Selasa, 29 Desember 2020

Penantian Kita

Dalam resahku...
Sepertinya...
Dirimu akan jadi penantian panjang.
Yang kerap tersimpan dalam doa.
Terselimut duka...

Kapan dirimu akan hadir.
Kami menunggu hingga detik ini.
Kami yang akan siap menuntun jalan hidupmu.
Ada disaat susah senangmu.
Dan hadir disaat kamu butuhkan.

Meski harpan samar...
Tapi aku yakin.
Kamu akan tiba bila waktunya tepat.
Ibu dan ayahmu ini akan tetap menunggu.

Jakarta, 29 Desember 2020
11:28 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Kamis, 24 Desember 2020

Halu

Trauma yang mendalam...

Kala itu...

Memukul psikologis sehat ini dengan sangat keras.

Hingga aku tau apa yang selama ini ku derita.


Aku tau apa yang kubenci...

Diantara ketenangan malam.

Hingga kesunyian dini.


Bayang-bayang...

Semuanya adalah hal yang gila.

Cerita itu mampu mengubah segala aspek.


Depresi berkepanjangan...

Aku tau sekarang.

Selama ini aku bertarung ditengah kesunyian.

 

Membius gejala dengan tulisan.

Bertarung dengan delusi bergejolak.

Skizofrenia 

 

Jakarta, 24 Desember 2020

07:50 P.M.

Gamal Johanaes Perdana

Senin, 09 November 2020

Sejatinya

Pagi itu...
Adalah pagi yang mengesankan
Dimana aku berhasil menyatukan segala pikiran.
Aku lepas dari lingkaran setan.
Aku dan dirinya, sudah mengikrarkan kemerdekaan.
Bahwa, sejatinya....
Awal dari kehidupanku yang berlanjut.

Pagi itu aku bisa merasakannya.
Detak jantung bahkan nadi tangan.
Aku putuskan hati agar aku kuat dengan akal.
Pagi itu, lantunan quran menggema di telinga.
Pagi itu, aku sangat gugup...
Tapi aku bisa tanpa terlihat takut.
Karna ini keputusanku.

Aku ingin hanya ingin hidup berdampingan dengannya.
Dimana setiap pagi aku melihatnya.
Dan malam menjelang tidur aku menjaganya.
Sungguh tuhan punya rencana.
Dan aku tak sangka bahwa dia yang ku pilih.
Yang terbaik diantara terbaik.
Untukku...

Tuhan, jangan kau berikan ujian pada kami lagi...
Kuatkan cinta kami...
Makmurkan kehidupan kami.
Buat aku selalu benar membimbingnya.
Aku mencintainya...
Bahkan sangat mencintainya.

Jakarta, 09 November 2020
01:37 A.M.
Gamal johanes perdana
Tryas Andini
(Memo: Wedding 08 november 2020)

Kamis, 05 November 2020

Menjelang Harinya

Seberapa jauh pikir ini melayang, waktu tetap saja waktu. Detik yang terus berdetak, waktu hanya bisa di percepat dengan engkau tidur, tapi tak akan pernah bisa di perlambat. Aku tak tau sejauh apa persiapan untuk semua ini, yang jelas aku hanya tinggal menunggunya tiba. Hari dimana aku dan dirinya yang buat dan terlaksana. Hari dimana aku dan dirinya yang menjadi ketua pelaksana acara. Kita yang merangkup semuanya. Kita yang jatuh bangun tersungkur dan lelah. Tuhan tau perjuangan ini tulus dari hati kita.

Ada satu kata yang selalu ku ingat, "segala yang di buat dengan hati, akan sampai ke hati lain". Kita yang membangun semua acara ini dengan tekun, serius, unik, dan penuh perjuangan. Yang pastinya ketika esok acara berjalan, orang akan tau hasilnya. Aku mengharapkan hal yang sempurna untuk di hari pernikahan kita.

Nanti, jika saatnya tiba. Aku yakin kita akan merasakan hal yang hebat, hebat kita bisa memimpin acara dengan sedemikian rupa. Aku tau segala rintangan itu sulit. Tapi akan terasa lebih sulit jika kita tidak kompak. Terima kasihku, untuk dirimu. Karna sejauh ini kaki melangkah, kita bisa lewati bersama. Hal yang membuatku yakin akan hal ini adalah kamu yang akan bisa merangkup segalanya untuk hidupku.

Jakarta, 05 November 2020
10:15 P.M.
Gamal Johanes Perdana
For: Tryas Andini

Rabu, 28 Oktober 2020

Akan Datang Waktunya

Satu hari nanti...
Aku yakin akan datang waktu.
Dimana segala beban yang sangat berat.
Akan ringan di panggul.
Sebab emosi yang kian stabil.

Satu hari yang akan datang...
Akan tiba saatnya kita bahagia dengan sederhana.
Dimana kehidupan yang serba kurang.
Tapi kita mampu menikmatinya.
Sebab syukur yang kita panjatkan.

Disatu hari yang akan tiba nanti...
Dimana hari yang ditunggu datang.
Dengan sejuta gelak tawa kebahagiaan.
Kita yang di ikat oleh cinta.
Pula membahu membangun segala mimpi.

Pula untuk satu mimpi nanti...
Momongan pertama pun akan kita bina.
Yang suci, akan membuat kita lebih kuat.
Yang lelah, akan membuat kita belajar.
Yang tertanam, akan kita petik hasilnya.

Hidup memang sesingkat itu...
Tapi kebahagiaan yang kita rasakan.
Tergantung, sejauh mana kita bisa bersyukur.
Setidaknya, sejauh ini aku bersyukur telah dipertemukanmu.
Sesederhana itu bagiku...

jakarta, 28 Oktober 2020
03:30 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 26 Oktober 2020

Tekanan Tinggi

Semua orang tidak tau.
Tentang diriku...

Aku yang lahir dari tekanan tinggi.
Dan hidup dengan tekanan tinggi.
Mereka tak tau dibalik tawaku.
Harusnya mereka lebih bersyukur dari itu.
Mendengar keluhan mereka...
Itu semua adalah masalah ringan.
Tapi mereka berlaku tak kuat.

Hanya segelintir orang yang ku percaya.
Mereka pun tak tau semua.
Hidup dari tekanan segala arah memang biasa.
Tekanan yang membuatku merasa hidup.
Aku dikaruniai sebagai tiang bagi semua orang.
Aku senang melihat mereka bahagia.
Aku bukan budak.
Aku hanya ingin mereka tak merasakan hal yang sama.

Setidaknya, apa yang ku tanam akan tumbuh dengan semestinya.

jakarta, 26 Oktober 2020
06:25 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Kamis, 22 Oktober 2020

Senandung Yang Kuingat

Dari seluruh penjuru dunia,...

Untuk sebelumnya aku tak pernah dengar nada seindah itu.

Melantun landai nan merdu terucap.

Membuatku sulit untuk tidur nyenyak...

Itulah pribahasaku.


Sejauh ingatan ini berevolusi...

Selalu saja kuntemui ingatan yang menjelma keindahan.

Tapi sesak rasanya di batin.

Terlalu banyak hal yang ku pikirkan malam ini.

Cerita hidupku sangatlah unik.


Selarutnya malam ini...

Hal yang ku ingat adalah kejadian beberapa tahun yang lalu.

Mungkin aku sudah terlalu lelah.

Dan harus segera tidur...


jakarta, 22 Oktober 2020

03:57 A.M.

Gamal Johanes Perdana 

Jumat, 09 Oktober 2020

Menunggu Matahari

Terduduk ditepi kanal yang damai.
Dimana tak ada benci yang tersisa.
Aku sangat menikmati suasana damai dalam jiwa.

Tak ada aturan yang mengikat.
Sungguh...
Ketika senja yang ku tunggu hadir dalam lamunan.
Ku putar musik damai...
Dan ku perhatikan cara matahari menutup sinarnya.

Yang kulihat melingkar jingga sempurna.
Tanpa awan, tanpa rona.
Nampak sempurna sore ini.
Yang ku tunggu dari 2 jam lalu.
Hanya akan hadir dengan sempurna pada menit terakhir.

Sungguh...
Hanya semesta yang berlaku adil pada diriku.
Dan hanya senja yang bisa menutup hari dengan damai.
Hingga gelap datang...
Aku bisa lebih tenang menghadapi segalanya.


Jakarta, 18 September 2020
05:42 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Kamis, 08 Oktober 2020

Pengorbanan

Inikah yang dinamakan rela berkorban?
Untukmu...
Seorang yang sangat aku cintai.
Aku berjuang siang dan malam.
Keringat bercucur dengan tangis dan lelah.
Segalanya...
Untuk dirimu seorang.

Aku baru tau rasanya.
Menemukan cinta sejatiku.
Yang selalu ingin berusaha mewujudkan mimpinya.
Dengan mengorbankan banyak mimpiku.
Hanya untuk melihat dirinya senang dan bahagia.
Tanpa tau menderitanya aku.
Sudah, aku cukup senang melihat dia senyum bahagia.

Dan untuk detik ini pula...
Aku tak punya daya apapun lagi untuk mewujudkan.
Untuk pernikahan yang dirimu impikan.
Aku akan berusaha lebih keras lagi...
Lebih gigih dan banyak pengorbanan.
Sebab...
Hati ini lebih menderita ketika melihat dirimu menangis.
Dan aku merasa gagal akan hal itu.
Setidaknya, sudah sejauh ini...
Aku sadar dengan segala yang ku korbankan.
Aku telah mendapatkan cinta sejati yang ku idamkan.


Jakarta, 08 Oktober 2020
11:13 P.M.
Gamal Johanes Perdana


Kamis, 24 September 2020

Hantu Pikiran

Hay kamu...
Aku benci ingatan ini.
Tapi kamu harus tau sedikit tentang ini.
Teruntuk perbatasan leuwiliang.
Cibodas, halimun, dan lembah salak.
Meski tensi yang semakin menurun tetap saja aku risih.
Hal yang aku benci adalah mengapa aku bisa mengenalmu.

Meski tak seintens dulu...
Tetap segalanya menyita waktu.
Aku tak temukan apa manfaat dan efek dari semua ini.
Yang jelas...
Aku hanya inginkan kedamaian.
Tidak ada bayang bayang jemari memetik senar.
Atau tentang tulisan lampau.

Aku hanya ingin tenang dengan jalanku.
Maka, pergilah...


Jakarta, 24 September 2020
03:10 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Rabu, 09 September 2020

Tentang Apapun Itu

Katika senja yang kupanggil hadir.
Di sebuah lembah edelweis itu.
Segala yang selama ini diimpikan terwujud.
Hingga satu ketika dengan sengaja aku terbangun.
Aku adalah orang yang paling bahagia saat ini.
Saat puisi ini kutulis...
Pada ketinggian 2740 meter dari permukaan laut.
Aku dengannya...

Ini semua tentangnya...
Yang kuperkenalkan segala hal yang gila.
Dari isi kepalaku.
Di sebuah ladang yang sejuk.
Lembah yang paling menagjubkan untuk melihat senja.
Pula bintang yang bersinar menolek.
Sekali lagi...
Aku menjadi orang paling bahagia.
Sebab aku berhasil membawamu kesini.

Tempat yang penuh ketenangan...
Deruan angin...
Tertutup kabut...
Dan ketika semua menghilang.
Dirimu mampu melihat dunia yang luas.
Dan kau tau...
Bawasannya manusia teramat kecil untuk berlaku angkuh.
Ditempat ini...
Dirimu tau apa yang membuatku cinta pada semesta.

Surya kencana, 01 September 2020
22:50 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 21 Agustus 2020

Kamu Harus Bersyukur

Hai cinta, harusnya kamu lebih bersyukur soal itu. Kamu harus ingat kala itu kamu menangis di pundak ku soal orang tuaku yang tidak ada waktu untuk bertemu orang tuamu. Aku telah bersumpah malam itu, segala kebutuhan ini akan keluarkan jika orangtuaku mengizinkan kelanjutan kita. Kamu, harusnya, bersyukur. Karna sejauh ini kita tenang sebab mereka sudah saling bertemu. Aku hanya ingin kita bisa berkerja sama untuk ini, aku yang berkerja, kamu yang menyesuaikan kesanggupanku. Memang, aku tau menuju titik itu berat dan pusing. Pernikahan bukan hal menyenangkan. Esok, kita bakal bertemu hal yang lebih berat dari hari sebelum pesta. Cobalah untuk bersikap sabar dan bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang ini.
Setidaknya perjalanan kita bisa lancar karna izin. Bila kau tak inginkan hal yang memberatkan seperti ini, tinggalkan aku. Aku takkan mampu membuatmu bahagia terus menerus. Aku tak lelah menghadapimu, tapi aku hanya takut kamu yang lelah dengan hidupku yang sulit. Bahkan terlampau sulit jika kamu tau segalanya tentang aku. Aku memang tertutup soal derita. Aku tak mau kamu ikut menderita.

Aku hanya ingin hidup damai. Tinggalkan aku bila mana aku jauh dari kriteriamu. Aku hanya akan membawamu pada hal penderitaan. Tapi jika kamu mau temani aku, aku akan membuatmu tak merasakan apapun soal permasalahan hidupku. Tapi jika kamu ingin tahu, aku tak keberatan asalkan kamu kuat mendengarnya, dan aku tak ingin kamu memikul itu. Cukup aku saja. Aku sudah biasa...

Jika kamu pergi, aku takkan mencari lagi, cukup kamu yang terakhir buat aku. Aku hanya akan kembali pada jalan petualangan aku yang dulu. Mungkin memang semesta menciptakan aku untuk berkelana. Aku tak ingin kamu menyesal di kemudian hari. Pikir pikir lagi jika kamu ingin hidup bersamaku. Aku takkan bisa membuat hidupmu bahagia.


Jakarta, 21 Agustus 2020
04:31A.M.
Gamal johanes perdana

Rabu, 12 Agustus 2020

Tentang Kita

Ini adalah cerita tentang kita.
Kita yang pada malam ini tertawa dengan sejuta pikiran.
Dengan banyak permasalahan.
Kita sanggup tertawa.
Sanggup tertawa namun dihantui masalah.
Dihantui masalah yang sangat besar tentang kita.
Tapi kita masih bisa tertawa.
Tertawa menertawakan tawa.
Tawa yang terasa sangat beban di batin.
Batin yang risih akan semua beban yang kita tertawakan.
Kita yang tertawa tak sepenuh hati.
Sepenuh hati kita ternyata menertawakan kita.
Kita yang masih bisa tertawa dengan masalah.
Dengan masalah pernikahan kita kelak.
Kita kelak akan tertawa sepenuh hati sebab bahagia.
Sebab bahagia kita akan tertawa lepas.
Tertawa lepas dan utuh merasakan kebahagiaan tawa.
Kebahagiaan tawa kita.

Jakarta, 12 Agustus 2020
05:09 A.M.
Gamal johanes perdana

Selasa, 11 Agustus 2020

Belum Sembuh

Jauh dari kata lupa tapi aku berhasil.
Setidaknya untuk beberapa saat...
Aku membius perasaan yang lama tumbuh tanpa terawat.
Bahkan segaja tak ku rawat...
Dengan secercah harapan akan mati.
Tapi aku tak bisa bilang berhasil.

Beberapa tahun terlewati...
Hingga kata terakhir yang kau kirim.
Masih ku ingat jelas...
Terombang ambing perasaan seperti hal yang ku benci.
Tak jua temukan kebencian.

Entah lah...
Hidup itu perjalanan yang aneh.
Bahkan sampai detik ini, aku tak mengerti...
Apa maksud tuhan membiarkan perasaan seperti ini.
Masih ku tunggu jawabannya.


Jakarta, 11 Agustus2020
03:07 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Sabtu, 08 Agustus 2020

Pagi Teduh

Aku terbangun dimana fajar merekah.
Dari barisan cakrawala yang membentang.
Pagi ini...
Tak seperti biasanya.

Ada satu kerinduan menyelimuti...
Setelah aku sadar ada hal yang membius jati diri ini.
Tentang kerinduanku.
Yang selama ini terlalu dalam ku pendam.
Dimana memandang terbitnya matahari dari ketinggian.
Pada musim panas yang indah.

Begitunya aku lupa...
Sejauh ini aku terbius akan hal aneh.
Terlalu fokus akan hal masa depan.

Aku lupa...
Ada rohani yang jenuh akan ambisi.
Keinginan yang menunggu datangnya waktu.
Berkemas dan jalan menapaki gunung.
Melihat rasi, secangkir teh, dan menunggu datangnya pagi.

Aku menunggu datangnya waktu itu.
Sebab ada yang menjanjikannya padaku.


Jakarta, 08 Agustus 2020
07:23 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Kamis, 06 Agustus 2020

Untuk Yang Akan Datang

Suatu waktu nanti...
kelak...
Segala hal yang kita perjuangkan.
Air mata dan rasa haru akan menebus semua luka.
Dan cinta yang menjadi sempurna.
Serta kita yang akan hidup bahagia seutuhnya.

Satu hari kalak, akan terwujud...
Dimana segala halang rintang yang kerap melukai.
Kita hancurkan bersama.
Lalu kita berkreasi dan menerapkan segala mimpi kita.
Tentang dekorasi kamar seindah mungkin.
Atau tentang pendakian yang kerap diperbincangkan.
Apapun tentang semua...
Yang kerap kita rencanakan namun belum sempat terwujud.
Semua, Akan menjadi nyata.

Dan untuk satu saat nanti...
Apa yang kita persiapkan dari sekarang akan tercapai.
Memiliki buah hati yang telah kita bicarakan.
Entah Segara atau yota...
Aku tau...
Bawa selama ini kamu yang aku cari.
Aku merencanakan segalanya sebab aku yakin...
Kita akan menemukan kebahagiaan di waktu yang tepat.

Semoga apa yang diperbincangkan orang tua kita.
Pada malam ini...
Akan membawa kita pada titik terang cinta...

Dariku, untuk yang paling ku cinta.
Tryas Andini,

Jakarta, 06 Agustus 2020
03:53 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 31 Juli 2020

Cemas

Hati dan pikiran...
Berjalan tenang namun pasti.
Aku tau apa yang akan terjadi.
Dalam kepala ini pun ada sejuta opsi.
Aku tau...
Badai akan datang lebih hebat.

Dalam batin ini...
Ada sedikit kecemasan.
Bukan aku tak percaya diri.
Aku cemas akan satu langkah yang salah.
Seluruh raga yang tak lelah giat.
Tapi aku tak tau apa rencana semesta.

Dalam pikir ini...
Segelintir bimbang menyertai.
Jiwa ini terlalu hati-hati melangkah.
Terlalu lambat menimbang-nimbang.
Sebab aku tak tau apa maunya semesta.

Jakarta, 31 Juli 2020
20:59 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Jelaga

Dalam redupnya mata...
Sumpahku menjelma dalam keheningan pagi.
Tentang aku yang benci akan masalalu.
Dan mengapa aku tak lupa.

Dan dini hari...
Jelaga itu muncul diantara ketenangan.

Aku tau segalanya perlahan akan larut.
Namun bagiku...
Ingatan ini terlalu kuat...

Jakarta, 31 Juli 2020
03:12 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Sabtu, 25 Juli 2020

Hampir fajar

Dari dalam tenda...
Aku hanya bisa memandangi redupnya api.
Api yang menjadi bara dan asap.

Entahlah...
Sudah bertubi-tubi cobaan yang datang.
Tak jua temukan titik terang.
Sudah bertahun tahun lamanya bersabar.
Tak jua ada kesan...
Dan yang terdengar hanyalah pesan dan janji.

Dimana malam ini...
Aku berada pada titik lelah dan mencari jalan lain.
Nestapa bagaikan ombak menghantam pasir.
Aku benci pada sang penebar janji.
Beribu pengharapan yang terbengkalai.
Semuanya membusuk.

Biar semesta yang mendengar doaku.
Aku benci pada manusia yang tak pernah melihat kebaikan.


Sukamantri, 25 juli 2020
04:56 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Selasa, 21 Juli 2020

Jalan Terbaik Kita

Aku akan sangat menunggu akan hari itu.
Hari dimana semuanya dimulai...
Dimana, seumur hidup jantung ini berdetak.
Sejauhnya kaki yang melangkah.
Dan setiap hembusan nafas terus mengalir.
Jiwa ini hanya akan mengabdi pada satu cinta.

Pada alurnya semua akan terwujud...
Segalanya yang telah tercatat.
Dan aku sangat yakin akan dirimu.
Yang selama ini ada dalam tiap kata yang tertulis.
Setiap mimpi berjuta malam.
Pula setiap doa ratusan pagi.

Tuhan takan berdusta...
Dia pasti punya jalan terbaik buat rencana baik kita.
Aku yakin akan dirimu.
Aku percaya akan tuhan kita.
Sampai pada waktu yang tuhan tentukan.
Aku yakin kita akan bahagia pada jalannya.

Bukan aku yang pasrah.
Manusia hanya bisa berusaha dan berencana.
Selebihnya, aku percaya tuhan punya niat baik untuk kita.

Jakarta, 21 juli 2020
06:02 A.M.
Gamal Johanes Perdana


Kamis, 02 Juli 2020

Sejatinya Hanya Kamu

Perbincangan kita larut pada dini hari...
Malam itu... 
Kita bersenda gurau di tepi jalan yang tak asing.
Dengan bayang diantara kedua mata.
Terbalut duka diatas cerita...
Dialog yang sangat menyenangkan.

Sejatinya aku hanya punya kamu sekarang.
Dirimu yang mampu merangkap segalanya.
Malam itu...
Darah tuhan memang merekatkan kita.
Dengan segudang pembahasan yang kerap terlontar.

Bukan soal itu...
Ini tentang yang lain.
Tentang aku yang bahagia sebab kamu lah segalanya.
Dan bagiku, kamu...
Sahabat terbaik, teman terbaik, pula orang terbaik.
Kamu adalah hal terbaik yang aku punya di dunia ini.


Jakarta, 02 Juli 2020
04:40 A.M.
Gamal Johanes Perdana



Selasa, 30 Juni 2020

Buah pikir

Wahai senja...
Yang menjadi penghancur pikiran.
Sejatinya...
Acap kali jingga merona dari batas cakrawala.
Rona itu membuatku berpikir.
Tentang apa yang telah kucapai hari ini.
Dibalut ketenangan...

Di sisi perbukitan kala itu...
Api berkobar redup membara.
Perasaan yang samar melantun.
Aku tak bisa tidur...
Suasana yang teramat tenang.
Membawaku haru...
Akan sebuah kebencian.

Hal yang menjadi saksi dibawah pendaran langit.
Tentang seseorang yang termenung menunggu fajar.
Menghadap timur...
Tangisannya berbuah doa yang terputus.
Harapan yang musnah...
Dan disisi gelapnya hati yang berkabung.
Ia tetap menguatkan hati.

Jakarta, 30 juni 2020
02:38 A.M.
Gamal Johanes Perdana


Kamis, 25 Juni 2020

Tukar Pikiran

Dari awal hubungan ini.
Aku selalu berkata...
"Kita lahir dari masa lalu yang buruk"
Meski alkohol membawa kita berbincang.
Tapi aku yakin itu bukanlah omong kosong.

Aku cinta dirimu...
Lalu aku paham segalanya.
Semesta bersaksi akan segalanya.
Sesungguhnya tuhan menciptakan kita adalah sama.
Sama sama mengerti satu sama lain.
Maksud dan tujuannya.

Aku terima dirimu apa adanya...
Begitu pula dirimu.
Kita serupa tak sama.
Aku yakin.
Tuhan mempertemukan kita untuk merubah dunia.
Semoga ...

Jakarta, 25 juni 2020
04:23 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Sabtu, 20 Juni 2020

Untuk Wanita Sempurna

Pada dasarnya, laki-laki sejati hanya akan memilih 1 wanita pendamping yang kelak akan menemani hingga akhir hayatnya. Yang akan menemaninya susah maupun senang. Wanita itu akan menjadi segala hal dari sahabat, cinta, istri, teman, bahkan lawan. Yang membangun sebuah pondasi bersama, berdebat, tertawa akan hal konyol, dan juga berbagi akan segala yang di butuhkan. Aku tau, pernikahan bukan untuk bersenang-senang, bukan untuk menghalau batas, dan bukan untuk hal yang monoton. Ketika hari pertama setelah pernikahan, disitulah kehidupan baru di mulai. Dan aku sudah memikirkannya dengan matang malam ini.

Bagiku Laki-laki itu memilih satu. Dia bisa jatuh cinta dengan banyak wanita. Tapi pada waktunya, dia hanya akan mengabdikan segala hidup juga cintanya pada 1 wanita yang dia pilih. Wanita yang menurutnya sesuai kriteria. Dan aku, memilihmu sebab dirimu adalah yang aku mau. Hitam manis, setia, tulus, mau di ajak susah, pinter mengurus rumah, bisa di andalkan untuk menjadi seorang istri dan bisa jadi sahabat terbaik. Dan sejauh ini aku menjalin hubungan denganmu, bisa ku nilai bahwa cara kita berpacaran lebih ke realita hidup sesungguhnya. Hingga aku yakin bahwa dirimulah jodoh yang selama ini semesta janjikan padaku. Aku belajar banyak darimu tentang segala hal.

Perlahan, aku melihat cobaan ini menjadi ringan dan samar. aku tak tau apa yang akan di rencanakan semesta kedepannya. Tapi aku selalu yakin bahwa semesta akan memberikan jalan terbaik untuk kita. Bilik hatiku terbius hingga aku merasa sedikit tenang dibuatnya. Aku tau manusia hanya bisa berencana, tapi sesungguhnya segala yang akan terjadi, semesta yang akan menentukan. 

Di satu hari kelak aku dan dirimu bangun di pagi hari, mengusap muka dengan air yang dingin. Merias wajah dan dikepung oleh para saksi. Aku yang gugup berkeringat dingin dan dirimu yang meneteskan air mata tulus. Legarkan suara, tegakkan badan, dan kuatkan hati. Aku tau, cinta hanya akan berlabuh di satu titik, dimana hari itu mulut yang akan mengikrarkan segala hal. Dan aku tidak akan merasakan berat sama sekali, ini jalan yang aku pilih. Segalanya hanya akan ku ikhlaskan kepada yang maha kuasa. Tak ada lagi istilah aku, tak ada lagi istilah kamu, yang ada ialah kita. Kita yang hanya akan mengisi satu sama lain di setiap hari nanti. Kita yang menentukan nasib di tangan kita berdua. Yang pasti, saat ini kamu harus percaya akan kataku, "Akan ada hari yang cerah setelah badai berlalu".


Jakarta, 20 Juni 2020
03:32 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Selasa, 02 Juni 2020

Keadaan ini

Kiri atau kanan...
Entah akan kemana akhirnya.
Bahagia atau sirna.
Aku benci semua keadaan ini.
Dirinya yang lebih tua harusnya lebih bijak.
Tapi aku tak lihat pula harapan detik ini.
Aku hanya ingin kebebasan...
Dan aku benci tekanan.


Jakarta, 02 Juni 2020
01:52 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 22 Mei 2020

Pagi Istimewa

Kala itu, fajar terbit dari timur...
Bulatan mata itulah hal pertama kulihat.
Indah berseri tiada tara.
Dirinyalah orang yang aku cinta.
Selama ini yang mengisi waktu lamunan.
Mengisi rindu yang menggebu.

Kala itu, kicau burung sangat merdu...
Kau seduhkan secangkir teh hangat.
Senyumu terpancar kala membuka tenda.
Mentari yang menghangatkan cinta.
Dan langkah kaki yang menuntun padamu.
Kamulah wanita sempurna.

Kala itu, ialah pagi yang istimewa...
Aku menggapai harapan diatas bintang.
Bersama mengukir kebahagiaan.
Mimpi diantara kedua bola matamu.
Setiap helai yang terhembus angin lembah.
Kita menikmati petualangan kita bersama.

Kala itu, malam di sukamantri...
Aku memulangkan segala kerinduan.
Yang tersimpan diantara jejak.
Dan senyuman yang kulihat pada wajahmu.
Sebelum mata ini terpejam.

Jakarta, 22 Mei 2020
06:05 A.M.
Gamal Johanes Perdana


Kamis, 14 Mei 2020

Yang Akan Selalu Teringat

Iya, aku ingat malam itu.
Malam dimana semuanya berawal.
Aku dan dirinya bersatu dalam kehangatan.
Aku takkan pernah lupa...

Kala pertama kalinya aku melihat jelaga.
Namun aku tak tau harus apa.
Jantung yang berdebar cepat...
Gugup yang mengombang ambing perasaan.
Cemas yang terselimut oleh rasa canggung.
Terkejut dan otak masih mengendalikan segalannya.
Meskipun terlihat tidak baik...

Aku tak pernah punya itikat buruk...
Biarpun semua belum terjadi.
Aku mau terima segala kekurangan itu.
Sebab aku merasa kamulah yang aku cari.
Dengan segala warna kehidupanmu.
Aku bahagia...
Hanya kamu yang aku cinta...


Jakarta, 14 Mei 2020
07:53 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Rabu, 29 April 2020

Buaian

Aku sangat mencintainya...
Pada dirinya yang ada disaat risau melanda.
Dirinya yang kusebut buaian.
Yang mengisi hati dan menenangkan jiwa.
Dia yang setia denganku.

Aku sangat menyayanginya...
Pada dirinya yang selalu peduli denganku.
Dirinya yang kusebut sempurna.
Yang mau terima akan susahnya hidupku.
Dan hanya dirinya seorang...
Yang mampu mencintaiku tulus dan penuh.

Dia yang ku sebut...
Kala mimpi disaat pagi menjulang.
Cintanya...
Sempurna padaku.


Jembatan Cidokom
Selasa, 28 April 2020.
05:20 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Sabtu, 25 April 2020

Memo...

Diantara derasnya hati bersenandung.
Ada satuhal yang kerap kali diputarkan.
Rasa yang sudah terpaut jauh dari pikiran.
Yang saat ini terlihat usang dan hanya tersisa ingatan.
Kala aku ada di detik itu...
Terbawa dan aku sangat menikmatinya.

Hasrat melankolis yang sangat menggebu.
Diantara dinginnya suhu yang kala itu teringat...
Serta beberapa puntung rokok berserakan.
Malam itu, beberapa suara yang terekam asri.
Menjadi saksi atas indahnya segala kerinduan.
Yang hampir tak ingat akan kehilangan.

Hingga saat aku gagal akan segala angan.
Hal yang masih kupelajari hingga saat puisi ini kutulis ialah Merelakan.


Jakarta, 25 April 2020.
04:45 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Minggu, 05 April 2020

Semestaku Suka Bercanda

Semesta memang suka bercanda.
Dia tau dan ingin tau tentang semuanya.
Tentang kita...
Yang ingin mulai berjalan dan berlari bersama.
Semestaku memang seperti itu.

Baginya mudah bagiku sulit.
Tapi aku yakin aku bisa melewatinya.
Dunia ini sebab akibat.
Dan hai, aku marasa terejek dengan semua kesulitan ini.
Aku mencoba bangun dan lagi tersandung.
Bukan aku yang banyak alasan.
Tapi cobaan yang datang silih berganti.

Aku kerap meminta pada semesta.
Ia menjawab dengan hikmah.
Aku tau semua akan berjalan...
Mungkin aku yang hilang kesabaran.
Semesta memang seperti itu.


Jakarta, 05 April 2020
05:32 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 09 Maret 2020

Teruntuk Semesta

Diantara rintik hujan...
Yang turun samar bersama harapan.
Aku terdiam...
Aku berpikir lebih tenang dalam perjalanan ini.
Yang terlihat begitu besar menghadang langkah.
Terus menghalau demi terwujudnya satu mimpi besarku.
Pernikahan...

Semesta memberiku sedikit rintangan baginya.
Tapi bagiku itu banyak...
Setapak demi setapak, aku melangkah perlahan.
Takut aku menapaki satu jejak kesalahan.
Aku tau...
Semesta mengujiku, apakah aku layak mendapatkannya.
Analitisku membuatku semakin lambat menyelesaikan semuanya.

Teruntuk bintang timur...
Aku harap, aku mendapatkan yang terbaik dalam hidupku.
Segala jalan yang mudah dan kebahagiaan abadi.
Engkau tau apa yang aku cari.
Semestaku....
Aku tau kau mendengar ini.


Jakarta, 09 Maret 2020
03:37 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 06 Maret 2020

Jalan Liku

Teruntuk malam ini, aku terdiam bingung untuk melanjutkan bagai mana cerita pernikahan yang sedang aku rencanakan. Aku benci dengan orang tua ku yang jawabannya selalu menggantung tentang kelanjutan pertemuan antar kedua orang tua aku dan tyas. Seolah mereka meragukanku padahal aku sudah sangat serius memandang kedepannya. Aku yakin semesta akan memberikan hal terbaik kedepannya.

Aku hanya ingin mengusahakan bahwa pertemuan antar orang tua itu terealisasikan. Dan bila tidak, aku akan ambil jalan kedua pada awal april, aku akan mengurusnya sendiri ke kua untuk mewujudkan segalanya. Aku hanya ingin menemukan teman hidup dimana segala sesuatunya akan di jalani bersama dengannya. Yang penting kita sama sama setia, sisah kekurangannya, itu bisa di cari jalan keluarnya. 



Jakarta, 06 Maret 2020
22:53 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Kamis, 20 Februari 2020

Kamu satu sampai mati

Setelah lika-liku hidup yang aku tempuh...
Terlihat secercah harapan dari cakrawala.
Aku hanya akan mendeskripsikan bahwa harapan itu indah.
Dibalik hal yang indah pun akan ada derita.
Itu sudah terbayangkan dengan baik.
Dan semua memang tak selalu berjalan mulus.

Pernikahan itu semakin nyata terlihat...
Aku denganmu.
Yang kelak akan terbang sebebas merpati.
Takan lagi ada halangan dan larangan.
Yang ada hanyalah rasa berbagi dan saling menyayangi...
Bagiku...
Hidup bersamamu akan terasa indah meskipun dalam derita.

Aku mengerti...
Sepertinya kali ini semesta takan ingkar.
Akan ku kejar impian mulia ini.
Sampai nanti janur kuning melengkung.
Aku tau bahwa semesta memang mentakdirkan kita untuk hidup bersama.
Untuk tahun ini...
Aku ingin kamu yang terakhir di hidupku...

Jakarta, 20 Februari 2020
02:16 A.M.
Gamal Johanes Perdana
For: Tryas Andini


Selasa, 14 Januari 2020

Selayang Pandang

Ada hal yang aku rindukan...
Disatu sudut geografis.
Kota lembah diantara pegunungan sejuk.
Memoriku terbentuk dengan sempurna disana.
Terpampang jelas dan tak akan pernah terlupa.
Bandung...

Kesejukannya yang membuat aku rindu.
Aku menemukan sejuta kedamaian disana.
Dimana tempat yang awal ku anggap biasa.
Hingga aku tau apa yang membuat bandung begitu sepesial.

Tak tau apa yang membuatku harus pulang kala itu.
Hati berat rasanya...
Tapi esok, untuk bandung.
Aku sangat ingin mengulang segalanya.
Lagi...


Jakarta, 14 Januari 2019
08:17 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 10 Januari 2020

Tentang Aku Yang Terlalu Liar

Aku menyadari satu hal yang sangat bergejolak dihati, aku pun tau bawasannya aku seperti lama kehilangan damainya hidup. Terlebih ketika aku kembali pada satu penjelajahan. Saat itu pula aku sadar bahwa aku pernah bahagia di balik penderitaan panjang, aku kerap menemui bintang ditengah gelapnya hutan. Aku tau apa yang aku rindukan selama ini. Gugusan bintang yang cerah, ditengah ladang teh yang tak bercahaya, dan hanya ada gemerlap nebula dan helium panas yang terlihat dimata. Aku rindu penjelajahan yang damai, aku benci metropolitan.

Ruang hampa, bukan berarti aku tak bahagia. Semenjak aku mengenalnya, aku bahagia hingga lupa rasanya derita. Aku tak tau kata yang tepat untuk mengutarakan. Dirinya hanya mengisi sebagian hati secara full, aku punya kebutuhan rohani yang kosong dalam jiwa. Aku selalu tertekan dan dimaki ketika aku ingin memenuhinya. Dan sungguh begitu sulit rasanya mengajak dirinya untuk hadir temani diriku, di tempat yang aku inginkan dan hanya berdua. Aku tau perbedaan ini, namun aku lelah membahasnya, aku sadar bahwa aku akan kalah. Mungkin aku terlalu aneh dan liar, dan itu sudah medarah daging pada jiwaku, jadi jangan kau suruh aku untuk rubahnya, kamu hanya akan mempersulit keadaanku. Aku hanya ingin di temani saja denganmu seorang. Bila tidak bisa, aku pun bisa melakukannya sendiri. 

Teruntuk Rasi Orion, malam dimana rasi itu terlihat cantik, kala itu penyakit ku kambuh akan memandang gemerlap bintang ditengah tempat minim cahaya. Segudang perasaan melankolis memanggil hati untuk bercerita. Aku butuh mengembangkan intuisi yang kerap mandat. Entah apa fungsinya, yang jelas itu adalah kegiatan yang ku anggap sebagai spiritualitas. Sepanjang aku hidup di dunia ini, aku tak pernah temukan orang yang sama sepertiku. Aku adalah orang aneh yang hidup penuh dengan mimpi yang menjijikan, dan banyak dari mereka berkata seperti itu, namun aku tetap menikmatinya. Ini tentang aku yang rindu hidup dalam khayalan dan intuisiku didalam ruang hampa. Tak ada yang mengerti keanehanku ini...

Note: 10 Januari 2020
04:47 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Pic.by: Tryas Andini 2019