"Kamu memang tidak sepenting itu dimata orang, Tapi rencanamu itu hakmu"
Dan semua ini tentang kepalsuan. Semakin bertambahnya umurmu, semakin banyak kamu mengungkap tentang dunia, dan semakin intens kamu berada pada mode waspada. Semakin kesini, kamu semakin mempertebal armor, bahkan menutup semua celah sekecil apapun yang kamu anggap sebagai ancaman. Kamu tak pernah perduli akan penilaian orang tentang dirimu, yang pasti mereka menilaimu sebagai orang yang buruk. Tapi ini bukan soal citra, ini soal bagaimana kamu bisa hidup tanpa memikirkan penilaian orang terhadapmu, dan bagaimana kamu bisa mewujudkan keinginanmu. Banyak orang yang tidak senang melihat kamu hidup dengan standar yang kamu punya, dan kamu harus mengetahui mereka semua. Ada yang mudah di temukan dan bisa langsung di pilah dan ada yang tersamar. Dan itu bagian sulitnya, kamu harus menemukannya.
Aku tidak akan pernah percaya akan kata kekeluargaan, bahkan keluarga pun bisa membuatmu hancur. Semua berlandaskan ego, setiap manusia pasti memiliki keinginan dan tujuan. Setiap aku bertemu dengan orang, aku selalu menanyakan apa keperluan mereka. Jika ingin bersahabat, aku akan mematikan mode waspada itu dan akan bersikap santai. Dan beberapa orang yang memang sudah tidak aku percaya, aku akan tetap pada mode siaga. Itu yang membuatku benci akan keramaian, karna aku bingung menempatkan diri di mode apa. Yang pada akhirnya aku memilih menjadi kaku dan waspada. Dan orang yang mengenalku secara personal pasti paham bahwa ada yang tidak beres.
Terlalu banyak peperangan yang kamu lewati, sehingga kamu menjadi seperti ini. Hanya sedikit orang yang kamu percaya, hingga kamu cenderung lebih tertutup akan segala hal. Terima kasih untuk kalian yang sudah berlaku baik padaku.
Jakarta, 06 Mei 2025
06.14 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar