Waktu itu, bintang yang menjadi saksi atas kesepiannya diriku. Aku pernah merasakan betapa pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan, selama 6 tahun. Disaat malam di atas ngarai, aku memandang langit dimusim panas. Aku melihat betapa indahnya milky way, dimana ada nebula yang begitu cantik terlihat. Aku meneteskan air mata, dan aku berdoa bawasannya aku ingin memiliki pasangan yang benar benar seirama dengan jalan pikiranku. Meskipun aku tak sadar, tapi rasa sakit itu sangat nyata aku rasakan sebab aku berada di titik dimana aku lelah. Aku berdoa pada bintang, aku meminta pada tuhan agar aku menemukan orang yang aku idamkan selama ini, dari semua doa di halimun, pangrango, dan salak. Rintihan itu begitu nyata adanya.
Aku tetap tapaki jalan yang sama, membujur dari perbatasan leuwiliang. Berjalan melintasi perbukitan yang sunyi dan dingin, disitu aku merasakan kesendirian diantara ketenangan yang aku benci. Aku merasa gila dan haus akan keindahan dan kasih sayang yang tulus. Memutar musik yang sama, mengulang semua memori dan kenangan yang pernah ku temui indah namun tanpa timbal balik. Aku ingat ingat segala yang pernah aku rasakan indah sendirian. Leuwiliang itu emang saksi dimana aku merasa sendiri, bersama semua masalaluku.
Daun pintu yang ku buka adalah akhir dimana aku merasa hidup sendiri di dunia ini. Cahaya itu hadir dari kedua bola mata bagai pelita. Dimana aku merasa akhir dari segala derita yang berangsur membaik. Dimana detik itu aku tak pernah lagi merasa sendiri di dunia ini. Tuhan mengabulkan semua doa doa yang terpampang dari bujur timur khatulistiwa. Dari semua perjalanan yang selama ini aku jalani sendiri, diantara lipatan, dataran, suhu, cuaca dan perasaan. Kehadiran dirimu adalah hal yang begitu aku tunggu. Dimana kita menciptakan cerita dan perjalanan kita bersama. Segalanya kita rasakan bersama dari hal yang begitu pahit, susah, senang, sedih. Hal yang belum pernah aku temukan di dunia, yang tadinya hanya aku anggap mimpi belaka, dan sekarang kini menjadi nyata. Dan kamu nyata adanya. Diantara milyaran bintang dan luasnya bumi, kita tak pernah selalu merasa puas akan hal petualangan, kita selalu mencari ide, dan rencana kedepannya. Hingga pernikahan yang tadinya adalah hal yang harus aku pikirkan matang matang, denganmu aku siap tanpa harus pikir panjang. Karna aku yakin, segalanya bahwa kita akan tetap temukan hal bahagia apapun kondisinya. Aku sangat mencintaimu...
Jakarta, 15 September 2018
12:41 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Tryas Andini