Sabtu, 22 Oktober 2022

Habitat

Malam semusim panas...
Dimana siang tadi hujan mengguyur kota.
Setelah beberapa minggu tak temui hujan.
Segalanya bukan berarti membaik.
Sudah dua malam dirimu hadir tanpa ku mau.
Entah apa maksud dan tujuan...
Dan hal utama yang kulihat adalah bola mata itu.
Senyuman itu...
Pada kenyataannya berbuah ingatan...

Bagai hujan ditengah padang gurun nan tandus.
Aku sudah mampu menciptakan habitatku.
Meskipun tandus, namun segala didalamnya hidup damai.
Lalu hujan datang...
Semuanya bukan berarti membaik...
Hujan itu datang memporak-porandakan seisinya.
Mematikan segala flora dan fauna.
Hati...

Membangun ulang...
Menatanya lagi bukan hal yang mudah.
Diantara bulan dan bintang yang ku tatap.
Yang ku temukan hanya keresahan.
Dan doa agar semua kembali membaik.


Jakarta,05 Oktober 2021

Gamal Johanes Perdana

Pengabdian

Hari, bulan, dan tahun...
Meskipun jauh dari sewindu atau satu dekade.
Namun sejauh ini aku sangat menikmatinya.
Pengabdian yang akan menjadi cerita hidup.
Hal yang indah setiap kali ku buka mata.
Ialah melihat dirimu...

Makhluk yang setiap harinya selalu mengisi.
Satu yang kusebut cinta...
Dan aku akan terus mengabdi.

Tak akan ada hal yang berat selagi mencintai.
Dan bagiku...
Hidup hanya berdua sampai akhir bukan masalah besar.
Sampai tiba satu waktu diantara kita tiada.
Setidaknya, aku bisa hidup tanpa sia-sia.
Tentang pengabdian panjang...

Aku pernah bertanya tentang kehidupan.
"Untuk apa selama ini aku diciptakan?"
Dan kamu membuatku mampu menjawab itu.
"Kita dilahirkan untuk merasakan indahnya hidup, Mengabdi, dan Meneruskan kode Genetik yang selama ini kita bentuk."


Jakarta, 22 Oktober 2022
03:24 A.M.
Gamal Johanes Perdana