Kamis, 12 September 2019

Jenuh

Setelah vacum tiga bulan lamanya aku tidak jalan-jalan dan refreshing itu rasanya hambar. Dimana kehidupanku hanya berisikan kerja, belajar, bayar utang, main ke kampung baru dan sisanya menghabiskan waktu dengan tidur di ruangan petak berukuran 2x2x2.5 meter. Mengisolasi diri dan memikirkan hal-hal yang kurang penting. Aku bosan dengan kehidupan yang mengulang dari bangun, kerja dan tidur, Dunia ini terlalu serius untuk aku jalani. Aku butuh tempat yang baru, tidak melihat gedung, kendaraan macet dan polusi yang menutupi bintang-bintang di musim panas ini, dan tiga bulan ini aku anggap sangat membosankan.

Rasa ingin jalan-jalan ada sejak kemarin, tapi entah kenapa dengan jadwal kerja yang lebih flexible ini aku jadi sulit menemukan waktu pas untuk pergi jauh dari pusat kota. Terlebih soal dana, kerjaan pun terkadang menyita waktu, banyak sekali urusan yang menjadi beban. Semenjak hidup sendiri aku jadi tau rasanya kehidupan secara utuh. Dan intinya aku ingin pergi, sebab aku bosan ada didalam suasana yang terlalu monoton. Ingin rasanya berkemas lalu pergi selama beberapa hari untuk lepas penat yang ada di kepala ini. Terbebas dari beban kerjaan, dan pikiran soal skripsi.

Mungkin dalam dekat-dekat ini atau bisa jadi akhir bulan, aku sudah muak dengan urusan yang terlalu kompleks di bulan ini.

Jakarta, 12 September 2019
11:14 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Selasa, 10 September 2019

Hampir Lupa

Aku lupa kalau akan ada pagi dimana semuanya tak sia-sia.
Semestaku tidak pernah bohong...
Aku telah membuang jauh itu semua.
Lalu kini, aku menoleh lagi...
Aku membongkar semua hal yang semu kurasa manis kala itu.
Aku baca bait-perbait...
Aku hampir lupa segalanya.

Lalu satu buku membangunkanku dari tidur panjang...
Semua yang pernah kala itu aku rajut, tulis, dan tumpahkan.
Memang tak se sia-sia itu.
Aku benci akan masalalu tapi aku pun rindu.
Yang aku benci adalah selalu ada kata mundur yang lahir kerap ku ingat itu.
Hingga ketika aku terlalu bahagia kini.
Aku lupa bahwa aku pernah merasakan duka sendiri.

Aku berhasil melewati badai.
Dan aku bangun dengan melihat hari yang indah kedepannya.
Aku selalu berpikir bahwa kemarin aku sempat bodoh.
Melayang di atas garis khayal tanpa batas.
Setelah segalanya mendapat titik terang, aku mundur.
Setelah aku mengejar, aku terdiam.
Dan menoleh ke arah berlawanan, lalu mencari hidup baru.
Hingga kini, aku lupa bahwa aku pernah jera dengan luka.

Jakarta, 10 September 2019
12:14 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Sabtu, 07 September 2019

Segara

Ini tentang dirinya...
Dia yang satu saat nanti adalah orang yang aku sayangi.
Bila mana semesta menghendaki.
Dan waktu pun tiba.
Segara itu ada dan mewarisi segala sifatku dan andini.
Aku akan menyayanginya dengan caraku.

Ini tentang dirinya...
Orang yang ku sebut pintar dan lincah.
Aku ingin dia menguasai namanya sendiri.
Orang yang banyak bicara dan pintar mengendalikan emosi.
Mandiri, tumbuh, dan mampu menembus prestasi kita.
Tumbuh menjadi lebih baik dari sejarah kami.
Beradab, tabah, serta bisa menjadi pemimpin.
Kelak satu saat nanti...
Kamu akan tumbuh dengan baik dan penuh dukungan dari kami.

Kamulah orangnya kelak...
Punya imajinasi dan akal yang cemerlang.
Kreatif dan menguasai segala ilmu.
Kamu adalah harapan kami berdua.
Kamu yang satu saat nanti akan membaca karya tulis kami.
Yang mengharapkanmu...
Untuk bisa menguasai semua sifat baik dari kita berdua.
Entah melankolis atau sanguinis.
Aku beri kebebasan kamu untuk memilih...

Jakarta, 07 September 2019
02:29 A.M.
Gamal Johanes Perdana