Bukan aku yang berubah, tapi kita. Yah, semakin lama usia pernikahan kita, semakin banyak hal yang hilang didalamnya. Apapun itu, tentang keharmonisan, budaya, perhatian, kehangatan, dan lainnya. Kamu selalu berisik menyuarakan bahwa aku tidak seperti dulu saat pertama kamu kenal, sedangkan aku hanya diam dan meratapi nasib akan banyaknya perubahan kamu yang semakin jauh. Sebab aku paham bahwa manusia itu sangat dinamis, tapi mengapa?, mengapa kita seperti ini sekarang, dan mengapa ego kita semakin kuat satu sama lain. Aku tau kalau kejenuhan itu selalu ada dalam hubungan, tapi bisakah kita berpura pura seperti saat kita bertemu di awal cinta. Aku merindukan kehangatannya, segalanya yang kini hilang, dan digantikan hal dan sifat baru kita yang asing. Bisakah di dunia ini cukup hanya ada kita saja, atau setidaknya kita tidak memikirkan apapun layaknya kita bertemu di awal. Aku hanya ingin kamu yang dulu aku kenal, yang selalu hangat dan mencintaiku secara intens.
Hubungan ini semakin rumit, aku tau kepudaran itu pasti ada, tapi ada hal kecil di hatiku yang inginkan kepudaran ini berakhir. Aku sudah memberikan segalanya untukmu, mengorbankan apapun untuk orang yang paling di cinta, tapi kamu selalu bersikap seperti itu. Jika memang jenuh, katakanlah. Dan pergilah, cari apa yang bisa membuatmu puas, aman, dan nyaman selain aku. Aku sudah muak dengan ego... Hal yang kukira kita sekarang sudah menjadi kamu dan aku. Dan aku tetap akan selalu merindukan kita yang dulu.
Jakarta, 23 april 2025
03.57 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar