Sabtu, 06 September 2025

Pemikiran panjang dari sebuah rayap kecil

Sebuah pemikiran random di sore hari, saat dimana saya sedang duduk di sebuah tempat, menikmati kopi bersama istri. Saya melihat sebuah laron tanpa sayap sedang berjuang sendirian. Laron betina itu hinggap dan berjuang berjalan tersungkur dengan mimpi kecilnya untuk membangun sebuah koloni, dimana dia akan menjadi ratunya. Saya dengan tatapan bingung karna dia mendarat di tempat kayu imitasi, dan seberusaha apapun, dia tidak akan pernah bisa menggapai mimpinya. Muncul sebuah pertanyaan di otak "sejauh apa manusia menghapus semua mimpi satwa untuk meregenerasi?". Rayap adalah hewan yang di anggap manusia sebagai hama, tapi tidak untuk alam. Mereka adalah dekomposer bagi alam. Merekalah yang bisa menghancurkan kayu pohon lebih cepat untuk kemudian nutrisinya di serap pada tanaman baru. Mereka kecil untuk di anggap sebuah individu, tapi besar ketika disebut sebuah koloni. Lalu dari situlah pikiran saya bercabang banyak.

Kita adalah makhluk hama dan infasif bagi bumi kita sendiri, aku sebagai manusia sangat mengakui bahwa banyak hal dari aktifitas kita sebagai manusia, secara tidak langsung banyak menimbulkan kerusakan. Dan anehnya, kita sesama manusia selalu bersikap saling melempar dan menyalahkan penyebabnya. Bahkan tidak jarang menjadi sikap saling memusnahkan satu sama lain. Semua aktivitas kita sebagai manusia selalu menghasilkan sampah dan polusi bagi lingkungan. Sayangnya, sangat sedikit orang yang menyadari pola pemikiran ini. Manusia sudah jauh terlena akan kenikmatan teknologi yang membuat mereka bersikap egois untuk makhluk hidup lain di dunia ini, bahkan mirisnya untuk sesama mereka. Manusia hanya memiliki iba pada hewan peliharaan, tapi sesungguhnya semua hewan juga memiliki kesadaran, mereka semua berhak diperlakukan sama. Mereka semua sama-sama hidup untuk mencari makan dan menghidupi kehidupan. Sekecil apapun makhluk itu, mereka pasti memiliki mimpi yang ingin ia gapai. Hanya saja kita tidak mengerti itu.

Manusia mengklasifikasikan kingdom menjadi 5. Monera, protista, fungi, plantae, dan animalia. Dimana diantara semua itu akan bercabang dan bercabang menjadi spesies. Saya sering mendengar kata seperti ini "rawat dan jaga alam kita untuk anak dan cucu" kata kata tersebut menurut saya adalah kata-kata kurang tepat. Mungkin bisa di ubah menjadi, "rawatlah semua spesies yang ada, karena mereka juga membutuhkan ruang hidup sama seperti kita". Coba ubah pertanyaan "seberapa hama sebuah hewan?" Menjadi "bisakah kita hidup berdampingan dengan mereka?" jika tidak bisa "apa masalahnya dan apa solusinya selain memusnahkan?" Kita dan makhluk lain sama sama memiliki hak untuk menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. Semoga sejauh ini kita sebagai manusia, bisa menjadi makhluk yang sangat bijak untuk dunia ini.

Jakarta, 06 September 2025
09.51 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar