Selasa, 31 Januari 2017

Masuklah Dalam Duniaku

Bukankah engkau yang berikan teladan baik.
Di sepanjang aku berjalan melintasi desir pasir yang lembut...
Diantara lebur ombak yang amis menuju sore...
Yang kala itu ku tulis namamu di atas pasir yang lembut.
Lalu hancur terhapus ombak...
Aku rindu akan rangkulanmu di pantai.
Tak ada camar, tak ada cemar...
Dan disitu hanya ada aku dan kamu di tepian.

Bukankah engkau yang ajarkan aku untuk tegar...
Kala roda dua turun dari gunung yang tenang.
Kau peluk tubuhku erat, seakan tak ingin kau melepasku.
Alam telah mendekatkan kita dibawah air terjun...
Yang sejuk dan penuh ketenangan.
Sebelum akhirnya mendung menghapus langkah kita.
Kala itu di tapak salak yang hijau membentang...
Selama kamu pergi bersamaku...
Tak perlu kawatir, aku akan melindungimu.
Aku akan membuatmu tenang dan nyaman disisi ini.
Keluhmu kan ku dengar...
Langkahmu akan ku bina hingga kau pulang dengan selamat.
Ketika aku berani mengucap kata cinta padamu...
Itu tanda aku yang siap menjaga, melindungi, dan membuatmu nyaman.
Dalam perlindunganku...

Jika ini jalan kita...
Raihlah tanganku.
Jangan takut untuk jelajahi dunia lebih dalam.
Cobalah untuk masuk dalam duniaku....


Jakarta, 31 Januari 2017
03:27 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 27 Januari 2017

Gamal Johanes Perdana Eman


Tepat 20 tahun yang lalu, aku lahir di rumah sakit Putra Kinasih, pukul 06:45 Pagi, Tanggerang Selatan. Dimana pagi itu, aku hidup berkat perjuangan ibuku. Dan aku telah menjadi bagian dari keluarga besar keluarga Eman yang selalu di junjung tinggi kehormatannya. Aku tanpa nama kala itu, dan banyak dari mereka yang ingin berpartisipasi menamaiku. Aku adalah anak yang sangat di banggakan di keluarga Eman, sebab aku adalah anak pertama yang nantinya akan menjadi penerus marga.

Kala itu, aku diberi nama gamal oleh oma, dimana nama itu di ambil dari tokoh mesir yang bernama gamal abdul nasser. Lalu Johanes, banyak dari keluarga aku tidak setuju akan penyematan nama itu pada diriku. Dengan alasan kalau nama itu mirip dengan nama surat di injil, tapi karena kedua orang tuaku adalah orang yang toleransi beragama, akhirnya nama itupun di sematkan pada diriku. Nama itu diambil dari Dirck Johanes Eman, beliau adalah kakek ayahku. Kemudian Perdana, Nama ini adalah pemberian dari ibuku, Pipalupi rahayu. Ia memberikan nama ini dengan tujuan memberikan amanat besar bahwa aku adalah pemimpin dari keluarga besarku. Perdana artinya ialah pertama. Dan hingga kini, namaku adalah Gamal Johanes Perdana Eman.

Hai, aku adalah gamal yang di kenal orang sebagai sosok yang humoris, memiliki semangat nasionalis yang tinggi dan berusaha menjadi manusia yang baik. Aku tak pernah memiliki nama samaran, bahkan orang segan untuk memberiku nama samaran. Sebab selama 20 tahun aku selalu bersifat kaku terhadap semua orang, Banyak dari mereka yang ingin tau siapa aku sebenarnya, sebab setiap kali aku bercerita jarang ada yang percaya akan kata kata ku. Aku adalah manusia, jadi meski aku humoris melankolis, bukan berarti aku anak yang baik, dan bukan berarti aku adalah anak yang buruk dan kriminal. Setiap orang punya rasa penilaian tersendiri tentangku, banyak orang berkata tapi aku tak perduli.

Aku besar dalam lingkungan yang keras, namun aku tetap menjaga etika baik aku sebagai manusia beradab. Aku adalah orang sosialis yang bisa mengkondisikan letak dan keberadaan diriku di satu lingkungan, sifat dan rasa sosial aku dapatkan dari SMA, dimana aku belajar bersosialisasi dengan baik dan benar, mendapatkan teman di segala penjuru. Namun tuhan menciptakan aku sebagai orang yang memiliki ingatan pendek, sebanyak apapun teman yang aku punya, aku akan lupa namanya. Tak ada gading yang tak retak...

Dan hingga usiaku 20 tahun, aku sadar kalau usiaku bertambah dewasa. Pikiran yang cemerlang, dan gagasan gagasan baru muncul. Berpikir apa yang telah aku perbuat dan yang akan aku perbuat. Ya tuhanku, Segala doa mereka panjatkan untukku, mereka khususkan untukku di hari ulang tahunku, orangtua, sahabat, kirana, saudara, kekasih, mereka ingat dan mengucapkan kalimat baik untuk ku di masa yang akan mendatang. Perkenankanlah doa mereka, segala ucapan baiknya di hari yang sepesial kemarin. Dan tuhan, aku sangat mencintai kehidupan ini, panjangkanlah umurku, lapangkanlah pikiranku, limpahkanlah rejeki ku, sebanyak dan sebaik ucapan doa mereka yang ku dengar di hari itu. Aku sadar kalau setiap manusia pasti akan mengalami kematian.

Mereka telah mengajarkan banyak pada diri ini, ucapan terima kasih terbesar ku tujukan pada kedua orangtua ku yang telah membina dan mengasu ku dengan segala jerih payahnya. Tepat pada jam aku di lahirkan ke dunia, mereka adalah orang yang pertama mengucapkan kata selamat kepadaku. Dan sebelum ku akhiri tulisan ini, tuhan, panjangkanlah unur kedua orangtua ku, sehatkanlah badannya, agar aku bisa membalas sedikit kebaikan yang telah mereka tanamkan kepadaku ini. Cintanya untukku sepanjang jalan... salam...

Jakarta, 26 Januari 2017
Gamal Johanes Perdana

Senin, 23 Januari 2017

Fase Pemulihan

Jika satu kebangkitan yang tak ku temukan.
Akankah ku gagal akan semua rencana ini...
Meski sakit telah lumpuhkanku beberapa hari.
Dalam sunyinya ruangan yang tenang...
Hingga aku haus akan adrenalin.
Rasa basa masih saja menggeluti lidah...

Jika jalanku masih perih untuk ku tembus.
Mengapa harus di keluhkan...
Aku tau dunia ini terlalu keras untuk di lawan.
Tak perlu berbalik arah...
Dan aku...
Haya coba untuk mengikuti arahnya saja.

Sakit ini adalah bukti bahwa...
Aku belum bisa mencintai diri sendiri.
Aku masih saja asik pada duniaku sendiri...
Biarlah ku coba...
Sebelum aku berlanjut pada langkah selanjutnya.
Aku yakin tuhan melindungiku...

Jakarta, 23 Januari 2017
01:44 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Rabu, 18 Januari 2017

Revival

Matahari yang terbit dari timur...
Dan benih yang berkecambah menjadi tunas.
Adalah sebuah kehidupan baru...
Yang siap menggantikan kehidupan lama.
Membangunkan orang yang tertidur...
Dan membuat mereka menjadi sibuk.
Sebuah kebangkitan yang aku rasakan penuh semangat.
Dari tuhan yang maha Esa...
Untuk mereka yang buta.

Mereka yang hidup dalam ras berbeda...
Tak perlu merasa terkucilkan oleh takdir yang kau dapat.
Tuhan telah memberkahinya, dan telah menciptakan hikmah.
Tak perlu pandang agama, sebab tuhan itu satu.
Tak perlu pertumpahan darah dan diskriminasi.
Kita semua sama di mata tuhan, kita semua sederajat...
Perlu makan, butuh minum, dan pecandu oksigen.
Tak ada yang kuat, dan lemah...
Kita semua sama, kita semua punya nyawa...

Benar adanya kalau manusia pintar dan cerdas...
Namun apa artinya pintar...
Kalau otaknya hanya untuk digunakan sebagai alat pemusnah masal.
Hanya karna sebuah diskriminasi...
Pertentangan yang tak jua temukan solusi.
Kita hidup, sama-sama butuh menginjak tanah.
Cobalah untuk menjadi hal yang lebih bermanfaat bagi orang...
Anda bukan tuhan, dan saya bukan hewan.
Mengertilah kawan...


Jakarta, 18 Januari 2017
12:37 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Minggu, 15 Januari 2017

Salam Maafku

Nada yang tercipta di setiap petikan...
Melunturkan hati yang kaku.
Dimana malam tadi...
Aku hadir diantara mereka.
Bermain gitar dan bercerita bersama.
Meski ada sedikit rasa canggung yang menghantui.
Aku coba untuk bersikap biasa.
Sebab aku merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi.
Maafkan aku...

Perasaan memang tak bisa di hilangkan...
Tapi setidaknya aku berhasil mengurangi.
Sebuah rahasia umum...
Diantara mereka yang bersanda gurau.
Aku membaur dengan sejuta perasaan yang tersimpan.
Kendalikan suasana, kendalikan tingkah...
Bukan aku acuh...
Tapi aku hanya tidak ingin mengganggu.
Hingga malam larut...
Aku hanya ingin titip salam seribu maaf...
Dari tulisan ini.
Untukmu...
Atas kebodohanku kala itu...


Jakarta, 15 Januari 2017
03:21 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Sabtu, 14 Januari 2017

Januari Dalam Memori

Dari lereng bukit yang curam...
Terdapat air yang mengalir beriak dan merusak.
Menurutku mereka adalah kata...
Dimana setiap patahnya bermakna dalam.
Kala mentari yang berbisik halus dengan gugur daun.
Di musim penghujan, januari...

Musim teduh dengan deru air yang membasahi tanah.
Dari tuhan untuk kita semua...
Yang lahir dari kabut yang pekat.
Tersimpan memori dikala air yang membasahi tubuh ini.
Dimana kala itu senyum mu tak lagi ku cerna.
Tanpa makna...

Sebuah rajutan seni yang telah menjadi sejarah.
Dimana kini semua tak mungkin terulang...
Sebab masa yang berbeda...
Bila ku ingat lelahku...
Bersembunyi dalam derita yang kau buat...
Yang kala itu...
Cintamu sempat beku dan hilang dari hatiku.
Dalam pelarianmu...
Untuk sebelumnya, kamu harus tau ini.
Cinta telah memaafkanmu dan menerimamu kembali.
Dan berharap kau jera akan apa yang terjadi.
Akulah orang yang kau cari...


Jakarta, 14 Januari 2017
01:19 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 13 Januari 2017

Berkembang

Dalam suka dalam duka tetap berjuang.
Mencari ilmu...
Mencari dan mencari seperti orang haus akan suasana.
Suasana yang mencekam...
Dibawah rasa yang begitu menyimpan dendam.
Aku hidup diantara mereka yang pintar.
Aku hidup diantara semak belukar.
Aku hidup dalam jiwa petualang.
Mencari dan mencari...
Entah itu pengalaman ataupun pengamalan.
Tanpa dendam...
Tanpa putus asa demi terciptanya suka cita.
Dalam rasa petualangan...

Pergi dan tinggalkan jejak kata...
Diantara reruntuhan tanah dan batu.
Aku mulai belajar tapaki jejak pendahulu.
Dimana aku, harus punya potensi yang berkembang.
Tanpa ledakan tanpa jeritan...
Dan hanya ada perdamaian yang menenangkan.
Masih aku coba berjalan...
Susuri hidup tanpa rasa takut.
Dengan tujuan yang hampir mutlak.
Aku...
Berdiri dan mencari jati diri...

Jakarta, 13 Januari 2017
03:01 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Kamis, 12 Januari 2017

12 Januari

Lima tahun sudah aku mengenalmu, sosok wanita yang setia temaniku suka duka. Sosok yang ku kenal pendiam, tempramental, dan tegas. Akan tetapi dirinyalah yang setia menjaga rasa, meski terkadang lelah, dirinya bagaikan pelita yang terangnya suci seperti maksudnya. Entah tuhan telah anugerahkan dirinya untuk temani hidupku yang begitu kelam. Kehadirannya adalah awal dimana aku menemukan cinta sejati yang hampir mutlak sifatnya, dirinya yang mengajarkanku apa arti kesetiaan sesungguhya. Hingga detik ini cintanya terus terangi jalan hidupku yang begitu berliku. Meski terkadang dirinya keras terhadap kehidupanku, aku tetap bersyukur bahwa dibalik kekasaran yang ia miliki, terselip makna kalau sesungguhnya dia sangat menyayangiku, dengan cara yang menurut dirinya benar. Dia adalah sosok wanita koleris yang sangat menyayangiku, tuhan telah mentakdirkan segalanya yang terbaik untukku. Semoga cinta dan sayangnya abadi untukku...


Lapangan basket adalah saksi dimana aku mengenalmu. Dari koridor depan kelas tatapan itu takkan ku lupa, saat dimana dirimu tersipu malu kala kusapa. Dimana kala itu kau datang mengobati perasaanku yang terluka sebab terhianati. Hingga akhirnya pada kamis, 12 januari 2012 aku resmi menjadi pacarmu. Kita rajut semua mimpi dan janji bersama, dibawah kilau bintang di bangku selasar rumahmu. Kita buat mimpi itu seindah lagu, dimana kala itu kau tertidur di pangkuanku. Sosok wanita yang ku kenal di bangku SMP Negri 29, dia adalah kekasih sejatiku. Yang sangat menyayangiku dengan tulus dan dengan di kombinasikan oleh sifat egonya yang koleris. Apapun dirinya yang ku kenal, aku tetap mencintainya penuh.


Zahra Nadifa, Lahir pada hari kamis, 17 Februari 2000. Dalam zodiak Aquarius sama sepertiku. Wanita yang ku kenal manja dan pendiam, di iringi dengan senyuman manisnya yang membuatku rindu akan pertemuan berikutnya. Cinta ini penuh dengan aturan sebabnya, hingga aku muak dengan segala aturannya yang menjauhkan hidupku dengan kegemaranku. Banyak hal yang bertolak belakang dengannya, akan tetapi perbedaan itu yang membuat aku sadar kalau setiap orang butuh itu. Perbedaan itu yang membuat aku dan dia bertahan dan saling belajar untuk bertoleransi. Entah apa jadinya kalau aku tak kenal dia kala itu di lapangan basket. Dimana namanya ku kenal di kantin sekolah. Sungguh tak ku sangka sebelumnya kalau sejauh ini kita melangkahkan kaki bersama.


Cintamu sejati untuk ku tekuni. Lima tahun sudah usianya, kita berjalan melewati kabut, hujan, panas, dingin, dan segala mimpi buruk yang pernah membuat kita sama sama terluka. Dibalik semua keributan kita yang tidak jelas apa karenanya, ada satu karunia tuhan yang tidak pernah kita sadari. Dimana ucapanmu adalah bukti bahwa aku adalah pasangan setiamu. Terserah engkau mau pergi sejauh apapun, aku tau kau takan bisa temukan perasaan sayang sepertiku. Kebebasanku adalah bukti bahwa cara sayangku dengan bentuk toleransi. Tuhan, berkatilah hubunganku dengannya.

"Tuhan, Jika benar dirinya adalah jodohku, dekatkanlah aku dengannya" -Zahra Nadifa


Jakarta, 12 Januari 2017
03:15 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Rabu, 11 Januari 2017

Merajut asa dan cerita

Jalan ini terlalu berliku...
Penuh perjuangan untuk kita lewati.
Penuh darah dan luka yang telah membekas.
Tapi aku bangga akan semua yang telah lalu.
Sayangmu adalah pelita yang baik untuk ku tapaki...
Doa yang telah terucap...
Bahkan perjuangan yang telah menjadi sejarah.
Dirimu tetap jadi apa yang bermakna.

Mimpimu indah kala dijabarkan...
Lalu kita rajut perlahan tanpa rasa beban.
Kita buat kata seindah permata...
Kita buat masa sedemikian rupa...
Tuhan telah takdirkan semua yang ada.
Sebab cinta...
Engkau hidup bahagia denganku...
Hargailah rasa.
Lalu berlarilah mengejar asa.
Aku dan dirimu...
Bersama mimpi yang kita bentuk bersama.
Dan ku yakin...
Tuhan mendengar doa kita.


Jakarta, 11 Januari 2017
01:45 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Senin, 09 Januari 2017

Membuka Mata Dan Telinga

Kehidupan itu benar indah adanya.
Dimana aku, kamu, dan mereka...
Hidup berdampingan dengan sejuta cerita dan peristiwa...
Punya banyak rasa sedih, senang, suka, duka...
Dari yang indah...
Hingga kekaguman yang tiada duanya...
Cinta yang hampir menghiasi hati setiap insan.
Dan duka yang begitu merusak batin...

Aku merasa seperti mendengar kata-kata indah disana...
Ketika sinar mentari sedikit terlihat dari ufuk timur.
Berkata kalau cinta itu selalu berakhir duka...
Dengan sentuhan yang begitu lembut diantara semilir embun pagi.
Yang sejuk berdengung diantara reruntuhan dinding.
Terdekap oleh ketenangan yang kualami...
Katanya hilang dari telinga selang berganti dengan desir ranting.

Saat malam menjadi sunyi...
Orion mampu menarik aku keluar dari alam sadar.
Dan masuk ke alam batin...
Dimana segala perasaan habis terkuras dalam alfabet.
Ketika kecintaanku tentang kehidupan ini hadir...
Aku tak siap untuk menemui akhir...
Sebelum aku membuka mata dan telinga...
Dan bergegas pergi untuk menaburkan benih kebaikan.


Jakarta, 09 Januari 2017
04:00 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Jumat, 06 Januari 2017

Tenangkan Jiwa Segarkan Pikiran

Malam ini...
Malam dimana hujan hinggap pada atap setiap rumah.
Yang didalamnya terdapat keberkahan yang hangat.
Dari tuhan yang kita yakini adanya...
Dan aku tetaplah aku yang menyendiri diantara mereka.
Bersikap tenang dengan lagu...
Tak sendu namun haru...

Manjakan diri, lupakan segala masalah ini...
Hirup udara segar dengan sejuta rintik yang basahi tanah.
Tak ku lihat lagi kilatan cahaya yang datang menyentuh hati.
Meski sepi tanpa bintang...
Ini jalan yang telah ku pilih...
Aku hanya ingin menatap kedepan dengan sejuta impian.
Tak lagi fokus ke satu tujuan,,,
Jalan masih terlalu jauh untuk memikirkan cinta...
Aku hanya ingin menikmati masa muda.
Di dalam rimba...

Dan untuk semuanya...
Ketenangan ini masih menyelimuti.
Sejukkan hati dan pikiran...
Dimana fase demi fase ku lakukan dengan baik...
Agar aku bisa...
Menjadi orang yang mampu menyayangi diri sendiri.
Dengan ketenangan rintik hujan...
Dan kesejukan malam yang selalu membuatku nyaman.


Jakarta, 06 Januari 2017
08:30 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Selasa, 03 Januari 2017

Mencintai Diri Sendiri

           Diawal tahun ini, Aku memiliki banyak rencana yang memang hampir terangkai sempurna di dalam pikiran ini. Sebab prediksiku adalah 2017 adalah tahun yang menyenangkan, dimana doa dan harapan akan lancar terlaksana, semoga semua berjalan dengan baik di tahun ini. Dan semua rencana yang kini ku rangkai dengan baik ku awali dengan rasa mencintai diri sendiri, lalu setelah aku mencintai diri sendiri, lanjutlah menanamkan rasa menjadi diri sendiri. Dan aku yakin, itu adalah landasan yang cukup kuat untuk membina diriku untuk maju menjadi orang yang baik diantara orang baik. Membangun karakter kepribadian yang sopan dan lebih bertanggung jawab, lapang dada dan tekun, serta tawakal. Itu adalah landasanku di awal tahun yang nantinya akan menjadi tolak ukur ke kehidupanku yang lebih maju lagi.

          Rencana besar di tahun ini ialah bergerak menuju tanah papua, yang nantinya itu akan ku manfaatkan untuk bersosialisasi dan mengajar. Ini terlihat berat, tapi itu mungkin untuk ku lakukan sebab dunia kampus telah membuka peluang yang besar. Terlebih waktu luang yang memungkinkan aku untuk melakukan itu selama sebulan suntuk, yang intinya rencana ini 25% sudah dibentuk di tahun sebelumnya. Mewujudkan sebongkah cita-cita lama itu lebih baik daripada belajar untuk menerima keadaan. Dan untuk rencana ini, apabila aku belum berhasil untuk menjalankannya, aku akan masukkan rencana ini ke tahun depan, hingga rencana ini benar terwujud.

           Rencana selanjutnya adalah membangun usaha kelas menengah bersama kerabat lama. Membuka usaha memang tak semudah merencanakan, tapi apa salahnya untuk mencoba. Dan untuk usahanya, aku ingin bergerak di bidang aksesoris elektronik, dan mencoba menciptakan inovasi baru didalam lingkup elektronik yang kini marak digunakan sehari-hari. Memang sudah dari jauh jauh hari aku membincangkan ini dengan kerabat lama, Dan ini harus terwujud di tahun yang baik ini. Dengan mengumpulkan modal berkecukupan lalu memutar modal menjadi investasi. Semoga itu terwujud dan berjalan dengan  baik.

           Mungkin kedua rencana diatas terlihat berat, tapi itu mungkin untuk membuatku maju di kemudian hari. Dan sebelum memulai semua rencana itu adalah, aku harus membangun pondasi mimpi itu dengan baik dengan cara mencintai diri sendiri dan menjadi diri sendiri. Sebelum akhirnya aku beranjak untuk memulai rencana selanjutnya. Sengaja ku tulis impianku agar aku terus ingat dan malu apabila aku belum berhasil. Semoga Allah Dan Doa kedua orang tuaku menyertai langkah kakiku.

Jakarta, 03 Januari 2017
11:11 P.M.
Gamal Johanes Perdana