Beberapa bulan setelah pernikahan aku dengan tyas, aku belajar banyak tentang hidup. Hal yang sangat mempengaruhi iyalah kebebasan itu sendiri. Yang tadinya tidak aku tau jadi mengetahui. Dan bila ditanya, jujur menikah itu seru bagi orang yang memang dasarnya menyukai kebebasan. Seperti aku dan istriku, yang memang tujuan utama dari pernikahan ialah untuk bebas berbuat apa yang kita suka tanpa harus banyak orang yang tau. Memang menikah dengan pendapatan pas-pasan itu sulit, tapi karna itu hal yang tadinya aku tidak tau jadi tau bahwa proses kehidupan itu tidak selalu senang. Ada tantangan yang berangsur meningkat dari waktu ke waktu. Aku memandang itu sebagai permainan, hingga pait manisnya hidup dirasa sebagai proses pengalaman. Dan kita menjalani ini dengan semangat.
Sejauh ini, banyak hal yang baru kutemui bersama istriku. Meskipun susah tapi kami selalu senang menjalaninya selama itu berdua. Karna menikah kami tau banyak. Tentang aku yang anti sosial dan istriku yang jiwa sosialnya tinggi. Sejauh ini keluarga kecilku membangunnya dengan saling melengkapi kekurangan. Istriku yang selalu merusak barang dan aku yang selalu memperbaikinya. Aku yang selalu pelupa dan dia yang selalu mengingatkan. Sama-sama nokturnal, minum berdua abis itu deep talk, aku yang membuat suasana rumah nyaman dan dia yang meramaikannya. Sama-sama ngingetin kalo lagi berantem, dan seperti biasanya, aku yang menjadi peredam dari emosimu yang meledak-ledak. Didalam keluarga kecil ini, banyak orang yang nyaman di dalamnya, meski jauh dari kata anak, tapi aku heran kerabat, ponakan, bahkan peliharaan nyaman ada di sini. Membuat suasana rumah sebebas dan seterbuka mungkin.
Perubahan adalah hal yang aku benci,tapi sikap nya yang dinamis menyeretku untuk menjadi orang yang flexibel. Dan ketertutupanku adalah hal yang paling dia benci tapi itu menjadi penyeimbngnya agar tidak mudah percaya pada orang. Semesta menciptakan aku dengannya seperti api dan angin, Keduanya saling melengkapi. Bukan persamaan, tapi perbedaan yang membuat kita merasa satu, tanpa itu kita akan menjadi individual. Dan teruntuk istriku, mungkin kedepannya banyak hal yang menakjubkan, perjalanan hidup itu melingkupi setiap helai napas yang kita hembus, dan diantaranya, setiap gerak tindak yang kita lakukan, itu adalah proses kita belajar untuk menjadi sempurna.
Jakarta, 19 Agustus 2021
06:52 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar