Sabtu, 31 Desember 2016

Tutup Buku 2016

Sebelum akhir...
Ku titipkan salam pada angin yang berhembus dari timur.
Yang tenang berhembus melintasi ilalang...
Pula besar impianku sebelum berganti tahun.
Meski masih samar ku lukis...
Ingin ku jabarkan...

Aku ingin penjelajahan ini berkembang...
Dimana ada tempat baru yang ku jelajahi lagi.
Dan pula aku ingin memiliki teman...
Teman yang selalu mendampingi langkahku dalam perjalanan.
Teman yang setia dan mengerti semua keadaan.
Teman yang satu tujuan, satu perjalanan, dan satu kegemaran.

Aku ingin menemukan satu potensial...
Dimana diantara semua ilmu yang ku geluti dengan baik.
Aku ingin temui satu potensi yang lebih diantara semua ini...
Yang nantinya akan menjadi profesi dalam dunia karirku.
Yang nantinya banyak memiliki manfaat untuk orang lain di dunia.
Yang nantinya aku akan menjadi profesional  dalam bidangku sendiri.
Entah guru ataupun sastra...

Aku ingin menatap dunia dengan luas...
Yang artinya aku ingin ada hal baru yang mengisi kehidupan ini.
Memiliki usaha dan bisnis di bidang teknologi informasi,,,
Yang artinya aku membangun usaha sendiri.
Agar aku tek perlu repot buang-buang waktu untuk bekerja.
Yang ada hanya bagaimana cara management dana dan laba.

Aku ingin di tahun 2017 esok adalah tahun yang lebih baik.
Dimana perkataan dan karyaku bisa bermanfaat untuk kehidupan orang.
Oh tuhan...
Perkenankanlah doaku ini...
Agar aku tak sia-sia hidup di dunia ini tuhan...
Aku mendambakan kehidupan yang lebih baik...
Yang artinya baik untukku dan orang di sekitarku.
Perkenankanlah doaku...


Jakarta, 31 Desember 2016
08:08 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 30 Desember 2016

Desember 2016

Dimana banyak menyimpan kisah...
Dari awal dimana bulan ini lahir.
Lalu berakhir...
Rotasiku hanya cinta, alam dan teman.
Serta perjalanan kecil yang tak jua ku temukan hasil.
Meski dibalik itu semua...
Ada niat terselubung yang hingga kini aku pelajari.
Desember yang baik...

Kehidupan ini penuh dengan teka-teki...
Permainan tanpa aturan tertulis.
Yang artinya kalian bebas melakukan semua hal sesuka hati.
Selama itu baik...
Silahkan kalian bertualang dan menjelajah sebanyak mungkin.
ketika kalian bosan dengan peradaban...
Pergilah yang jauh, agar kau tau apa itu arti peradaban...
ketika kau bosan berada di rumah...
Pergilah ke hutan,,,
Agar kau tau betapa nikmatnya berada di dalam rumah...


Jakarta, 30 Desember  2016
10:25 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Bertualang Di Baru Bolang

Langkah baik di akhir taun...
Tanpa rasa tanpa cinta...
Hanya berkelana dan menjauhi peradaban.
Dimana kala malam kelam...
Ada satu hal suasana yang sangat ku cintai.
Kala kabut tutupi mata dan hujan menghapus langkah...
Aku hidup diantara dua punggungan di tapak pangrango.
Menjelajah ke tempat baru...
Hidup damai diantara kerasnya alam.

Semua terasa beda ketika ku berjalan bersama mereka...
Diantara hujan rintik menembus sela ranting dan dahan.
Menyelami rimba...
Mengisi dunia dengan sebuah petualangan...
Dimana dunia...
Yang kurasa saat ini hanyalah derik jangkrik...
Katak..
Pula derasnya sungai...
Yang mengalir deras dengan beriakannya.

Dan itulah kehidupanku...
Yang menghilang...
Untuk menyendiri di alam...
Bebas tanpa aturan formal.


Baru Bolang, 30 Desember 2016
12:51 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Penuntut Kebebasan

Dirinya adalah pelita yang ku sembunyikan...
Dibalik kabut asap yang samar.
Ada cahayanya yang menjagaku dengan setia.
Dirinya adalah cinta...
Yang membuatku berontak...
Atau semacam gerakan bawah tanah.

Apa yang kan terjadi jikalau dia temuiku pada akhir tahun.
Tanpa jejak, tanpa berita yang jelas...
Akanhak dia menerima atau dia menyadari.
Kalau aku pergi lagi berkelana...
Dua perjalanan dalam satu pekan.
Dirinya tidak pernah mengizinkanku jujur akan hal ini.
Namun, apapun itu....
Aku sangat mencintai kebebasan yang artinya...
Hidup ku adalah perjalananku.
Tak usah kau urusi urusanku.
Aku hanya ingin bahagia dengan caraku sendiri...
Sebab hingga kini...
Kamu belum bisa jadi seperti apa yang ku pinta...
Selamat malam cinta...


Cibubur, 28 desember 2016
01:56 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Malam Tanpa Peradaban

Redupnya api...
Mengantarku ke dalam mimpi sang imajinasi.
Dibawah bintang nan redup...
Di tanah nan lapang pula gersang.
Bersma hangatnya bara...
Dan merdunya lantunan musik.
Lagi ku tuliskan tentang ketenangan abadi.

Dengan tekanan yang kuat...
Tak jua ku temukan jenuh akan langkah ini.
Perjalanan di akhir tahun.
Tanpa listrik...
Tanpa sinyal...
Tanpa cinta...
Tanpa notebook pula internet.
Aku coba menjauh dari peradaban.

Meski tanpa bintang...
Langkah ku cukup menawan.
Berjalan di bawah panasnnya sang dewa langit.
Dan meraba dengan sinar dewi kegelapan.
Dalam derita tanpa cerita...
Penghujung desember, menuju tahun baru...
Habiskan waktu dan tenaga...
Dalam sinar orion nan cantik.
Pula asri diatas langit.


Cibubur,  26 Desember 2016
09:22 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Rabu, 21 Desember 2016

Selatan Penuh Anarki

Tenggelamlah matahari...
Sungguh aku muak akan anarkinya selatan.
Dimana semua jalan tak lagi lapang...
Penuh amarah yang tak terkendali.
Busuk pula kotor...
Disamping terminal...
Dengan latar belakang senja penuh anarki...
Selatan...

Dari angkutan ke angkutan...
Kuperhatikan kehidupan sekitar akan ke egoisan.
Kepincangan ekonomi...
Serta kerusakan moral anak bangsa.
Mereka semua mengembara dengan penampilan buruk.
Merekalah musisi jalanan...
Yang menghias anarkinya jalan dengan nada sumbang.
Pula karya seninya yang abstrak diatas kulit cokelat...

Dari persimpangan...
Ku simak mereka yang angkuh dalam kendaraan.
Sendiri dalam satu roda empat...
Melontarkan sirine dengan keras tanpa sadar.
Kalau dirinya lah faktor kemacetan...
Lalu motor jalan saling mendahului seperti semut...
Dan bis yang lapang tanpa penumpang...

Aku terduduk santai di kursi belakang...
Lalu ku putar musik dengan nada lembut.
Ku tenangkan jiwa ini...
Dibawah langit oranye bercampur abu-abu biru.
Dalam lelahnya tubuh yang telah di hujat...
Aku tak ingin menjadi orang yang tempramental.
Aku hanya ingin menjadi orang yang damai...
Tentram diantara kisruhnya selatan...
Senja menuju malam...


Jakarta, 21 Desember 2016
07:48 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Pesan Dalam Rangkaian Kata

Menunggu dan memutar lagu...
Tenangkan pikiran dengan perasaan.
Ku tarik napas dan hembuskan perlahan.
Perlahan....
Menyelinap ke dalam otak...
Halus...
Dan kita mulai bilangan abstrak.

Wahai bintang nan tenang...
Jalan ini begitu mudah kala hujan menerpa.
Katanya mengantarku pulang pada duniaku sendiri.
Meski sebelumnya...
Kupikir kelana lah yang akan mengobati semuanya.
Nyatanya aku mampu terbangun...
Dan semua ini hanyalah ilusi...

Wahai lautan...
Kala ledakan mengguncang dari ujung timur.
Seakan-akan perdamaian tiada arti...
Ketika perasaan yang tidak stabil lalu menjadi stabil.
Dirinya hilang ditelan awan...
Langkah ini berjalan lentang tanpa beban...
Hidup itu terlalu singkat untuk ku tempuh...

Sebelum itu...
Aku sempat hidup diantara kabut.
Kala dini nan larut bersatu di kaki pangrango.
Di tepi sungai halimun,...
Pula cibodas bersama rekaman yang telah punah.
Takan ku lupakan perjalanan bersama kalian...
Meski semua dokumen hancur lebur.
Otak ini masih menyimpan rapih kisah itu...
Aku bersama alam liar...


Jakarta, 21 Desember 2016
02:13 A.M.
Gamal Johanes Perdana


Selasa, 20 Desember 2016

Malam Tanpa Inspirasi

Dalam remang malam...
Sayup mata terpejam.
Tanpa kata...
Tanpa ukiran sastra...

Pulihnya luka membuatku tak berkata.
Dan hampir sepenuhnya pola berubah...
Sebab yang ku tau adalah...
Tak selamanya bumerang melontar lurus.
Hingga detik pergantian tahun tiba.
Bisa ku katakan kalau hidup ini stabil.
Tak ada obat yang tak membutuhkan proses.
Dan tindakannya bijak dan bajik...

Pula esok hari...
Ketika matahari membuat dunia sibuk.
Aku sama seperti mereka...
Pekan penuh dendam catur wulan.
Dimana ketika semua orang bersanda gurau...
Aku acuh dan berjalan lembut diantara papan.
Pula aksara nan abstrak.
Dalam lelahnya pikir yang terkuras.
Ku bermain diantara akar sang program.
Hingga penutupan di umumkan...
Dan lembar baru di mulai...


Jakarta, 20 Desember 2016
01:01 A.M.
Gamal Johanes Perdana


Minggu, 18 Desember 2016

Untuk Pagi

Matahari...
Ledakkan sinarmu dari ufuk timur.
Hangatkan bumi dengan radiasimu.
Ketika bintang kau telan...
Mimpi indah itu pun hilang perlahan.
Kicau burung menyambut hadirnya pagi.
Nan permai pula damai...

Untuk perasaan yang tertinggal...
Tak ingin ku hapus sebab itu alami adanya.
Mimpi itu memang indah...
Tapi apakah selalu mimpi itu indah?...
Mimpi memang tak pernah nyata.
Tapi apa selamanya mimpi itu tetap mimpi?...
Akankah mimpi itu bisa terwujud...
Menjadi mimpi yang utuh...


Jakarta, 18 Desember 2016
03:19 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Sabtu, 17 Desember 2016

Masih Terasa Bodoh

Dunia itu begitu indah ku rasakan...
Berjalan mengembara...
Belajar bersosialisasi dengan baik.
Berusaha menebar bibit ilmu dan kebaikan.
Menyalin kisah hidup...
Dengan harapan agar orang bisa belajar dari pengalaman.
Kelak nanti aku pun akan dewasa.

Ribuan hari telah ku lewati...
Dari terbit fajar hingga terbenam senja.
Aku selalu ingin berusaha berbuat hal yang sedikit berguna.
Entah apapun...
Hingga aku tak memiliki keunggulan di satu titik.
Dimana semua ilmu ku telan dan ku terapkan.
Sosiologi,geografi, dan sejarah...
Serta elektro...
Otomotif...
Astronomi pula astrologi.
Fisika, nuklir, fluida, listrik...
Sastra, nada, grafik, citra, dan lukis...
Travel...
Logika algoritma, logika pemrograman...
Pula kini sistem informasi...
Semua aku mengerti meski hanya sebagai orang awam.
Semua ku pelajari otodidak...

Lalu ketika hampir banyak ku mengerti...
Aku bingung apa potinsi atas semua ini...
Semua ku pelajari atas kesukaan...
Hingga akhirnya aku lelah akan semuanya yang terjadi.
Apa yang ku dapat seakan-akan nol besar...
Aku tidak memiliki potensi yang besar di antara semua itu...
Jauh dari perkiraan...
Bahwa tuhan telah menciptakan otak dengan berjuta neuron.
Aku tak menyangka bahwa otak ini sanggup menampung semua.
Maha besar tuhan yang maha esa.

Dianara itu...
Aku tak pernah fokus di satu ilmu...
Rasa serakah akan ilmu selalu saja muncul dan ingin merauk semuanya.
Hingga akhirnya aku tak tau dimana bakatku...
Dan ketika orang bertanya apa yang aku kuasai...
Aku tak tau apa apa tentang semua ini,..
Tak ada...
Aku tak unggul diantara semua ini...
Aku masih saja merasa bodoh diantara semua ini...


Jakarta, 17 Desember 2016
02:51 A.M.
Gamal Johanes Perdana


Kamis, 15 Desember 2016

Selamat Mimpi Indah

Tuhan, lindungilah dirinya ketika malam sunyi...
Ketika tidurnya hangat dengan doaku.
Dimana mimpinya yang indah sebab aku yang temani harinya.
Tuhan, biarkan ini tetap stabil adanya...
Langkah ini berjalan menuju angka ganjil.
Dimana rasa yang tertanam tumbuh dengan baik.
Antara aku dan dirinya...

Tuhan, lelapkan tidurnya dengan cintaku...
Sosok wanita yang tangguh hatinya menemaniku.
Yang ku kenal di lapangan basket yang gersang.
Yang juga pernah mempertahankan hatiku untuk tetap miliknya.
Sehatkan raganya dalam kegelapan ini.
Cintanya begitu sejati ku miliki...
Aku sangat mencintainya kini...

Tuhan, indahkan lah mimpinya dengan sastraku...
Yang terajut sebab kekagumanku akannya yang teramat sangat.
Ya tuhan...
Terima kasih kau telah cipakan dirinya untuk temaniku selama ini.
Jalan ini masih jauh untuk di tempuh bersama.
Meski dirinya hadir dengan sedikit kekurangan ...
Doakan aku agar bisa menutupi semua keburukan itu.
Dan dirimu...
Tetaplah jadi yang terbaik untuk kehidupanku esok...
Selamat malam delman utama...


Jakarta, 15 Desember 2015
01:17 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Rabu, 14 Desember 2016

Malam Petang

Terbangun ketika malam petang...
Seperti ada hal yang tak bisa aku jelaskan.
Entah apa yang kini aku rasa.
Aku hanyut dalam alunan nada yang mendayu.
Mengayun dan menenangkan...
Hingga perasaan ini hanyut pada lantunannya.

Entah kapan kan kutemukan kejenuhan...
Ketika kerinduan yang teramat sangat hadir.
Dini sebelum fajar...
Atau ketika keharuan memakan habis semua perasaan.
Dalam pena, aku bercerita tentang kehidupan.
Hidup yang memiliki berjuta warna dan rasa...
Penuh asa dan suka cita...
Dalam denyut nadi yang kian terasa.
Aku hidup dalam perasaan ketika malam petang.

Meski tak ada bintang...
Bulan cukup indah malam ini ku pandang...
Meski di tutupi butiran awan.
Sinarnya tetap mampu menembus kabut.
Dan ketika pagi datang...
Semua akan terasa berlalu terlalu cepat.
Terlalu dingin dirasa...
Hingga aku tersadar satu saat nanti.
Untuk apa aku berlari?...


Jakarta, 14 Desember 2016
12:43 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 12 Desember 2016

Torehan Kata Untuk Alam

Hai air...
Turunlah kau lintasi lembah,,,
Lewati serumpun padi yang begitu luas terhampar.
Hijau ku pandang tanpa cacat...
Terlihat asri dengan kincir yang berputar.
Meski terbilang panas, suasana ini begitu tenang kurasa.
Inilah negriku...

Sukamantri...
Ketika kulihat ngarai nan membentang dalam hutan...
Yang diantaranya ada air yang turun dan terjun.
Burung yang terbang lalu berkicau...
Sinar yang membentuk bayang pelangi nan indah.
Di dalam sejuta pinus dan cemara yang menjulang tinggi.
Ku simpan cerita yang begitu menghangatkan jiwa...
Tentangnya yang tak jua ku temukan rasa jera...
Ketika itu...
Senar yang terpetik menciptakan deretan lagu tanpa jeda.
Di antara lembah dan lapangan hijau membentang.
Sejuk yang meneduhkan kala matahari menyengat dan membakar.
Hanya satu ingatanku kala itu...
Kala cinta datang lalu menghempasku jatuh ke dasar ngarai.
Diantara air dan koral tajam...

Halimun...
Diantara fajar yang menakjubkan kala itu..
Dan ladang teh yang sangat asri bersama bukit dan lembah.
Aku lahir bersama ke enam saudaraku.
Di atas bukit disamping padi yang berserakan...
Yang setahun kemudian ku jumpai lagi dengan suasana nan memukau.
Tak terjamah dan jauh dari peradaban metropolitan.
Dingin yang menusuk kulit, dengan kehangatan yang mendaging...
Aku turuti katanya meski tak lagi ku temui kesadaran disana.
Berjalan diantara hutan yang kelam....
Melintasi bukit teh diantara senja yang tercipta sore itu.
Kapan semua akan terulang lagi...
Aku rindu akan kehangatannya kala fajar menembus kabut...
Sejuta kenikmatan tercipta disana.
Halimun...

Meski kini tak ku jumpai lagi...
Aku yakin satu hari nanti semua akan kembali...
Jalanku masih terpapar luas di antara lembah yang tercipta.
Dan lantunan musik yang begitu menenangkan jiwa.
Katanya lembut seperti kapas, dan tenang seperti air...
Ku jumpai kau untuk di lain hari nanti...
Salam lestari...


Jakarta, 12 Desember 2016
11:38 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Minggu, 11 Desember 2016

Senandung Sastra

Dalam ketenangan,..
Semua ini tercipta dengan haru.
Tak ada pesan dan juga tak berkesan...
Ku putar musik...
Ku putar memori...
Segala yang ku ingat adalah hal yang manis.
Siapapun itu...
Masa kelam pula masa menderang...
Itu semua adalah lalu.

Ketika ku temui jalan di penghujung fajar.
Pula matahari yang terbangun dari tidurnya semalam.
Pecah dengan partikel panasnya...
Membangunkanku dari mimpi indah semalam suntuk.
Mentari yang hadir kali ini indah dari sebelumnya.
Dan sebelum itu...
Apa aku bisa pertahankan perasaan ini?...
Ketika perasaan yang perlahan ku hapus.
Akankah aku berhasil membohongi hati ini lagi.
Atau ini akan menjadi bumerang lagi?...

Tuhan, tuntun aku keluar dari perasaan ini...
Ketika dengan tenang ku ambil tindakan perlahan.
Hingga sejauh ini...
Aku  bisa berjalan untuk coba melupakan.
Dan walaupun satu saat nanti akan hancur lagi...
Sebab aku tak kuat melihat pandangan matamu yang menolek.
Tawa nan indah mempesona...
Biarlah...
Cinta memang lahir dari hati...

Ketenangan ini membawaku pada alam imajinasi...
Ketika lampu yang remang hangatkan suasana.
Ketika itu aku larut pada dunia sastra...
Sebuah karya yang lahir dari hati yang murni.
Dan ku ubah rasa pait menjadi manis di kenang.


Jakarta, 11 Desember 2016
11:35 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Rintihan Rinduku

Rindu...
Kata itu yang hanya terlontar.
Aku rindu akan amarahmu memperhatikanku.
Apa kamu juga sama disana...
Atau kamu berpikir kalau aku biasa saja.
Tak perlu kamu tau sayang...

Malam ini...
Aku berharap bisa menghubungimu.
Tapi sulit...
Aku hanya ingin datang.
Atau haruskah ku tahan perasaan ini.
Ketika rasa sayang dan cinta bersatu dalam rindu.
Aku hanya ingin kau tau...
Kalau doa ku hadir pada mimpimu malam ini...
Selamat tidur...
Salam sayang dariku...
Gamal Johanes Perdana

Jakarta, 11 Desember 2016
02:50
Gamal Johanes Perdana

Sabtu, 10 Desember 2016

Langkah Kakinya

Ya tuhan...
Aku baru menyadari semuanya.
Akan tentang hal ini setelah aku kehilangan.
Dan apa lagi yang akan kuperbuat.
Ketika sesal yang kini hanya tersisa.
Akankah semua ini membaik...
Atau aku tetap aku yang tertunduk sedih.
Yang meratap semuanya setelah badai berlalu.
Tuhan, aku yakin engkau memahaminya...

Terlintas sejenak dalam pikiran...
Ketika kuingat hal yang mungkin harus kulupakan.
Tentang bayangnya yang semu.

Langkah kakinya masih bisa terdengar...
Dan obat penawar itu.
Telah menyembuhkan segalanya yang terluka...
Dan tak jua dia pergi.
Ketika kegelapan menelan segalanya...
Akankah dia pergi untuk membenci?...

Dan tuhan...
Tak ingin lagi aku larut padanya.
Jika memang waktunya...
Aku akan keluar saat itu juga...
Sebab mencintainya penuh dengan kepedihan.


Jakarta, 10 Desember 2016
12:56 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Kamis, 08 Desember 2016

Rasa Kecewa

Kekecewaan itu hadir disaat kita berjalan lesuh.
Sebab semua tidak sesuai pada rencana.
Yang mana kala kita berusaha penuh maksimal.
Orang itu menghancurkan tanpa sesal.
Inilah aku, bersamanya yang kini mengecewakan.

Langit memang biru...
Tapi bukan berarti langit berwarna biru.
Dan rasa sedih memang lahir dalam hati...
Namun siapa tau?...
Ketika aku terduduk santai lalu berpikir.
Mengapa semua bisa mengecewakan...
Hanya bisa tabah, lalu berkata...
Kehidupan itu memang harus berubah.
Tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.

Kekecewaan itu milik mereka...
Dan tentang semuanya, biarlah...
Tak perlu ada yang mengerti akan hatiku.
Aku hanya bisa memberikan apa yang ku punya.
Katakah, atau tenagakah...
Aku lahir dengan rasa pengabdian yang besar.
Loyalitas yang baik...
Sadar atau tidak...
Mereka telah mengecewakan semua bentuk.
Dan aku...
Hanya ingin lihat apa yang terjadi nanti...
Mainkan...


Jakarta, 8 Desember 2016
11:31 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Kalley

Berlari cepat lalu berguling...
Nampak riang kulihat kau malam ini.
Putih nan lembut bulunya.
Dia adalah kalley...
Serigala kecil yang putih.

Dia hidup berdampingan bersama kakaknya...
Lois de olmow.
Buntutnya yang cacat tidak membuatnya kurang.
Sebab ia memiliki bulu dan mata yang berbeda.
Pula suara raungnya yang lembut.
Tingkahnya yang konyol serta...
Rasa manjanya yang teramat sangat...
Dia adalah Kalley...

Dan ketika sayup matanya kulihat...
Sunyi dan tak lagi ku lihatnya bermain bersamaku.
Hingga ketika pagi datang...
Dia yang akan mengganggu tidurku.
Dengan jilatan lidahnya yang kasar...
Kalley...


Jakarta, 8 Desember 2016
12:04 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Rabu, 07 Desember 2016

Perasaan Murni

Jiwa yang tenang...
Dan kali ini...
Hati, imajinasi, Dan musik menjadi satu.
Dalam satu perasaan rindu mendalam.
Kala ku ingat dirimu lagi malam ini...
Dalam kegelapan, pikiran ini melayang.
Terbawa nada dan bayangan.
Dan tuhan,,,
Cinta ini sulit larut seperti intan.

Kalau langit punya awan yang lembut...
Aku punya perasaan yang murni seperti embun.
Dan semua yang tersimpan rapih...
Pada lusuhnya buku dan pena yang kumainkan.
Lalu ku gambarkan realita berbentuk alfabet.
Karna inilah cinta yang berbuah seni.
Diatas papan, jari menari dengan lembut.
Lalu hati berbisik halus...
Bahwa aku mencintainya.

Perasaan ini seperti berlian...
Sulit hancur dan sulit dibentuk.
Biasan warnanya yang begitu sempurna...
Membuat cahaya terlihat cantik.
Sama seperti bayangnya yang kerap hantui pikiran.
Dengan rasa cinta...


Jakarta, 7 Desember 2016
12:45 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 05 Desember 2016

Tanah Air Beta

Indonesia...
Negara yang subur dan kaya.
Dengan sejuta ragam flora dan fauna.
Orangnya ramah dan tamah...
Nan indah dengan kebudayaan luhurnya.
Esa ketuhanannya...
Suku yang multikultural...
Inilah negara ku, bisa kau sebut dengan pulau melati.
Aku bangga, jadi warga negaranya...

Tidakkah kau lihat...
Air yang mengalir diapit lembah nan curam.
Nian bening dan murni seperti peradabannya.
Alangkah indah negri kita ini.
Hamparan ladang padi yang hidup dipangkuan ibu pertiwi.

Aku tenang berada disini...
Indonesia yang hidup dengan berbagai iklim.
Rimba yang berada di garis katulistiwa...

Biar orang berkata apa, aku tetap cinta negri ini...
Erat ikatan persaudaraannya...
Tangguh rakyatnya pula aman wilayahnya.
Aku tenang hidup di negara yang berdaulat ini.


Jakarta, 5 Desember 2015
11:35 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Minggu, 04 Desember 2016

Kata Untuk Semesta

Kalau saja aksara bisa menggambarkan keindahan nyata.
Aku ingin gambarkan suasana tenangnya alam disini.
Kalau disana ada punggungan dan lembahan...
Yang diantaranya ada air yang mengalir lembut...
Lalu pecah di antara ngarai yang menjulang tinggi.
Di antara partikel air yang dilewati cahaya matahari...
Membentuk sebaris warna yang sangat menakjubkan.

Kalau saja aksara bisa mewakili citra senja nan mempesona.
Yang didalamnya terdapat sejuta terumbu karang...
Dan tersimpan di dalam luasnya segara.
Terhempas dan terbawa hingga ke tepi pantai..
Tertiup tenang dengan angin lalu hancur oleh kristal.
Meski sempat ku tuliskan kata dengan lembut.
Ombak terlalu cepat menghapus kata tersebut...

Dan aku masih bermain pada imajinasiku...
Tentang semua rencana dan mimpi-mimpi.
Yang didalamnya tercatat cita-citaku akan negara ini.
Dan sejuta tujuan yang belum juga terhapus.
Masih terbaca jelas...
Meski kehidupanku belum terlalu jelas...
Aku hanya akan lakukan hal yang aku suka.
Dan benar menurutku...

Jakarta, 4 Desember  2016
11:17 P.M.
Gamal Johannes Perdana

Mimpi


Berkali-kali aku melangkah...
Di dalam perasaan yang indah...
Di dalam mimpi yang begitu menguras ilusi.
Bahkan setiap kali ku ingat dirimu.
Ada hal yang ingin aku sampaikan namun tak bisa.
Inilah aku...
Hidup bersama mimpi yang tak terungkap.

Aku paham bahwa aku hidup di alam bawah sadar...
Dan lagi-lagi aku biarkan diri terkurung disini.
Sebab aku tak mau kehilangan...
Aku tak rela melepas semua mimpi yang telah terbentuk.
Meski hanya sebatas penggemar rahasianya.
Dan walau hanya berbentuk mimpi.
Hidup ini serasa berwarna ketika aku memikirkan nya...
Karna ini cinta...
Yang hadir tanpa kenal jarak pandang.

Meski lama dia hidup dalam mimpiku.
Tak apa lah...
Sebab kehadirannya mewarnai seniku.
Aku yakin...
Ini bentuk karunia tuhan yang maha Esa


Jakarta, 4 Desember 2016
12:15 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Sabtu, 03 Desember 2016

Malam Sabtu Bersama Ibu

Kupetik dawai gitar...
Bersama ibu, aku bernyanyi malam ini.
Merdu dan asri terdengar.
Hingga akhirnya waktu yang mengakhirinya.
Ya, ibuku adalah orang yang pandai bernyanyi.
Akankah malam ini melarutkan segalanya...

Berganti nada merdu ke ceria...
Tampak jelas dimatanya ku lihat haru.
Sebab ia sangat menghayati setiap nada yang terlontar.
Dan dia adalah ibuku...
Sosok wanita yang tabah merawatku.
Hingga kini, aku sepikiran dengan hidupnya...
Sosok yang bisa kunilai melankolis koleris.
Yang jika ku telusuri jalan hidupnya...
Sifat melankolisnyalah yang turun padaku...
Aku sangat menyayanginya...
Pipalupi Rahayu...

Ya tuhan, keberkahan ini sungguh takkan ku lupa.
Dan aku bersyukur padamu atas malam ini.
Aku bisa berkolaborasi dengan merdu...
Bersamanya bernyanyi di malam sabtu...
Ibu...

Jakarta, 3 Desember 2016
01:16 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 02 Desember 2016

Bulan Dan Bintang

Malam yang damai...
Aku terduduk memandang orion yang hadir malam ini.
Mereka hadir membentuk garis khayal yang tinggi.
Dan aku hanya memandang mereka 5 bintang.
Yang saling terhubung membentuk jarum kompas.
Mereka memiliki dua arah pandang berbeda.
Dua prinsip dan ideologi yang berbeda.
Kirana...

Meski kita terpisah jarak dan waktu...
Aku yakin kita sepikiran dan sependapat.
Saling rindu dan ingin bertemu.
Mengingat kita adalah lima bintang...
Yang di ikat erat menjadi satu rasi bintang nan menolek.
Dan terpampang jelas di atas malam kelam.
Yang memang asri dilangit bersama bulan lingkar penuh.
Yang kala itu, kita saling mengisi dan bermain bersama.
Membuat suasana indah malam hari...

Kala itu, Kita tenang berdampingan di atas langit.
Mungkin itu takkan terulang...
Memang waktu terus menelan semua yang ada.
Kirana dan purnama...
Hingga akhirnya semua berpencar mengejar masa depan.
Aku rindu kalian...

Perpisahan memang pasti terjadi...
Aku yakin, meski raga berpisah, Kita tetaplah rasi bintang.
Yang asri berpadu dengan Bulan purnama.
Tampil di dalam segitiga malam...
Tetap hidup membina belantara...
Dan aku rindu kalian semua berkumpul seperti dulu.
Lagi...

Jakarta, 2 Desember 2016
12:34 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Kamis, 01 Desember 2016

Tentang Pesannya

Desember Pagi...
Awal bulan yang baik dengan lantunan musik.
Di musim penghujan, dibalik mendungnya awan.
Jakarta kini diselimuti deru hujan...
Meski pintu yang tertutup di penghujung langkah.
Ketenangan kini membawaku keluar dari mimpi.
Namun benih itu masih tertanam baik...
Dan aku memutuskan untuk berhenti melangkah.
Ketika pintu hampir tertutup...
Berat rasanya untuk meninggalkan ruangan ini...
Dan aku biarkan itu tertutup mengurungku disini.

Kata-katanya memberikanku pelajaran berharga...
Meski sempat aku menangis.
Pesannya membuka hal baru yang bisa aku terima.
Katanya bijak seperti prilakunya.
Dan dia adalah orangnya...

Desember membuka segalanya...
Ketika dini merasuk ke dalam sukma.
Saat itulah kedamaian melarutkan segalanya.
Dan aku memutuskan untuk tetap disini.
Hidup bersama pandangan baiknya.
Disana...


Jakarta, 1 Desember 2016
12:35 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Selasa, 29 November 2016

November...

Di senja akhir november...
Katanya mengantarkan langkahku menuju pintu.
Yaitu pintu keluar dari hatinya.
Sebelum aku keluar dari akar permasalahan ini.
Aku ingin dirinya paham akan apa yang selama ini menjadi rahasia.
Ketika perbatasan leuwiliang menjadi saksi bisu atas perasaan.
Ketika halimun dan salak...
Serta sumbing yang menjadi pusat segalanya.
Hingga berakhir di akhir november...

Kututup rasa sayangku dengan terpaksa...
Langkahkan kaki dan kepalkan tangan.
Semua harus ku lakukan meski pahit dan sakit.
Tak berguna...
Dinginkan kepala, lalu pergi dengan perlahan.
Namun pasti...
Semua harus selesai ketika fajar hadir menerangi desember.
Kutaruh pena dan kututup buku untuk selamanya.
Aku berjanji pada dunia...
Bahwa aku tak ingin lagi memikirkannya.

Sapta Aldaka...
Ketika perjalananku selesai sampai disini.
Takkan kuhapus sejarah semua ini agar tak lagi ku ulangi.
Dan aku...
Adalah aku yang hidup pada jati diriku sendiri.
Aku memilih untuk keluar pada detik ini...
Aku harus menutup pintu sebelum pintu tertutup.
Aku harus mengucapkan salam perdamaian sebelum memburuk.
Aku harus berjalan lekas sebelum semuanya berakhir.

Sebelum itu...
Aku titip perasaan ini.


Jakarta, 29 November 2016
11:16 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 28 November 2016

Sedikit Tentang Cintaku

Detik memukul lonceng...
Sumbu menyundut mesiu...
Api membakar minyak...
Dan maaf tetaplah maaf.
Setelah rasa ini terpendam hingga ke inti hati...
Tak kuat ku menahan tangis.
Jari bergetar sebab jiwa terguncang.
Air mata jatuh sebab tak kuat menahan.
Rasa ini seperti mesiu yang tersundut sumbu panas.
Meledak dan memporak-porandakan jiwa.
Melunturkan air mata, dan...
Tuhan, aku tak kuat menahan segalanya sendiri...

Kata maaf hanya terlontar ketika semua memburuk.
Dan aku, tetaplah aku yang terburuk bagimu.
Dan kini, perasaan ini sungguh terbongkar hingga inti.
Meski hanya tersurat teks...
Rasa ini masih kecil terungkap sebab cintaku...
Bukan sekedar teks kilat...

Senin, 28 November 2016
11:26 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Bentuk Rasa Dalam Aksara

Mungkin hanya sejuta aksara...
Dimana ketika air mata mewakili segalanya.
Dimana ketika Perasaan yang dalam tercipta.
Hanya untukmu seorang...
Tanpa kau menyadari akan sedemikian rupanya kata ini kubentuk.
Tanpa kau mengerti arti bait demi bait yang terukir.
Pada layar yang penuh bintikan cahaya nan indah menolek.
Apakah mungkin kau menyadarinya disana.
Apakah mungkin kau tau akan semua baris yang tercipta.
Dariku, dan memang hanya untukmu...

Mungkin hanya sejuta aksara...
Yang mewakili seberapa dalamnya aku pernah jatuh cinta.
Yang mampu menciptakan kata seindah senja.
Dan mungkin hanya karna dirimu disana...
Aku hadir dengan sejuta sastra yang tak terungkap.
Dan tak tertulis siapa yang aku maksud dari tulisan ini.
Dia adalah pujaan hati...
Yang sempat ku kenal akan kesempurnaannya.
Hai cinta, antar mimpiku padanya selama ini.
Sebab, dia hanya tau kalau aku mencintainya.

Mungkin hanya sejuta aksara...
Dan memang tercipta ketika aku ingat akan keanggunanmu.
Ketika perlahan kau berjalan meninggalkanku pada detik itu.
Hujan pun datang dan menghapus langkahnya...
Hingga kini, aku hanya ingat akan pandangannya kala itu.
Sebelum akhirnya aku menyesal...
Sebab semuanya telah terlambat.


Senin, 28 November 2016
04:10 A.M.
Gamal Johanes Perdana


Jumat, 25 November 2016

Akhir Mimpi

Akhirnya...
Aku temukan cahaya putih di persimpangan.
Yang artinya aku temukan jalan keluar dari hatinya.
Hanya beberapa langkah lagi...
Kaki ini berjalan menuju pintu keluar dari haatinya.
Ohh tuhan, terima kasih atas semuanya.

Meski batin sempat teroyak habis...
Tak apa bila memang itu adalah akhir segalanya.
Aku sangat menunggu momen seperti ini.
Tak ada lagi gunda, hingga akhirnya...
Semua bisa ku lupakan.
Tak ada lagi kata sayang dan rindu padanya.
Ohh tuhan, Kau tunjukan pelita di ujung jalan.
Setelah 2 tahun lamanya aku larut pada kegelapan.
Dan mimpi indahnya...
Ingin ku bergegas malam ini hingga selesai...
Namun, aku tak ingin terlalu tergesa-gesa...
Hai senja, Kau terbenam sangat indah sore ini...

Ohh tuhan, izinkanku menutup buku ini...
Dengan baik tanpa kebencian dan dendam.
Dan tuhan...
Izinkan aku menghapus semua mimpi...
Merobak alur hidup...
Menghapus jejaknya,...
Dan tuhan...
Aku mengerti apa yang pernah ku tanam masa itu.
Adalah obat yang ku temukan saat ini...

Oh tuhan...
Izinkan aku terbangun dengan ide baru pagi ini...
Cerdas dan bebas...
Hingga aku bisa bangun dari mimpi...
Mimpi yang terlalu lama dan indah ini...
Beberapa bait lagi...
Aku akan terbangun dari mimpi panjangku.
Selamat tinggal...

Jakarta, 25 November 2016
10:59 P.M.
Gamal johanes Perdana

Melati Nan Asri

Langkah tenang...
Dimana bulan terang menolek.
Ketika satu idealisme merasuk dalam tulang.
Legar suara berteriak bebas...
Membarakan semangat dan tekat.
Aku berlari melewati halang rintang.
Lelah, Lunglai, tak lagi kurasa...
Semua terangkum dalam aksara.

Kilau cahaya terpancar dari ufuk timur.
Suguhkan secangkir teh hangat...
Sejuta keindahan tercipta ketika burung berkicau.
Cahaya yang menembus kilau embun...
Udara yang memuai hangat.
Berpadu dalam lantunan suara yang kunyanyikan.
Di tepi sungai bersama air yang mengalir.
Aku cinta negara yang berdaulat ini.
Indonesia...





Jakarta, 25 November 2016

00:45 A.M.
Memo:
Baru bolang, 20 November 2016

Gamal Johanes Perdana

Rabu, 23 November 2016

Petualang


Aku ingin bebas, seperti burung yang terbang di awan.
Berenang seperti ikan di samudra.
Tanpa ada batas yang menghalangi jalan ku.
Menambah wawasan dimana ku belajar segalanya.
Bernyanyi dengan alam dan hewan.
Beradaptasi dengan kekerasnya keadaan.

Aku sadar, bahwasannya aku tak begitu bebas.
Terbatas antara dinding dan jurang.
Kebebasan hanya jadi impian yang menyenangkan.
Begitu sulit tuk di kabulkan di hidupku.
Lompatan ku tak sanggup menggapai dinding yang tinggi.
Lari ku tak secepat bumi ini berputar.
Teriakanku pun termakan oleh gemuruh dan halilintar.
Pandanganku terhalang oleh gelapnya dasar laut.
Terus mengejar, menggapai, menjerit, mencari cahaya.
Hingga aku tak kuat tertekan seperti ini.

Sadarku...
Hidup ini adalah petualangan dan kenikmatan.
Aku melawan arus kerasnya zaman yang menghantui pikiranku.
Siapa yang kuat, ialah pemenangnya...
Ku belajar melompat dari pendek hingga tinggi.
Ku belajar berlari dari pelan hingga cepat.
Ku belajar berteriak melawan gemuruh dan halilintar.
Ku belajar meraba tanpa cahaya.
Mendaki tuk meraih mimpi di atas puncak.
Mengayuh tuk menjadi lebih cepat.
Hingga ku mengatakan "aku akan datang lebih dari ini"
Pelita cukup menerangi malam yang dingin.

Mimpiku belum terwujud.
Aku ingin hutan tempat tinggalku.
Gunung tempat wisataku.
Dan binatang teman temanku.
Tak ada lagi rasa takut ketika ku bermalam di hutan.
Hal biasa ketika ku tersesat di gunung.
Sehingga ku anggap harimau sebagai kucing peliharaan.

Takan ku pandangi burung yang terbang.
Aku telah menjadi bintang.
Tak ingin lagi ku menjadi ikan kecil di samudera.
Karena ku telah menjadi ikan paus.
Senanglah saat ku melihat generasi baru tumbuh.
Menekuni langkah apa yang pernah aku lewati.
Untuk menjadi hebat dari yang lemah.
Di sini aku masih memimpikanmu.

Jakarta, 23 November 2016
11:10 P.M.
Gamal Joanes Perdana

Selasa, 22 November 2016

Sungguh Aku Mencintainya

Mereka adalah butiran aksara...
Yang tersusun atas dasar perasaan hati.
Yang berbaris membentuk kalimat dan paragraf seni.
Bermakna dan beralur lembut seperti kapas...
Tak berbunyi, Namun bisa membuat kau bersuara.
Tak menangis, tapi bisa membuat kau menangis.
Tak bercitra, tapi kau bisa melambung atas imajinasi.
Semua tersusun atas dirinya...
Dari lentik jariku, untuknya.
Yang hadir ketika malam penuh dengan jutaan bintang.

Begitu pula cinta mengetuk batin...
Berkata salam yang lembut, namun sangat mengguncang perasaan.
Yang tak tertulis, namun bisa membuatku berkata.
Yang tak menghujam, namun bisa membuatku merintih kesakitan.
Yang tak berwujud, sebab bayangnya hanya ada dalam mimpi.
Dan terus menjadi mimpi yang kerap menghantui.
Kala malam datang...
Dirinya datang dengan menghiasi perasaanku yang dalam.

Bagai kilauan embun fajar...
Rasa ini terlalu murni untuk terungkap secara kata.
Sebab apa yang ku rasa sangatlah tinggi kadarnya.
Dan rapih terkubur dalam sanubari.
Dan dirinya yang aku cintai...
Tetaplah menjadi hal yang begitu indah untuk ku cintai.
Meski takkan mungkin ku miliki...
Biarlah...
Kurasa dirinya akan temui kehidupannya sendiri nanti.
Tuhan...
Sampaikan salam cintaku.
Untuk dirinya seorang....
Dalam sejuknya pikiranku malam ini.

Jakarta, 22 November 2016
01:02 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 21 November 2016

Melankolia Bolang

Baru Bolang...
Kau datang dengan udara pagi bercampur air.
Desir sungai dan kicauan burung kutilang.
Kilau matahari menyinari bening embun diatas daun.
Aku terbangun dengan pikiran bebas tanpa beban.
Tanpa bising, tanpa polusi, tanpa anarki...
Aku menyukai semua suasana alam ini...

Berkemas untuk bergegas...
Aku berjalan melintasi lembah dan sungai.
Ngarai dan punggungan asri menjadi dinding.
Ku usap keringat, lalu berjalan lagi...
Inilah kehidupan alam yang penuh kedamaian abadi.
Tempat aku berdiri dan menempa hati.
Rintik hujan menghapus semua kelelahan semua ini.

Hingga senja menjelang diperbadasan...
Sejenak melintas dipikiran ini tentang salamnya.
Meluluhkan luka, menghilangkan lelah jiwa...
Memang rasa cinta ini masih terpupuk baik di dalam hati.
Namun, apakah aku bermimpi terlalu dalam untuknya.
Sosok melankolia yang identik dengan seni dan sastra...
Oh tuhan, beribu kali kuhindari hujaman cintanya.

Akankah kubiarkan rasa cintanya tumbuh berkembang?...
Ataukah aku larut pada lautan mimpi yang menggenang...
Apakah semua akan nyata, atau hanya larut dalam rasa...
Dirinya begitu sempurna untuk ku miliki tuhan.
Tolong lupakan bayangnya dari pikiran ini ...
Tak pernah aku merasa bahwa dirinya pantas untukku.
Aku hanya menggemarinya sebagai melankolia...
Cinta...

Dini hari baru bolang...
Ketika malam menghantam dan melerai semua tenaga...
Otak, Energi, Fisik, bahkan darah telah terlerai dalam rimba.
Hingga pagi nan permai datang menarikku dari alam bawah sadar.
Dengan sisa linu dan amis bau darah, aku terbangun...
Bergegas ku berdiri lalu bersuci di aliran air sungai.
Baru Bolang pagi hari...
Bayangmu tetap tumbuh didalam halusinasiku...
Melankolia Senja...



Baru Bolang, 18-20 November 2016
Rimba dan melankolis
Gamal Johanes Perdana


Rabu, 16 November 2016

Semua Tentang Kerinduan

Lama kaki tak melangkah...
Ketika mata melihat gedung tinggi nan menjulang.
Menara pencakar langit...
Aku seperti di kurung dan di kepung berada disini.
Melintas ditengah kota...
Seperti berjalan mencari jejak di tengah labirin.
Oh jakarta...
Kini aku berada di titik jenuh...

Selasa kemarin.
Aku terduduk di tangga koridor...
Di gedung sekolah lantai empat.
Siang dengan cuaca berawan, terlihat salak dari kejauhan.
Begitu juga pegunungan halimun yang terlihat asri.
Hal itu membuat hati rindu akan perjalanan.
Rindu akan jauh dari peradaban...
Melintasi semak belukar, rawa, punggungan dan lembah.
Memanjat tebing yang vertikal hingga horizontal.
Disini, aku seperti kehilangan jati diri...

Aku rindu akan merangkum perjalanan kelanaku.
Menulis ditengah hutan ketika dini hari menjelang...
Merekam semua kata tentang sejuta perasaan.
Aku rindu akan kobaran api dan denting suara gitar.
Di tengah mala ketika kabut menyelimuti kelam.
Ketika harum pinus semerbak tercium...
Deras aliran sungai yang dangkal menjelma kedalam pikiran.
Ketika itu barisan bait aksara kuciptakan...
Bersama rasa, asa, cinta, kenangan, dan harapan.
Dimana secangkir kopi yang ku telan...
Adalah saatnya aku untuk lupakan bayangannya dari pikiran.
Sebab aku sanggat mencintainya...
Pooh...

Jakarta, 16 November 2016
00:44 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 14 November 2016

Bersamamu Menuju Jakarta

Tuhan, aku sangat mencintainya...
Aku sangat menyayanginya malam ini.
Dibawah rintik air yang dingin.
Dirinya hadir di belakang menemani perjalananku.
Yang lelah tanpa daya tanpa asa.
Aku bahagia disampingnya...

Sampai aku disatu kota...
Sepi pada pukul 11 malam, bersamanya.
Dengan tubuh pucat dan dingin.
Berjalan menembus angin malam menuju jakarta.
Di atas laju roda dua...
Aku ada pada pelukannya.

Melipir dan berhenti...
Sejenak tenangkan pikiran bersamanya.
Dengan segelas teh hangat.
Senyumnya  hadir dalam pandanganku.
Dan usapnya hadir pada keningku.
Tuhan, Aku sangat mencintainya...

Jakarta, 14 November 2016
01:48 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Minggu, 13 November 2016

Mencari Jalan Keluar

Lantunan nada kuciptakan malam ini...
Merdu dengan suara lirih sedikit sumbang.
Ketika dia hadir lagi dalam mimpiku,...
Dan saat cinta mengetuk pintu hatiku.
Saat itulah bayangmu hadir dan menghantui.
Bahkan disetiap kaki melangkah, bahkan mendaki.
Menembus rimba...
Berlari...
Bersembunyi...
Berlari...
Dan jatuh...
Bahkan ketika aku melupakan jejaknya.
Bagaikan virus, menyebar dan tak ada obatnya.
Oh tuhan, aku benci mengakui kalau aku mencintainya.

Malam begitu cepat melarutkan asa.
Hingga dini hari menelan semua amarah yang ada.
Semakin aku menghindar...
Tubuh dan jiwa ini semakin terikat kuat akan dirinya.
Dan cinta tetaplah cinta yang hadir hanya dimimpi.
Semakin ku memujanya, semakin tak ada celah lari.

Ketika mata remang akan lelapnya raga.
Ketika hati ini sudah tak lagi sanggup menutup semua perasaan.
Dan disaat aku berkata seadanya...
Disaat itu kau boleh membenciku dengan keras...
Sebab itulah cara terakhir agar aku bisa melupakanmu.
Jikalau memang tiada harapan...
Tolong kau tunjukkan jalan keluar dari hatimu.

Jakarta, 13 November 2016
02:10
Gamal Johanes Perdana

Kamis, 10 November 2016

Lois De Olmow

Meong ...
Merdu suaranya berbicara.
Dia berlari kencang lalu berbalik arah padaku.
Matanya bulat seperti bola ping-pong.
Berkaca-kaca seperti kelereng,,,
Dan dia adalah sahabat mungilku.
Lois De Olmow...

Meong Meong...
Kala dahinya ku usap manja.
Dia adalah sahabat mungil yang riang dan manja.
Selalu saja berbuat ulah yang konyol.
Selalu mencari perhatian lebih dariku.
Dia selalu tidur disampngku kala aku menulis.
Ya, dia adalah partnerku...
Lois De Olmow...

Meong Meong Meong...
Kata halusnya kudengar lagi malam ini.
Seperti berbicara denganku, tapi aku tak paham.
Kukunya yang tajam menghancurkan plastik berisi kertas.
Dan hancurlah semua kertas itu...
Ku rangkai lagi baris dan deretan kertas puisi.
Memilah dan memilih, hingga akhirnya aku temukan kertas lusuh.
Iya, aku ingat hal yang indah ketika dia menjelma.
Dalam tulisan itu terangkai kata...
"Tuhan, aku mencintainya sungguh dan sangat. Malam ini kutulis kata manis lagi lewat bait untuk kau kirimkan pada mimpinya. Jika dia tidak menyadarinya entahlah, Malam yang indah di anak sungai Cisadane, Perbatasan Leuwiliang"

Meong... Meongg...
Kala ku terbangun dari memoku.
Kulihat kucingku tertidur pulas di ranjang tidurku.
Tak lagi kulihat besitan matanya yang menolek.
Malam dunia...
Tidurlah dengan lelap bersama mimpi indahmu.
Dan ingatlah untuk sadar kembali...
Karna mimpi indah itu terlalu sulit dilupakan.

Meooong...


Jakarta,10 November 2016
11:59 P.M.

Gamal Johanes Perdana

Selasa, 08 November 2016

Kota Jakarta

Aku jenuh dengan semuanya...
Hampir tidak sempat kutemukan istirahat yang pasti.
Sedangkan lelah, panas, dan bising menjadi satu.
Kepadatan hampir bisa ku temukan di setiap perempatan jalan.
Jakarta...
Pembangunan aktif di sepanjang kota satelit.
Dan kini debu bangunan menutupi mataharimu.
Gedung dan tronton merentankan kakimu.
Kini kau memikul beban terlalu berat...
Dan Jakarta...
Anarkimu membuatku muak berada di kota ini.

Mereka hidup seperti tak memiliki dosa...
Sedangkan kapitalis sibuk akan uang yang bukan haknya.
Sedangkan disana...
Banyak deretan pencuri yang timbul sebab nasinya di curi.
Pengemis dan pengamen hidup seperti terbuang...
Dan ketika megrib berkumandang.
Kehidupan menjadi hiuk priuk seperti gemuruh rudal.
Kotaku adalah kota sibuk...
Kota yang maju di negara yang berkembang...
Kota metro politan...
Jakarta...

Jakarta, 08 November 2016
09:43 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 07 November 2016

Berlari Dan Bersembunyi

Tuhan, salahkah aku apabila aku mencintainya...
Aku selalu saja menghindar dan memanipulasi rasa.
Bahkan ketika aku merindukannya...
Aku berlari untuk menyendiri...
Merajut kata, menorehkan tinta di atas kertas putih.
Oh tuhan, mengapa rasa ini terus tumbuh subur dihati.
Padahal sudah kulakukan segala hal agar semua sirna.
Hingga hampir aku menyerah saat ini...

Halimun...
Sukamantri...
Bahkan lelah kaki ini berjalan menuju sumbing.
Dengan harapan penuh bahwa aku bisa melupakannya.
Hingga ketika sumbing bercerita...
Aku terduduk lemas diantara rumput ilalang.
Hingga ketika bintang datang...
Mata ini berkaca sebab dia tak jua hilang dari pikiran ini.
Ketika hati mencoba lupa dengan rekayasa.
Lagi...
Dan lagi.
Dirinya hadirnya di pikiranku, laksana fajar menjelang.

Langkah kaki ketika dini hari...
Ku petik lantunan nada dan kumainkan dengan lembut.
Aku nyanyikan sebuah lagu khusus untuknya.
Harum udara pagi dengan sebatang rokok dan teh dingin.
Ketika malam menjadi petang...
Rasa rindu semakin dalam ku pandang...
Hingga Pagi menjelang.
Aku tetaplah aku yang hidup dalam impian...
Semalam.

Jakarta, 07 November 2016
02:18 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 04 November 2016

Gejolak Teroris

Jumat dini hari di Jakarta...
Ketika para demonstran menghujani kota jakarta.
Dan kali ini, memang situasinya sedikit mencekam...
Mereka yang sedikit panatik dengan agama.
Datang dengan niat membela, katanya...
Dengan kata lain Jihad, mereka adalah orang bodoh...

Jumat dini hari di Jakarta...
Aktifitas jakarta 50 % lumpuh dikarenakan itu.
Sebab ada rumor berkata para demonstran adalah jaringan isis.
Dan aku percaya adanya, sebab...
Islam adalah agama yang damai dan memaafkan.
Jangan hanya dengan ucapan yang tidak disengaji.
Mereka datang dan menteror negri sendiri...
Hey kawan, indoneia itu multikultural...
Saling menghormati dan memaafkan itu sudah cukup damai.
Tak perlu dengan kekerasan, dan diskriminasi...
Apa lagi dengan nuklir, untuk apa kalian hidup di dunia...
Kalau hanya meneror kita sesama manusia.
Kita adalah makhluk sosial...

Jumat dini hari di Jakarta...
Polisi, TNI, BRIMOB, bahkan Densus 88 siap berjaga di jakarta.
Hey, Kota ini mulai dihantui kedatangan ISIS...
Baru saja kemarin tragedi sarinah...
Apa tujuan mereka semua, mereka bisa mati konyol sebab agama.
Aku tak perduli mereka...
Aku hanya memikirkan bagaimana negara ini.
Biarlah mereka tetap menjadi sampah yang perlahan di injak...
Lalu mati sebab ulah sendiri.

Jumat dini hari di Jakarta...
Aku terdiam dan berpikir tentang ramalan yang pernah aku baca.
Bagai mana tidak, teroris  di dunia ini semakin mencekam.
Dan ironinya lagi, Perang dunia 3 kemungkinan disebabkan teroris, katanya...
Entah kapan dunia ini akan damai...
Serdadu seperti boneka yang malang...
Tank seperti mainan yang rusak...
Dan Nuklir seperti asap yang menjamur...
Mereka meledakkan itu seperti tanpa dosa, tanpa masalah.
Meskipun hanya uji coba...
Yang melihatnya akan merasa tersaingi bukan...
Ketika mereka keras, tak perlu dilawan dengan keras.
Akankah ada orang yang menggantikan Mikhail Gorbachev.

Jakarta, 04 November 2016
01:03 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Selasa, 01 November 2016

Perasaan Canggung

Setiap langkah kau berjalan dengan tenang...
Itulah saat keteduhan datang, lalu perlahan mengetuk pintu hati.
Sebelumnya, tak ada niat untuk menanam benih rasa di hati...
Kalau ini awal dari segalanya...
Aku harap ini hanya seperti angin berlalu.

Plegmatis, tanpa suara dan hanya tersenyum pandangannya.
Unik caramu bertingkah anggun di depan mata...
Teduh kala kupandang ketika langit terik dan gersang.
Rasa rindu mungkin akan datang nanti...
Insan yang tenang gaya dan pola pikirnya...



Jakarta, 01 November 2016
03:34 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Minggu, 30 Oktober 2016

Perjalanan Panjang

Sekian lama aku berjalan dan mencari kebenaran...
Meski lelah kaki ini berjalan jauh.
Aku tetap mencari hal yang aku tuju.
Meski sempat dicaci maki, aku bertahan demi kebenaran.
Tak perduli seberapa keras dunia menghujat.
Jika logika berkata benar, mengapa harus ragu menjalani.

Aku berjalan diantara rumput ilalang...
Sampai akhirnya aku terhenti ketika kulihat senja tenggelam.
Kupandangi dengan cermat hingga akhirnya...
Aku sadar akan kegelapan yang menelan pandangan.
Meski akhirnya kewalahan ku mencari jalan keluar.
Dirinya tetap saja ada dan tumbuh di dalam pikiran.

Bagaikan virus, perasaan ini menyebar dan berkembang pesat.
Hingga aku tak kuasa mengendalikannya...
Meski terus kucari-cari obat penawarnya.
Tetap tak kutemukan kesembuhan yang pasti dari luka ini.
Meski telah berkali-kali ku berkelana dan kutuliskan.
Dia tetap tumbuh dan ikut dalam perjalananku.

Ketika dini hari datang bersama fajar yang hangat...
Aku terduduk dibawah pohon pinus dengan segelas teh hangat.
Dan ketika radiasi matahari pecah di atas langit.
Perasaan itu hilang seiring dengan udara malam yang dingin.
Kuraih tas dan kukemasi semua perlengkapan.
Lalu ku berjalan mencari kebenaran atas kehadirannya semalam.

Jakarta, 30 Oktober 2016
10:39
Memo in Sumbing, September 2016

Gamal Johanes Perdana

Jumat, 28 Oktober 2016

Untukmu Indonesiaku

Malam sabtu yang tenang...
Aku terduduk santai di teras rumah yang lusuh.
Dan di tanah yang basah berkas hujan tadi sore.
Di jakata...
Kutulis lagi kata tentang hari yang damai ini.
Di depan layar... Aku bercerita.....

Hujan rintik mengguyur jakarta disore hari...
Tak ada senja kulihat hari ini.
Udara yang sejuk menyelimuti jakarta yang kumuh.
Meski demikian, kotaku adalah kota yang kaya.
Pembangunan dimana-mana, sebab penduduknya yang rimbun.
Makmur meski mereka tingggal di tepi sungai.
Meski mereka ber-profesi sebagai pengemis, mereka adalah orang kaya.
Tapi itulah mereka, kaum yang mementingkan kehidupannya sendiri.
Egois bukan...
Mereka menghalalkan berbagai cara untuk memperkaya diri.
Realitanya memang seperti itu...
Dan aku membencinya...

Meski aku hanyalah seorang pelajar muda...
Tujuanku belajar bukanlah untuk menodai negara ini.
Apalagi merusak...
Aku punya cita-cita yang tinggi menurutku pribadi.
Dan ketika aku bercerita dengan bangga kepada mereka...
Mereka hanya menjawab:
"Hidup lu bakalan susah nanti disana..."
Dan terlebih lagi:
"Ngapain, buang buang waktu aja..."
Itulah komentar mereka...
Yang mencari gelar tinggi, hanya untuk memperkaya diri.

Aku Cinta Indonesia...
Tak perlu ku umbar hal ini, sebab aku memang ingin negara ini maju.
Aku ingin menjelajah dan melihat kehidupan pelosok negara ini...
Tapi, apakah aku bisa terpilih menjadi pengajar muda di kemudian hari?
Sedangkan, aku tidak bisa mendalami ilmu pendidikan itu sendiri.
Uang memang segalanya...
Tapi, apakah uang juga yang memisahkan cita-citaku untuk mengabdi?
Ohh tuhan, aku sangat mencintai negri ini...
Negri yang kapitais dengan kedok demokratis.
Sedangkan aku, masih mencari sela agar ketika sarjana nanti...
Aku bisa mengajar di perbatasan NKRI.
Hanya itu impianku...

Negara ini hanya maju di sektor kota.
Apalagi Jakarta...
Kota yang metro politan, Milik kaum Kapitalis...
Aku hanya ingin keluar dari kota ini...
Dan hidup di perbatasan negri...
Yang katanya, kehidupan disana jauh lebih keras.
Aku tak perduli...
Meski sulit, aku yakin tuhan memberikan kenikmatan tersendiri.
Bagi mereka yang tulus menolong sesama...

Bukan masalah apa yang aku cari...
Tapi, apa yang telah aku berikan untuk negara ini.
Ya tuhan, iringilah jalanku dengan limpahan rahmatmu.
Kuatkanlah batinku...
Kabulkanlah Permintaanku...
Amin...

Jakarta, 28 Oktober 2016
11:50 P.M.

Gamal Johanes Perdana

Dia Terlalu Sempurna

Hay cinta...
Aku siap hadir dikala dia menangis pilu.
Bahkan aku siap dibuang ketika dia bahagia.
Aku siap hadir dimana dia sedang sulit.
Bahkan aku siap di singkirkan ketika dia senang.
Aku siap mengisi kala dirinya jenuh cinta.
Meski kutahu pada akhirnya aku dibuang ketika ia sibuk.

Aku adalah cinta...
Yang rela menunggu dirinya datang tanpa suara.
Aku adalah kasih sayang yang belum ia temukan.
Dan aku adalah rasa yang belum iya dapati.
Aku adalah senandu nada...
Bahkan lebih indah dari mimpi yang ada, sebab...
Aku mencintainya tanpa suara...
Tanpa kata apalagi ungkapan.
Bagaikan camar...
Aku hidup diantara udara, darat, dan laut.

Meski tiap malam selalu ku termenung.
Tapi... belum prenah ku temukan kesurutan...
Meski cintanya akan menjadi pasang surut.
Tetap saja dirinya ada di mimpiku...
Dan cinta...
Mimpi ini terlalu panjang untuk ku jalani...
Meski di akhir jalan nanti kan ku temukan petaka.
Aku ingin sekali ada di hatinya walau sesaat.
Meski jalan yang ku tapaki terlalu panjang...
Aku mohon padamu tuhan...
Temukan akhir dari perjalanan cinta ini.
Sifatnya terlalu sempurna untukku miliki...

Jakarta, 28 Oktober 2016
02:15 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 24 Oktober 2016

Dalam Mimpi

Aku berjalan tanpa henti...
Seperti tidur setahun suntuk.
Dan jika ku rentangkan sejarah semua ini...
Banyak cerita dan rentetan aksara tercipta.
Tentang aku yang mencintainya.
Dan ketika aku terbangun...
Aku tersadar...
Bahwa mencintainya itu sangatlah indah.
Meski cintanya masih dalam terkubur.
Atau tersembunyi sifatnya...
Hal itu masih indah ku rasakan.

Meski waktu terus melarutkan...
Dan pikirku ini semua akan larut.
Nyatanya, rasa ini susah untuk dilarutkan.
Meski telah ku serpihkan perlahan.
Cinta, tetaplah cinta...
Dan sayang, ia tak menyadarinya.

Rasa ini telah menghempasku jauh di samudera.
Terombang-ambing hanyut ke lautan lepas.
Hingga sulit untuk terbangun dari keindahan cintanya.
Ohh tuhan...
Sampaikan rasaku padanya...
Bahwa Aku Sangat Mencintainya.

Jakarta, 24 Oktober 2016
02:23 A.M.

Minggu, 23 Oktober 2016

Aku Terlalu Sayang

Malam kelam tanpa bintang...
Hampa meninggalkan angan dan harapan.
Dengan sisa tenaga...
Aku bertetiak lantang tanpa suara.
Hai malam...
Kau telan semua jerih payah selama ini.

Malam sepi tanpa derik...
Terasa menyiksa ketika ada di dalam impian.
Dan untuk semua...
Yang tersisa hanyalah luka membusuk.
Hai duka...
Begitulah aku yang tertelan oleh harapan.

Meski telah lantang aku berlari...
Tak ku rasa lelah di hati.
Dan jiwa ini sungguh hampir sangat tidak sanggup.
Tapi apa?...
Semua masih ku paksakan untuk bertahan pada pendirian.
Meski telah ku ketahui semua jawaban.
Hingga ku kehilangan satu teman...
Dan itu semua...

Jika semua terulang dari awal sayang...
Aku akan pergi untuk tidak mengenalmu.
Tidak terpikat oleh tolekan mata itu...
Tapi sulit rasanya jika aku menjauhimu.
Sedangkan kita memiliki hobi di satu bendera...
Aku yakin...
Tuhan sudah merencanakan semua ini.
Dan semua ku serahkan padanya.

Jakarta, 23  Oktober 2016
02:18 A.M.

Jumat, 14 Oktober 2016

Halimun

Malam yang dingin di halimun.
Hampir dua tahun lamanya aku tak singgah disini.
Tempat dimana kartika kirana dilahirkan...
Dimana kala itu langit yang hitam kelam.
Di penuhi butiran mutiara yang indah...
Itulah halimun.
Aku cintai sebab ketenangannya yang teduh.

Disini aku terduduk menyendiri...
Tak ada inspirasi...
Tak ada ilusi yang jelas.
Hanya samar ku ingat dia.
Dan hanya remang ku ingat kirana.
Yang pasti ...
Hampir aku tak peduli akan kehadirannya.
Dan aku rasa aku hampir berhasil...
Sebab dirinya hanya terlintas.
Lalu aku lupakan...

Dirimu adalah cinta yang samar...
Ketika hatiku di ketuk dengan halus.
Dia masuk dengan sejuta keindahan.
Yang kala itu pikirku akan bahagia dengan sejuta aksara.
Indah jika ku ingat lagi...
Ketika kulihat ia memiliki satu kesamaan.
Dan lagi...
Memetik dawai dan bernyanyi bersama...
Merajut aksara dengan indah...
Kala ku pandang bola matanya.
Oh cinta, air mata itu jatuh sebab aku sangat mencintainya...
Biarlah itu berlalu...

Hampir dini di halimun...
Tapi tak jua kulihat bintang dilangit.
Meski hujan telah menghangatkan udara.
Tak jua ku temukan kehangatan di hati.
Meski telah mencair...
Dua tahun lamanya hati ini membeku akan kehidupannya...
Aku akui bawasannya aku terlalu memupuk itu semua.
Sebab dulu aku pikir terlalu sayang membiarkannya layu...
Dan kini, cukup ku berikan air.
Agar bunga itu tetap hidup bersama kenangan.
Dan sisanya...
Ku pupuk bunga yang hidup di hati ini.
Yang hampir lima tahun hidup di hatiku.
Sebab cintanya lebih sejati dan nyata...
Aku sadar kalau selama ini aku tertelan cinta yang samar.
Hai halimun...
Bantu aku keluar dari kekelaman hati ini.
Salam hangat...
Dariku untuk malam yang panjang.

Halimun, 08 Oktober 2016
11:43 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Kamis, 13 Oktober 2016

Saat Aku Kendalikan

Wahai malam ...
Aku bersumpah demi tuhan yang maha Esa.
Rasa ini sungguh menyiksa batin.
Hampir saja aku bisa lepas dari semuanya.
Dan lagi...
Rasa ini menggebu sebab aku yang tak pandai.
Sudah segala cara aku lakukan...
Tapi tetap saja...
Aku tidak sanggup mengendalikannya lagi.
Bahkan hampir dititik menyerah.
Maaf aku belum bisa...

Wahai bintang...
Di dunia ini, aku hidup seperti ilalang yang melambai.
Yang tenang tergoyang angin.
Damai di atas tanah yang tandus.
Dan bermain bersama burung dan serangga.
Tapi tak ada satupun yang bisa aku ajak bicara.
Hingga aku menangis...
Tak ada yang bisa mendengar dan melihat tangisanku.
Aku tetaplah menjadi aku yang terombang-ambing.
Di usap angin, dan di bakar cahaya...
Tak ada air, apalagi telaga...
Aku tetap menjadi aku yang benci akan kehadirannya.

Jika ditemukan luka...
Aku berkata pada mereka:
"itu bukan karena cinta"
Dan lagi aku berkata bohong kalau aku melupakan semuanya.
Hal yang paling tidak masuk akal.
Ketika pandangannya ada ketika aku berbicara.
Oh tuhan, ku kira aku tidak bisa mencintainya dengan penuh.
Tapi cinta berkata iya...
Dan sangat tidak mungkin aku mencintainya di satu lambang.
Dan sangat tidak pantas aku memilikinya...
Dirinyalah bagaikan intan permata.
Akulah bongkahan koral...
Meski cinta soal hati.
Derajatnya bukanlah untukku...

Jakarta, 13 Oktober 2016
10:54 P.M.
Gamal Johanes Perdana



Senin, 03 Oktober 2016

Aku Cari Kamu

Kucari kamu...
Kala kabut menutupi pandangan.
Dimana mimpi...
Masih kejam menghantui perasaanku.

Kucari kamu...
Dalam setiap pandangan yang lapang.
Dimana dulu...
Kau tapaki tempat itu dan tertawa lepas.

Aku cari kamu...
Di setiap dingin dikala malam menjelang.
Meski matahari...
Enggan menerangi pandangan hitam ini.

Aku cari kamu...
Dalam satiap lelah kaki melangkah.
Meskipun aku...
Mengerti bahwa aku tak pantas untukmu.

Aku cari kamu...
Terus ku jelajahi semua alam ini.
Dari bibir pantai sampai puncak gunung.
Dalam semangat yang membara...
Ada perasaan hati yang lembut.
Perasaan yang ingin memiliki dirimu.

Satu yang aku benci...
Ketika aku mengingat tentang dirimu.
Perlahan kupupuki meski tak berbuah.
Ketika perasaan kusimpan...
Aku lelah hidup dialam mimpiku sendiri.
Meski aku tau...
Semua itu akan selalu jadi mimpi.
Aku tetap memupuknya dengan baik.
Meski aku tau itu takan berbuah manis.
Aku tetap mencarimu...

Jakarta, 03 Oktober 2016
06:45 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Sabtu, 01 Oktober 2016

Malam Di Sukamantri

Bagiku,,,
Alam itu adalah pusat ketenangan.
Kedamaian yang memukau...
Kedamaian yang keras.
Dingin dengan sebatang rokok...
Ku pasang musik, dan kuputar masalalu...
Cintaku di sukamantri...
Salak.

Hai salak...
Aku mencintainya.
Disini aku masih memupuk rasa itu.
Meski sumbing telah membunuh...
Sedikit masih saja ada di hati.
Sebab aku terpukau oleh jati dirinya.
Duduk diantara rimba...
Dan memetik lantunan nada.
Ya, dia masih ada di hati...
Aku tak perduli dia acuh...
Perasaan ini hanya aku yang rasa.

Hai alam...
Disini, aku ceritakan lagi...
Dimana tawanya meluluhkan perasaan.
Matanya yang menolek.
Seperti astra orion...
Kala dia bersenandu dengan lirih.
Suasana hangat seketika...
Damai tanpa lara..
Oh cinta...
Haruskah perasaan ini menoreh luka lagi.
Sebab hanya mimpi namanya di hati...
Sampai kapan aku terus jadi pemujanya.
Yang rahasia sifatnya.

Hai bintang...
Tenanglah sinari malam...
Sunyilah dalam kegelapan...
Seperti rasa...
Seperti kata yang terlintas.
Ketika kala itu lantunan musik dimainkan.
Dan kala itu merdu suaranya...
Temaniku yang asik memetik senar.
Dan bersama katakan...
"Dan bilang, aku sayang padamu."
Akankah itu terlupakan?
Akankah itu sirna?
Meski ku coba, tetap saja jadi luka.
Ya itulah...
Salak, simpan memori itu baik baik.

Sukamantri, 30 September 2016
23:18 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Rabu, 21 September 2016

Untuk Tersayang

Sebelumnya...
Aku belum pernah menyangka kalau. Sejauh ini kita berjalan...
Sejauh ini kita berlayar...
Tapi entah kapan kita akan berlabuh.
Seperti ini kita menganyam cinta...
Sempat pula mengenyam dusta...
Pait rasanya... Perih.

Belum sempat ku menoleh...
Kau tampar lalu...
Kau peluk aku erat.
Oh, cinta...
Belum jua kutemukan jenuh...
Jika benar doa dan restu mengiringi...
Apa benar itu kan terjadi nanti.
Jika kau benci katakan...
Sebelum aku yang membencimu esok...

Cinta...
Sungguh tiada dua..
Tuhan memang mempertemukan kita.
Dia menjaga keutuhannya...
Meski sempat tertelan ombak...
Dan disapu badai...
Bahkan hampir 5 tahun aku mengenalmu...
Dari remaja...
Hingga dewasa...
Cinta tetap hidup dalam hati.
Cinta tetap ada disaat duka.
Cinta tetap hinggap di sanubari.
Dan cinta...
Mewakili rasa sayang aku yang ada...
Zahra Nadifa...

Jakarta, 21 September 2016
01:28 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Selasa, 20 September 2016

Pengabdian

Hai indonesia...
Hai negaraku.
Hari ini hari pertama aku kuliah.
Di tempat yang buruk menurut mereka.
Namun tidak untukku.
Yahh, aku telah terbuka pikirannya.
Semangat yang baru...
Dan pola pikir dewasa...
Tetap sama cita-citanya...
Pula murni tujuannya...
Mulia kata orang...

Entah kenapa hidup itu seperti labirin.
Sedangkan keinginanku melenceng...
Cita-cita yang semula ingin menjadi guru.
Sempat berantakan...
Lalu aku ubah rancangannya.
Sebab uang...
Impian itu hampir sirna.
Lagi kutemukan pelita...
Lagi motivasi melintas bersama ide.
Ya, itulah ide...

Aku berhutang dengan negara ini.
Satu saat nanti...
Setelah aku lulus strata satu...
Aku ingin mengabdi ke pelosok negri.
Aku ingin menjadi guru tanpa pamrih.
Meskipun sulit...
Meskipun rumit...
Aku yakin, tuhan memperkenankan...
Jangan bertanya berapa upah di negri ini...
Tapi bertanyalah, apa yang telah aku berikan untuk negara ini...

Jakarta, 18 September 2016
07:04 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 16 September 2016

Lagi Dan Lagi

Ada hal yang indah.
Ketika dawai memancarkan nada...
Ketika sajak terlontar....
Ketika mata membaca...
Ketika batin merasakan...
Ketika otak membayangkan...
Ketika suasana hangat dan haru...
Dan semuanya terhapus luka.
Lagi...

Aku rasa ada yang salah...
Ketika perasaan ini menjelma.
Ketika aku lupa...
Bahkan berusaha lupa...
Ketika lagi...
Ketika aku berjuang untuk lupa...
Bahkan keringat dan darah jatuh...
Tak ada hasil...
Ini virus atau bakteri...

Ya tuhan...
Aku benci perasaan ini.
Apa lagi yang harus ku perbuat?...
Jika engkau tak mengizinkan aku untuk lupa dia...
Apa rencanamu dibalik semua ini?...
Hati ini...
Rindu ini...
Perasaan ini...
Huhhh sudahlah...
Biarlah jadi derita pribadi.

Jakarta,16 September 2016
04:13 A.M.

Selasa, 13 September 2016

Pesan Angin Lembah

Udara sejuk penuh membawa makna.
Meniup aku yang terduduk santai...
Ku lipat tembakau, lalu ku bakar.
Ditemani secangkir kopi hangat...
Dan lagu yang merdu di telinga.
Itulah aku...
Yang membaur pada alam...
Pula saudara dan kawan.

Bisingnya canda tawa mereka.
Mengganggu aku yang termenung...
Memikirkan satu memo kala itu.
Tapi apa yang aku pikirkan tak seindah itu...
Semua harapan dan impian yang sirna ditelan waktu...
Dan kini aku kenang, bukan berarti aku menyimpan...
Aku hanya ingin melupakan perlahan.

Angin lembah bertiup membawa air.
Membawa kabut, dan membutakan mata...
Aku tapeduli...
Seberapa sempurnanya kamu dimata ini...
Cinta itu bukan hal yang buta...
Ia punya mata dan telinga sama seperti kita.
Selalu ada ruang pemisah yang jelas tak bisa kita lewati.
Lagi pula...
Semua ini sudah selesai.
Dan luka...
Biar alam yang menghapusnya.
Secara perlahan namun pasti...

Gunung bunder, 11 September 2016
04:46 P.M.

Rabu, 07 September 2016

Malioboro

Aku datang dengan hangat...
Berkendara dua, melintasi kota.
Kota nan asri pula damai...
Itulah malioboro...

Meski langkah kaki terlalu rentan.
Aku tetap ingin mengenal kau...
Kota nan santun.
Tak ada bising, tak ada anarki.
Benar yang orang katakan...
Malioboro terlalu indah untuk di tapaki.
Sebagai titik ujung perjalanan...
Malioboro berikan hal terindah atas perjalananku.
Kedatanganku disambut hangat oleh lantunan musikmu.
Untuk malioboro....
Terimakasih atas ceritamu nan anggun.
Aku rindu akan suasanamu.
Nanti aku kan kembali lagi...

Malioboro, 07 September 2016
12:35 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Sumbing Yang Mengakhiri

Malam yang dingin...
Aku belum bisa tertidur disini.
Sumbing baru saja selesai bercerita.
Tentang aku yang dulu...
Tentang aku dua tahun lalu.
Mencintai seseorang di 3371 Mdpl.
Ketika indah dan sakit bersatu padu.
Yang saat itu...
Pena menari membentuk bait kata.
Aksara indah di atas aldaka.
Tak akan ada yang bisa merasakan...
Kala itu hanya akulah.
Yang terhempas  dan tergelincir.
Sakit...

Aku bisa gambarkan hal yang pahit.
Tapi kuyakin tak ada yang samggup.
Sungguh...
Aku seperti bermimpi  dua tahun lamanya...
Dan aku sadar kalau semuanya semu.
Ketika aksara tak mampu...
Rekam suara tak ampuh...
Di terugkap pun menambah parah...
Elaplorasi tal bisa...
Dan terakhir sumbing...
Ku susuri jalanku,..
Dan ku buka memo.
Ku bersujud di puncaknya...
Aku menangis kesakitan...
Aku takkan ingin kenal dirinya lagi...
Mencintainya bagaikan abu...
Bahkan seperti laut.
Ketika sumbing menyembuhkan...
Ketika itu aku meminta.
Jangan lagi aku terpkat hatinya...
Cukup dua tahun...
Itupun sudah terlalu lama buatku...

Garung, 05 September 2016
23:06 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Surat Angin

Hai sumbing...
Malam yang cerah...
Sepoi angin bertiup dari timur laut.
Membawa suhu rendah hampir di titik nol.
Dan aku disini,,,
Masih mendengarkanmu bercerita.
Tentang memo yang terlupakan...
Sangat indah kisah itu...
Aku benci mengingatnya.

Dua tahun yang lalu...
Kisah cintaku diwarnai oleh savana kering.
Cinta ini bisa ku bilang cinta terselubung.
Sebab aku hanya bisa memandangnya.
Dan batu yang ku pijaki...
Tetaplah batu yang menjadi saksi bisu.
Dan saat ini...
Engkau terlalu sulit untuk ku naiki.
Hampir setiap jam kabut dan air menutupi langkah.
Kau berubah sumbing...
Namun memo itu masih rapih tersimpan.

Aku ingat,..
Pasar watu adalah satu tempat...
Dimana aku memandanginya dengan cinta.
Watu kotak pula tanah putih...
Kesejukan memukau dan kehangatan yang membakar...
Meski sulit ku terjemah.
Tapi sumbing adalah tempat terindah menurutku.
Bersama memo...
Biar ku ingat kembali.
Sebagai bukti kalau aku bisa terima kenyataan...

Seduplak Roto, 04 September 2016
09:28 P.M.
Gamal johanes Perdana

Sabtu, 03 September 2016

Kembali

Kembali...
Aku menaiki sumbing.
Lagi dan lagi...
Aku membuka kenangan lampau manis.
Oh sumbing...
Memo itu masih tersimpan rapih.
Di sini...
Sumbing menceritakan semuanya.

Kala itu...
Kala dingin menusuk.
Kala cinta merasuk dan mengetuk...
Dia bersama hangatnya.
Yang kala itu...
Aku terjerat dan terikat di hatinya.
Tak bisa lepas tak bisa napas.
Terbawa begitu larut.
Oh cinta, kala itu derita melalang buana...

Kembali...
Bersama sejuknya mimpi.
Membawa cerita tentang...
Aku yang terpikat pandangannya.
Yang kala itu akulah yang memuja dirinya.
Dia tidak tau besarnya.
Yang dia tau hanya katanya...
Dia tidak tau rasanya.
Yang dia tau hanya tulisannya...
Cinta dan cita.
Semua telah larut di atas laut...
Terbawa ombak lalu hilang di telan garam.
Hingga aku dewasa dan sadar...
Kalau mimpi itu teralu jahat untuk aku raih.

Sumbing bercerita...
Kala itu tak lepas pandanganku padanya.
Yang sempurna di mata...
Wibawa di hati...
Bahkan jutaan kata terangkai sebab aku ingin lupa...
Sampai akhirnya bisa.
Sumbing mengajarkan semuanya.
Dan aku kembali untuk mengenang.
Cinta yang ku pendam...
Tetap menjadi mimpi yang ku lupakan.

Hai sumbing...
Aku kembali sebagai bukti.
Kalau aku bisa menerima kenyataan.
Aku memang tak pantas untuknya.

Sumbing, 03 September 2016
11:45 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Traveler

Datang, lalu pergi...
Menembus udara melewati kota.
Berjalan seperti musafir.
Lewat meski tak jua mampir...
Itulah aku, dan kehidupanku...
Tak terencana, namun ada titik tuju...
Tak bosan...
Pula tak jua ku temukan jenuh...
Pergi dengan ilmu.
Tanpa uang tanpa materi...
Bisa dibilang apa adanya....

Hanya bermodal pengalaman dan semangat.
Bertualang memang itu hobiku...
Sosialisasi...
Dokumentasi...
Produktif...
Aktif...
Inisiatif...
Dan imajinatif....
Hanya itu modal yang aku bawa...
Menuju sumbing.
Dan kenangannya disana...

Tasikmalaya, 03 september 2016
12:23 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Kamis, 18 Agustus 2016

Tak Perlu Pusing

Aku berjalan tanpa arah...
Tanpa tujuan...
Tanpa pikiran...
Aku santai sebab aku merasa doaku dikabulkan...
Menurutku allah telah mengabulkan doaku...
Ya, aku percaya dia ada.

Mereka sudah senang...
Dan kini hanyaku lah yang tersisa.
Entah besok aku mau jadi apa?...
Aku tak peduli.
Sebab yang aku pikir sekarang adalah harta.
Aku bodoh dan terbatas...
Jadi, ku serahkan saja semuanya pada tuhan...
Aku yakin dibalik ini semua...
Ada jalan terbaik yang ia kasih...
Tak perduli...
Sebab negri ini aneh...
Dan sekarang aku hanya punya niat.
Jika ditanya mau jadi apa aku?...
Aku akan jawab...
"Aku mau jadi apa yang aku suka, dan apa yang aku mau. terserah, itu urusanku, tak perlu di ambil pusing"

Jakarta, 17 Agustus 2016
11:45 P.M.

Gamal Johanes Perdana

Selasa, 16 Agustus 2016

Aku Dan Kepalan Tanganmu

Sedikit kehancuran terjadi...
Sebab aku benci kepalan tanganmu.
Sedikit pemberontakan kujalani.
Sebab aku ingin bebas seperti mereka.
Dan akhirnya...
Semua berantakan meski telah  kubenahi.
Tetap saja hancur sampai ke hati.
Hanya karna kau kepalkan tanganmu.
Untukku...

Sebungkus roko...
Secangkir kopi...
Sebotol beer...
Meski aku telah terhempas melayang.
Sempat membuat Mabuk dan gila...
Aku tak bisa lupa akan kehancuran hati ini.
Dia marah dan tak menghubungiku lagi.
Entah dia bosan atau jenuh.
Aku benci kepalan tangannya...
Masalah ini serius...
Aku tak mengerti mengapa dia mengepalkan tangannya untuk ku.

Senja tenggelam...
Aku baru terbangun dari sisa mabuk semalam...
Badan ini lebam sebab aku alergi alkohol.
Tapi apa boleh buat...
Aku flustasi akan kepalan tangannya.
Terlalu....
Apa itu yang disebut cinta...
Aku tak mengerti apa yang dia perbuat...
Jika sayangg, bukan itu caranya...

Senin, 01 agustus 2016
04:32 am.

Aku Tak Peduli

Aku iri dengan mereka...
Aku iri dengan kekompakannya...
Cara mereka berpasangan dan saling mengisi waktu.
Cara mereka saling menemani satu sama lain.
Indah melihat mereka bahagia...
Aku iri...
Entah mengapa aku tak bisa seperti itu dengan kamu.
Aku sedih...
Cinta bagaikan bui.
Aku benci hal yang membatasi cinta ini.

Aku iri melihat cara mereka berpasangan...
Bahagia berlari dan bermain lepas.
Bebas seperti merpati.
Aku ingin seperti mereka...
Tapi tak pernah bisa...

Kamu masih terlalu kecil otaknya.
Lalu kapan lagi aku harus menunggu?..
Mau sampai kapan kita seperti ini...
Tak pernah berkreasi, selalu saja takut dan ragu...
Jangankan kreasi, kenal keluargaku aja tidak...
Jujur, aku tak akan lagi mengharapkanmu...
Biar, hati ini terlalu sakit untuk menunggu...
Aku masih kuat menunggu.
Tapi aku menunggu kau meminta...
Aku tak ingin memohon lagi untuk kau temui orangtua ku...
Biar kau dewasa dengan sendirinya...
Aku tutup pintu permohonan itu sebab aku tak ingin menjadi lelah.
Aku telah menunggu dengan sabar...

Sekarang...
Jika kau tak terima ku seperti ini.
Lupakan sajalah aku...
Anggaplah aku bukan siapa siapa...
Lagi pula aku bukan orang yang kamu inginkan...
Aku cacat di matamu...
Biarlah, bila di perhatikan kau selalu mengelak...
Lebih baik taperduli sekalian...
Aku tak ingin lagi turuti katamu, sebab kamu egois...

Jakarta,16 Agustus 2016
01:00 A.m.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 15 Agustus 2016

Angin Pantai

Sunyi sepi senyap...
Jika ditanya gunung atau pantai?..
Aku akan pilih gunung...
Sebab kehidupan disana lebih keras dan jauh dari peradaban.
Baru saja kemarin lusa ku pulang...
Lalu lagi lagi aku rindu berkelana...
Sebab aku tak pernah merasa puas.
Akan semua langkah kaki ini.
Meski karang telah merobek telapak kaki.
Takpernah ku temui jera...
Aku luka bahkan aku lupa...
Sebab cintaku terhadap alam begitu besar.

Hai deburan ombak...
Hai desiran pasir...
Bisikmu membuatku sejuk dan nyaman.
Di bawah sinar bintang, aku termenung menyendiri...
Melimpahkan semua hal yang ada di dalam dada...
Bersama bintang, aku melayang dan berkhayal...
Ku tebar umpan dan ku tarik benang...
Hal yang begitu indah...
Ketika hujan menghapus garam...
Ketika itu ku tidur dengan butiran pasir putih...
Dan segelas kopi hangat di tepi pantai nan mempesona...

Pulau pari.
12 Agustus 2016
02:21 A.M.

Gamal Johanes Perdana

Minggu, 14 Agustus 2016

Oma

Waktu terlalu cepat menelan semuanya...
Mereka yang baik, dan orang yang ku sayangi...
Waktu terlalu jahat untuk di jalani...
Ketika satu persatu pergi...
Pula meninggalkanku untuk selamanya...
Aku benci akan semua ini, sebab waktu menelan orang yang ku cintai...
Terlalu serakah,...
Akankah secapat itu beliau pergi...

Ya tuhan...
Aku benci akan kenyataan ini...
Terlalu cepat dan kejam.
Sebab sesal menghujamku bertubi-tubi.
Belum sempat ku balas jasanya...
Belum sempat ku lihat wajahnya...
Belum sempat ku kecup wajahnya...
Dia pergi...
Tidur selamanya...
Semoga langkahnya tenang di sana...
Semoga allah menyertai doaku dan amalnya.
Oma...
Terlalu cepat engkau meninggalkan aku...
Sampai jumpa...
Satu saat nanti...
Kita akan bertemu lagi...
Di lain waktu, dilain tempat....

Jakarta, 14 Agustus 2016
10:02 am
Gamal Johanes Perdana

Rabu, 10 Agustus 2016

Bisakah Diri Menempa Hati

Bisakah diri ini...
Berlari dan mengejar asa lagi...
Aku punya cita mulia katanya...
Apakah negri ini hannya untuk orang kaya?..
Lalu apa akhirnya aku kan jadi budak...
Atau sampah?...

Lalu jadi apakah angan ini?...
Biar kutuliskan apa mauku...
Aku inginkan strata pend. geo...
Lalu ikut serta pengabdian ke pelosok...
Melalui organisasi indonesia mengajar...
Mengabdi kepada negara ini...
Yang katanya beliau...
Negara ini negara kapitalis...
Pantaskah aku orang susah mengabdi?...
Apa perlu menanam saham?
Ataukah perlu keluarkan uang banyak untuk semua...
Aku tapunya itu...
Aku hanya punya semangat belajar...
Jika diiringi dengan mencari uang...
Aku takan kuat sebab aku hanya ingin mengabdi...
Bukan menerima suap nantinya...
Aku cinta negri ini...
Indonesia.

Gamal Johanes Perdana
Jakarta, 10 Agustus 2016
11:37 P.M.

Kamis, 04 Agustus 2016

Waktu

Jika dilihat...
Mesin waktu melesat begitu cepat.
Dan yang lalu.
akan menjadi satu kenangan lampau.
Berdetuk seperti langkah.
Kala berdenting lalu berketuk lagi....
Berjalan tanpa henti...
Dan melangkah pergi.
Hingga jantung ini mati.

Waktu...
Tak berkata, hanya berkerja.
Ia hidup abadi bersama perubahan.
Hingga aku berfikir bahwa waktu terlalu cepat berevolusi.
Ulat tiada henti...
Dan diri ini...
Masih mencari ramuan abadi.
Sebab logika bertanya...
Apakah ada kehidupan setelah kematian?...

Bila boleh ku pinta...
Aku tak ingin ada kematian di dunia ini.
Hidup ini terlalu indah tuk di tinggali.
Meski dalamnya terdapat suka duka.
Aku mengerti...
Seni kehidupan adalah satu keindahan.
Aku tak ingin mati...
Meski fakta berkata aku akan rasakan kematian esok.
Sungguh, aku tak ingin itu terjadi...
Meski di beri waktu seribu tahun pun.
Aku takkan siap mati...

Fakta...
Di setiap makhluk bernyawa.
Pasti akan mengalami kematian.
Dan waktu...
Tetaplah waktu yang terus berevolusi.
Abadi dan takkan mati...

Sabtu, 30 Juli 2016

Secangkir Beer

Hai pagi...
Dinginnya udara menenangkan jiwa.
Hanya tersisa rasa gatal dan hampa berkas semalam.
Bersulam dengan secangkir beer dingin.
Bersama keluarga minahasa...
Ya, memang kerap berkumpul mereka selalu seperti itu.
Meski keliatannya hina...
Tapi ada satu hal yang membuat semua hangat berbaur.

Ku pandangi bintang meski telah berkunang.
Berdoa kepada tuhan tentang sebuah impian.
Aku terduduk menikmati secangkir beer berlebel khusus.
Hal yang biasa di sebuah pertemuan.
Ditemani ayah pula sebatang rokok.
Melayang dan menikmati suasana...
Meski jarang ku temui...

Alunan musik menambah haru suasana.
Berdansa pesta fora..
Meski telah terkontaminasi..
Aku nyaman, meski terkadang enggan bergabung.
Sementara disini aku menahan alergi.
Begitulah mereka...

Minggu, 17 juli 2016
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 01 Juli 2016

Kaca Atak Aksara

Aku...
Pagi ini...
Dengan hati yang terselimut mimpi.
Melayang dipermainkan waktu.
Dalam sel otak...
Mengirim berjuta pesan kilat...
Memo...
Memori yang penuh sesal.
Mangapa semuanya tak pernah bisa lenyap...

Secangkir kopi yang dingin.
Berkas termenung semalam aku didepan teras...
Memandang langit berawan sambil bertanya...
"Apa yang harus aku lakukan?"
Sebab bukan sekali rasa ini datang.
Menjerat dan merobek luka.
Padahal barusaja sembuh tadi malam.

Lihat luka lebam semalam berkas petualangan...
Lanjutkan perkelanaan ini dengan sisa tenaga.
Terengah kewalahan mencekcok semua cerita.
Aku punya cerita dan aku punya impian...
Jika kau baca dengan peka...
Kau kan ingat cerita ku menggantungkan harapan...
Dipuncak sumbing 2 tahun lalu...

Minggu, 26 Juni 2016

Gerak dan Gerik

Aku melihat satu pandangan dibalik gelapnya malam.
Terlalu kelam...
Kosong dan sombong...
Dengan sebab...
Ada udang dibalik batu...
Ada luka dibalik tawa...
Ada tawa dibalik masalalu...
Ada masalalu dibalik penyesalan...
Ada penyesalan dibalik hati...
Ya...
Hati yang pernah tinggi dan tercabik...
Hati yang luka dan sembuh meninggalkan berkas noda...
Aku tak peduli....

Aku pernah mendaki ditengah rimba.
Ku tutupi muka sebab aku lihat itu...
Kedua bola mata yang berkilap...
Dan melihatku dengan pandangan kosong...
Dibalik rasa rindu akan kelana dan rindu akan keajaiban...
Aku rindu...
Aku rindu...
Bahkan aku sangat rindu...
Ridah mu yang begitu mempesona...
Mendaki dan pergi menjelajah lagi...
Semua ini hanyalah masalalu...
Jika kau lihat...
Rimba bukan hal yang tepat...
Dan satu saat kau akan mengerti...
Aku lupa karna semua pernah ada...

-Gamal Johanes Perdana-

Rabu, 22 Juni 2016

Habis Gelap Terbitlah Bohong

Aku berjalan di jalan yang telah tersinari oleh cahaya mimpi yang kelak nanti akan menjadi nyata. Berjalan terarah arah dan dengan sebab, hingga aku lupa menoleh ke belakang. Aku tak ingin lagi melihat karna disana banyak luka, disana banyak cerita lama yang telah usang dimakan waktu. Disana ada rindu ingin kembali dan ada benci pernah terjadi. Ada kebodohan dan ada penyesalan, pula kemanisan dan keindahan. Aku pernah lari dan terjatuh, tergelincir dan terluka. Semua aku timbun sebab aku tak mau dibencinya. Dan aku rasa aku telah berhasil membohongi hati ini...

Lama aku telah mengurung pula menyiksa batin sendiri, sebab aku tak ingin itu terjadi, memang sakit tapi harus gimana lagi, memang berat, tapi apa yang bisa aku perbuat. Semua kulakukan perlahan mengunci, hingga sempitlah jalanku. karnanya, olehnya, dan untuknya. Terasa berat meski aku ringan ringani, terasa sakit meski tak ku pikirkan. Semua terasa sulit sebab aku tak terbiasa, walaupun kini aku hampir terbiasa dengan semuanya. Menahan diri hingga aku lupa jati diri.
Aku lupa bahwa aku adalah pemuda, aku lupa bahwa aku punya cita dan asa. Dan lagi lagi aku berhasil membohongi diri sendiri...

Dan disaat aku terpojok oleh rasa, tak berdaya, tak punya apa apa, sebab terlalu cepat waktu melarutkan semua kenangan dan harapan. Aku hanya punya angka 17, dan akhirnya akupun kalahh... Sebab aku adalah 26...

•Gamal Johanes Perdana•

Minggu, 24 April 2016

Yang Aku Cinta

Hey salak...
Hey cinta...
Pagi ini, tak secerah yang di inginkan. Namun sejuknya udaramu...
Cukup untuk hangatkan cinta kita.
Laju roda dua hantarkan kita ke tenangnya alam.
Santai dan hidup damai bersama...

Hay salak...
Mendung yang datang membawa angin.
Sejukkan hati dan hangatkan suasana cinta.
Dibawah rindangnya pinus...
Aku bercerita lepas tanpa penat dan beban.
Dan dibawah rintikan air yang terjun dari ngarai.
Aku senang, aku tenang, dan aku bahagia bersamamu.

Hay cinta...
Beginilah wujudnya....
Kau peluk diriku kala dingin menusuk kulitmu.
Kau genggam tanganku kala ingin terjatuh.
Kau berlindung di punggungku kala kau takut.
Kau usap dahi ini kala kau lihat ku lelah.
Bahagia itu sederhana bukan...

23 April 2016
TNGHS

With her :
Zahra Nadifa

Senin, 11 April 2016

Aku Ada Untuk Mereka

Aku ada dan larut diantara bintang.
Diantaranya...
Aku bersinar bersama mereka.
Diantaranya...
Aku tenang hinggap di langit.
Diantaranya...
Aku hidup dan berpadu kilap.

Aku ada dan tenang di pelukannya.
Bersamanya...
Aku susah dan sedih.
Bersamanya...
Aku merasa disayang.
Bersamanya...
Aku senang dan bahagia.

Aku ada dan hidup di kedamaiannya.
Disanalah...
Aku menguras semua energi.
Disanalah...
Aku aktif dan berani.
Disanalah...
Aku hidup dan menempa diri.

Aku ada sebab aku adalah mereka...
Kirana.
Nadifa.
Dan Semesta...

Kamis, 17 Maret 2016

Pesan Singkat

Revolusi...
Begitu cepat langkah waktu tinggalkan kami.
Begitu kuat perubahan melerai semua ini.
Begitu banyak hal yang membuat semua individualis lagi.
Yang tadinya kerja bersama,,
Yang tadinya susah bersama,,
Yang tadinya senang bersama,,
Yang tadinya jalan bersama,,
Yang tadinya mendidik bersama,,
Pada ujungnya berpencar bersama,,

Dan kini yang ku lihat hanya sisa jejak kalian...
Seandainya berjumpa, hanya sejenak.
Lalu lalang dan hilang...
Sebab waktu terlalu singkat untuk menyelesaikan misi.
Setelah meregenerasi...
Aku hanya bisa memprediksi dan berorientasi...
Dan masalah kalian,...
Biarlah waktu yang menubahnya menjadi sejarah...

Rabu, 16 Maret 2016

Mimpi Di Atas Kertas

Kilat cahaya panas dari timur...
Telah membangunkanku...
Dari mimpi yang begitu panjang.
Entah, mimpi apa aku semalam...
Berbayang indah, akan tetapi sakit dirasa.

Hingga saat ku terbangun...
Kicauan burung terdengar saru.
Ku usap kedua bola mata ini...
Rabun dan merah samar pasir.
Penuh tanya dan emosi...
Entah mimpi buruk atau indah.
Aku tak paham semua ini...

Bagai Permata dan arang.
Dibalik rindangnya hutan...
Dibalik sejuknya gunung...
Dibalik derasnya sungai...
Dibalik lantunan melodi...
Pula dibalik aksara pujangga...
Semua itu menjadi tema.
Dimana semuanya kelak akan jadi sejarah.
Sebab ku biarkan semuanya berlalu...
Sungguh, aku tak peduli lagi...