Senin, 08 Desember 2025

Empati Dan Emosi

Hal yang saya ingat dan tak akan pernah mungkin saya lupakan. Hari itu adalah hari dimana aku merasa sangat terpuruk. Di akhir desember tahun lalu. Tenangnya pagi tak mampu menutupi riuhnya hati yang lelah dan bergejolak tak terkendali. Mungkin karna hati yang terlalu banyak menguras energi atau memang aku yang banyak di salah artikan orang lain. Tapi pada pagi itu adalah pagi dimana aku sedang tidak baik-baik saja dan tidak bersuara apapun untuk membela diri. Aku merasa semua orang menyerangku atau banyak hal kabur yang tidak bisa aku bedakan mana yang membenci dan dipihakku. Dan di belakang sebuah rumah sederhana itu aku merenungkan banyak hal tentang jerih payah yang ku anggap sia-sia kala itu.

Ditenangnya pagi dan membaranya hati. Aku sangat tidak menyangka kalau hal kecil dari sebuah empati yang tidak sengaja kutanamkanlah yang akan membuatku bangkit dan berdiri lagi bahkan sembuh secara perlahan. Berawal dari mereka yang baru saja dilantik, datang mendobrak tempat persembunyianku, dia mengucapkan terimakasih dengan riang layaknya anak polos yang baru tau dunia dan semangat yang hidup. Aku menahan haru yang kuat saat itu, pikirku adalah "ternyata saya masih memiliki harga disini". Mereka yang paham ternyata tau bahwa aku sedang lelah dan terpuruk meskipun aku tak berkata apapun. Empati adalah bahasa asing untukku, sebab aku tumbuh di lingkungan dan didikan yang minim empati dan cenderung keras. Kemudian, dua orang senior di atas saya datang menghampiri dan berbincang dengan saya, setelah itu beberapa senior tua datang dan untuk berpamitan pada saya. Saat itu saya berasa bahwa beban yang saya pikul banyak di angkat sedikit demi sedikit. Hari itu akan selalu saya ingat, siapa saja orangnya dan akan selalu saya ingat.

Empati adalah hal yang asing untuk saya, dan emosi adalah hal yang paling saya benci dari diri ini. Tapi seiring berjalannya waktu, kejadian itu membuat saya banyak bertanya soal emosi dan empati. Sebab secara naluriah, dua bahasa itu adalah bahasa asing yang saya tidak mengerti fungsinya. Sampai di tahun ini, saya membuat beberapa eksperimen sosial kecil soal empati dan emosi. Yang secara singkatnya kedua itu adalah hal yang menjadikan manusia menjadi manusiawi, emosi dan empati adalah alat yang menghubungkan batin manusia dengan manusia lain. Beberapa orang memperkuatnya dengan intuisi. Lalu saya bertanya, apakah saya bisa memiliki alat itu? Dan apa yang membuat saya tidak memilikinya selama ini? Pola didik orang tualah yang membuat saya tidak mengembangkan sisi empati dan emosi, ketika saya dilepas pada dunia yang ternyata damai, tentram, dan demokratis membuat saya merasa kalau ini aneh, bukankah perang tidak akan pernah usai?

Di tahun ini, pada akhirnya saya melepas genggaman pedang itu dan mulai belajar banyak soal empati dan emosi, memang agak menguras tenaga, tapi saya juga ingin marasa terhubung dengan orang yang mungandalkan ini sebagai komunikasi batinnya. Meskipun tidak sekuat orang yang memang memilikinya secara alami, namun saya sudah mulai bisa mengandalkan logika yang dipandu oleh intuisi alamiah saya. setidaknya, saya juga ingin dipandang sebagai manusia layaknya manusia yang berempati dan eq tinggi. Saya tau ini akan sangat menguras energi, tapi itu sudah saya tekatkan sejak saat saya terpuruk kala itu. Saya tau bahwa ada hal penting yang terlewat selama ini.

Jakarta, 08 Desember 2025.
03.58 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar