Kamis, 12 Januari 2017

12 Januari

Lima tahun sudah aku mengenalmu, sosok wanita yang setia temaniku suka duka. Sosok yang ku kenal pendiam, tempramental, dan tegas. Akan tetapi dirinyalah yang setia menjaga rasa, meski terkadang lelah, dirinya bagaikan pelita yang terangnya suci seperti maksudnya. Entah tuhan telah anugerahkan dirinya untuk temani hidupku yang begitu kelam. Kehadirannya adalah awal dimana aku menemukan cinta sejati yang hampir mutlak sifatnya, dirinya yang mengajarkanku apa arti kesetiaan sesungguhya. Hingga detik ini cintanya terus terangi jalan hidupku yang begitu berliku. Meski terkadang dirinya keras terhadap kehidupanku, aku tetap bersyukur bahwa dibalik kekasaran yang ia miliki, terselip makna kalau sesungguhnya dia sangat menyayangiku, dengan cara yang menurut dirinya benar. Dia adalah sosok wanita koleris yang sangat menyayangiku, tuhan telah mentakdirkan segalanya yang terbaik untukku. Semoga cinta dan sayangnya abadi untukku...


Lapangan basket adalah saksi dimana aku mengenalmu. Dari koridor depan kelas tatapan itu takkan ku lupa, saat dimana dirimu tersipu malu kala kusapa. Dimana kala itu kau datang mengobati perasaanku yang terluka sebab terhianati. Hingga akhirnya pada kamis, 12 januari 2012 aku resmi menjadi pacarmu. Kita rajut semua mimpi dan janji bersama, dibawah kilau bintang di bangku selasar rumahmu. Kita buat mimpi itu seindah lagu, dimana kala itu kau tertidur di pangkuanku. Sosok wanita yang ku kenal di bangku SMP Negri 29, dia adalah kekasih sejatiku. Yang sangat menyayangiku dengan tulus dan dengan di kombinasikan oleh sifat egonya yang koleris. Apapun dirinya yang ku kenal, aku tetap mencintainya penuh.


Zahra Nadifa, Lahir pada hari kamis, 17 Februari 2000. Dalam zodiak Aquarius sama sepertiku. Wanita yang ku kenal manja dan pendiam, di iringi dengan senyuman manisnya yang membuatku rindu akan pertemuan berikutnya. Cinta ini penuh dengan aturan sebabnya, hingga aku muak dengan segala aturannya yang menjauhkan hidupku dengan kegemaranku. Banyak hal yang bertolak belakang dengannya, akan tetapi perbedaan itu yang membuat aku sadar kalau setiap orang butuh itu. Perbedaan itu yang membuat aku dan dia bertahan dan saling belajar untuk bertoleransi. Entah apa jadinya kalau aku tak kenal dia kala itu di lapangan basket. Dimana namanya ku kenal di kantin sekolah. Sungguh tak ku sangka sebelumnya kalau sejauh ini kita melangkahkan kaki bersama.


Cintamu sejati untuk ku tekuni. Lima tahun sudah usianya, kita berjalan melewati kabut, hujan, panas, dingin, dan segala mimpi buruk yang pernah membuat kita sama sama terluka. Dibalik semua keributan kita yang tidak jelas apa karenanya, ada satu karunia tuhan yang tidak pernah kita sadari. Dimana ucapanmu adalah bukti bahwa aku adalah pasangan setiamu. Terserah engkau mau pergi sejauh apapun, aku tau kau takan bisa temukan perasaan sayang sepertiku. Kebebasanku adalah bukti bahwa cara sayangku dengan bentuk toleransi. Tuhan, berkatilah hubunganku dengannya.

"Tuhan, Jika benar dirinya adalah jodohku, dekatkanlah aku dengannya" -Zahra Nadifa


Jakarta, 12 Januari 2017
03:15 A.M.
Gamal Johanes Perdana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar