tenaga...
Aku bertetiak lantang tanpa suara.
Hai malam...
Kau telan semua jerih payah selama ini.
Malam sepi tanpa derik...
Terasa menyiksa ketika ada di dalam impian.
Dan untuk semua...
Yang tersisa hanyalah luka membusuk.
Hai duka...
Begitulah aku yang tertelan oleh harapan.
Meski telah lantang aku berlari...
Tak ku rasa lelah di hati.
Dan jiwa ini sungguh hampir sangat tidak sanggup.
Tapi apa?...
Semua masih ku paksakan untuk bertahan pada pendirian.
Meski telah ku ketahui semua jawaban.
Hingga ku kehilangan satu teman...
Dan itu semua...
Jika semua terulang dari awal sayang...
Aku akan pergi untuk tidak mengenalmu.
Tidak terpikat oleh tolekan mata itu...
Tapi sulit rasanya jika aku menjauhimu.
Sedangkan kita memiliki hobi di satu bendera...
Aku yakin...
Tuhan sudah merencanakan semua ini.
Dan semua ku serahkan padanya.
Jakarta, 23 Oktober 2016
02:18 A.M.
Jumat, 14 Oktober 2016
Halimun
Malam yang dingin di halimun.
Hampir dua tahun lamanya aku tak singgah disini.
Tempat dimana kartika kirana dilahirkan...
Dimana kala itu langit yang hitam kelam.
Di penuhi butiran mutiara yang indah...
Itulah halimun.
Aku cintai sebab ketenangannya yang teduh.
Disini aku terduduk menyendiri...
Tak ada inspirasi...
Tak ada ilusi yang jelas.
Hanya samar ku ingat dia.
Dan hanya remang ku ingat kirana.
Yang pasti ...
Hampir aku tak peduli akan kehadirannya.
Dan aku rasa aku hampir berhasil...
Sebab dirinya hanya terlintas.
Lalu aku lupakan...
Dirimu adalah cinta yang samar...
Ketika hatiku di ketuk dengan halus.
Dia masuk dengan sejuta keindahan.
Yang kala itu pikirku akan bahagia dengan sejuta aksara.
Indah jika ku ingat lagi...
Ketika kulihat ia memiliki satu kesamaan.
Dan lagi...
Memetik dawai dan bernyanyi bersama...
Merajut aksara dengan indah...
Kala ku pandang bola matanya.
Oh cinta, air mata itu jatuh sebab aku sangat mencintainya...
Biarlah itu berlalu...
Hampir dini di halimun...
Tapi tak jua kulihat bintang dilangit.
Meski hujan telah menghangatkan udara.
Tak jua ku temukan kehangatan di hati.
Meski telah mencair...
Dua tahun lamanya hati ini membeku akan kehidupannya...
Aku akui bawasannya aku terlalu memupuk itu semua.
Sebab dulu aku pikir terlalu sayang membiarkannya layu...
Dan kini, cukup ku berikan air.
Agar bunga itu tetap hidup bersama kenangan.
Dan sisanya...
Ku pupuk bunga yang hidup di hati ini.
Yang hampir lima tahun hidup di hatiku.
Sebab cintanya lebih sejati dan nyata...
Aku sadar kalau selama ini aku tertelan cinta yang samar.
Hai halimun...
Bantu aku keluar dari kekelaman hati ini.
Salam hangat...
Dariku untuk malam yang panjang.
Halimun, 08 Oktober 2016
11:43 P.M.
Gamal Johanes Perdana
Kamis, 13 Oktober 2016
Saat Aku Kendalikan
Aku bersumpah demi tuhan yang maha Esa.
Rasa ini sungguh menyiksa batin.
Hampir saja aku bisa lepas dari semuanya.
Dan lagi...
Rasa ini menggebu sebab aku yang tak pandai.
Sudah segala cara aku lakukan...
Tapi tetap saja...
Aku tidak sanggup mengendalikannya lagi.
Bahkan hampir dititik menyerah.
Maaf aku belum bisa...
Wahai bintang...
Di dunia ini, aku hidup seperti ilalang yang melambai.
Yang tenang tergoyang angin.
Damai di atas tanah yang tandus.
Dan bermain bersama burung dan serangga.
Tapi tak ada satupun yang bisa aku ajak bicara.
Hingga aku menangis...
Tak ada yang bisa mendengar dan melihat tangisanku.
Aku tetaplah menjadi aku yang terombang-ambing.
Di usap angin, dan di bakar cahaya...
Tak ada air, apalagi telaga...
Aku tetap menjadi aku yang benci akan kehadirannya.
Jika ditemukan luka...
Aku berkata pada mereka:
"itu bukan karena cinta"
Dan lagi aku berkata bohong kalau aku melupakan semuanya.
Hal yang paling tidak masuk akal.
Ketika pandangannya ada ketika aku berbicara.
Oh tuhan, ku kira aku tidak bisa mencintainya dengan penuh.
Tapi cinta berkata iya...
Dan sangat tidak mungkin aku mencintainya di satu lambang.
Dan sangat tidak pantas aku memilikinya...
Dirinyalah bagaikan intan permata.
Akulah bongkahan koral...
Meski cinta soal hati.
Derajatnya bukanlah untukku...
Jakarta, 13 Oktober 2016
10:54 P.M.
Gamal Johanes Perdana
Senin, 03 Oktober 2016
Aku Cari Kamu
Kucari kamu...
Kala kabut menutupi pandangan.
Dimana mimpi...
Masih kejam menghantui perasaanku.
Kucari kamu...
Dalam setiap pandangan yang lapang.
Dimana dulu...
Kau tapaki tempat itu dan tertawa lepas.
Aku cari kamu...
Di setiap dingin dikala malam menjelang.
Meski matahari...
Enggan menerangi pandangan hitam ini.
Aku cari kamu...
Dalam satiap lelah kaki melangkah.
Meskipun aku...
Mengerti bahwa aku tak pantas untukmu.
Aku cari kamu...
Terus ku jelajahi semua alam ini.
Dari bibir pantai sampai puncak gunung.
Dalam semangat yang membara...
Ada perasaan hati yang lembut.
Perasaan yang ingin memiliki dirimu.
Satu yang aku benci...
Ketika aku mengingat tentang dirimu.
Perlahan kupupuki meski tak berbuah.
Ketika perasaan kusimpan...
Aku lelah hidup dialam mimpiku sendiri.
Meski aku tau...
Semua itu akan selalu jadi mimpi.
Aku tetap memupuknya dengan baik.
Meski aku tau itu takan berbuah manis.
Aku tetap mencarimu...
Jakarta, 03 Oktober 2016
06:45 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Sabtu, 01 Oktober 2016
Malam Di Sukamantri
Bagiku,,,
Alam itu adalah pusat ketenangan.
Kedamaian yang memukau...
Kedamaian yang keras.
Dingin dengan sebatang rokok...
Ku pasang musik, dan kuputar masalalu...
Cintaku di sukamantri...
Salak.
Hai salak...
Aku mencintainya.
Disini aku masih memupuk rasa itu.
Meski sumbing telah membunuh...
Sedikit masih saja ada di hati.
Sebab aku terpukau oleh jati dirinya.
Duduk diantara rimba...
Dan memetik lantunan nada.
Ya, dia masih ada di hati...
Aku tak perduli dia acuh...
Perasaan ini hanya aku yang rasa.
Hai alam...
Disini, aku ceritakan lagi...
Dimana tawanya meluluhkan perasaan.
Matanya yang menolek.
Seperti astra orion...
Kala dia bersenandu dengan lirih.
Suasana hangat seketika...
Damai tanpa lara..
Oh cinta...
Haruskah perasaan ini menoreh luka lagi.
Sebab hanya mimpi namanya di hati...
Sampai kapan aku terus jadi pemujanya.
Yang rahasia sifatnya.
Hai bintang...
Tenanglah sinari malam...
Sunyilah dalam kegelapan...
Seperti rasa...
Seperti kata yang terlintas.
Ketika kala itu lantunan musik dimainkan.
Dan kala itu merdu suaranya...
Temaniku yang asik memetik senar.
Dan bersama katakan...
"Dan bilang, aku sayang padamu."
Akankah itu terlupakan?
Akankah itu sirna?
Meski ku coba, tetap saja jadi luka.
Ya itulah...
Salak, simpan memori itu baik baik.
Sukamantri, 30 September 2016
23:18 P.M.
Gamal Johanes Perdana