Malam semusim panas...
Dimana siang tadi hujan mengguyur kota.
Setelah beberapa minggu tak temui hujan.
Segalanya bukan berarti membaik.
Sudah dua malam dirimu hadir tanpa ku mau.
Entah apa maksud dan tujuan...
Dan hal utama yang kulihat adalah bola mata itu.
Senyuman itu...
Pada kenyataannya berbuah ingatan...
Bagai hujan ditengah padang gurun nan tandus.
Aku sudah mampu menciptakan habitatku.
Meskipun tandus, namun segala didalamnya hidup damai.
Lalu hujan datang...
Semuanya bukan berarti membaik...
Hujan itu datang memporak-porandakan seisinya.
Mematikan segala flora dan fauna.
Hati...
Membangun ulang...
Menatanya lagi bukan hal yang mudah.
Diantara bulan dan bintang yang ku tatap.
Yang ku temukan hanya keresahan.
Dan doa agar semua kembali membaik.
Jakarta,05 Oktober 2021
Gamal Johanes Perdana