Secangkir teh kala itu di kaki gunung sumbing, saat dimana 3 km jalan sudah ditempuh. Ada seorang yang memberikan teh, lalu ku teguk. Rasa itu membuat ku jatuh hati pada segala teh. Teh itu beraroma wangi, terasa pait beraroma manis, menenangkan, dan yang paling terkesan adalah rasa yang masih teringat hingga 7 tahun berlalu. Dan sampai tulisan ini kubuat, teh itu menjadi teh terenak yang tak lagi ku temukan dalam pencarian panjang. Rasa mint berbaur dengan hijau teh dan kuning nikotin. Teh itu bertanggung jawab atas rasa penasaran sejauh ini. Sumbing pada saat itu memang menyimpan segala kenangan yang takkan kulupa. Termasuk teh itu.
Pencarian yang berawal berkunjung ke pasar garung, dimana mungkin teh itu di jual bebas tak kunjung bertemu, mencoba semua brand teh terkenal di indonesia, hingga mencoba teh TWG yang harganya ratusan ribu 1 sachet. Memang teh TWG memiliki cita rasa mirip tapi bukan itu. Rasa penasaran yang menghanyutkanku kedalam dunia teh. Hingga istri ku menyarankan untuk mencoba teh dandang, dimana teh itu memiliki rasa yang kuat dan aroma yang kuat tapi masih kalah kuat. Dan mungkin setiap teguknya teh selama ini yang kuingat hanya Pos Malim kala itu.
Teh melati yang menenangkan, mungkin menjadi favorit, tapi pencarian masih aan berlanjut, ini seperti teka-teki tanpa deskripsi jelas, sebab cita rasa dan aroma hanya aku yang tau. Tapi dibalik penjelajahan teh ini, aku tau kalau teh layaknya kopi. Setiap orang punya seleranya sendiri. Secangkir teh beraroma melati bagiku menggambarkan keteduhan, ketenangan, dan kedamaian hidup.
Jakarta, 01 Oktober 2021
04:29 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar