Kembali...
Aku menaiki sumbing.
Lagi dan lagi...
Aku membuka kenangan lampau manis.
Oh sumbing...
Memo itu masih tersimpan rapih.
Di sini...
Sumbing menceritakan semuanya.
Kala itu...
Kala dingin menusuk.
Kala cinta merasuk dan mengetuk...
Dia bersama hangatnya.
Yang kala itu...
Aku terjerat dan terikat di hatinya.
Tak bisa lepas tak bisa napas.
Terbawa begitu larut.
Oh cinta, kala itu derita melalang buana...
Kembali...
Bersama sejuknya mimpi.
Membawa cerita tentang...
Aku yang terpikat pandangannya.
Yang kala itu akulah yang memuja dirinya.
Dia tidak tau besarnya.
Yang dia tau hanya katanya...
Dia tidak tau rasanya.
Yang dia tau hanya tulisannya...
Cinta dan cita.
Semua telah larut di atas laut...
Terbawa ombak lalu hilang di telan garam.
Hingga aku dewasa dan sadar...
Kalau mimpi itu teralu jahat untuk aku raih.
Sumbing bercerita...
Kala itu tak lepas pandanganku padanya.
Yang sempurna di mata...
Wibawa di hati...
Bahkan jutaan kata terangkai sebab aku ingin lupa...
Sampai akhirnya bisa.
Sumbing mengajarkan semuanya.
Dan aku kembali untuk mengenang.
Cinta yang ku pendam...
Tetap menjadi mimpi yang ku lupakan.
Hai sumbing...
Aku kembali sebagai bukti.
Kalau aku bisa menerima kenyataan.
Aku memang tak pantas untuknya.
Sumbing, 03 September 2016
11:45 P.M.
Gamal Johanes Perdana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar