Wahai malam ...
Aku bersumpah demi tuhan yang maha Esa.
Rasa ini sungguh menyiksa batin.
Hampir saja aku bisa lepas dari semuanya.
Dan lagi...
Rasa ini menggebu sebab aku yang tak pandai.
Sudah segala cara aku lakukan...
Tapi tetap saja...
Aku tidak sanggup mengendalikannya lagi.
Bahkan hampir dititik menyerah.
Maaf aku belum bisa...
Wahai bintang...
Di dunia ini, aku hidup seperti ilalang yang melambai.
Yang tenang tergoyang angin.
Damai di atas tanah yang tandus.
Dan bermain bersama burung dan serangga.
Tapi tak ada satupun yang bisa aku ajak bicara.
Hingga aku menangis...
Tak ada yang bisa mendengar dan melihat tangisanku.
Aku tetaplah menjadi aku yang terombang-ambing.
Di usap angin, dan di bakar cahaya...
Tak ada air, apalagi telaga...
Aku tetap menjadi aku yang benci akan kehadirannya.
Jika ditemukan luka...
Aku berkata pada mereka:
"itu bukan karena cinta"
Dan lagi aku berkata bohong kalau aku melupakan semuanya.
Hal yang paling tidak masuk akal.
Ketika pandangannya ada ketika aku berbicara.
Oh tuhan, ku kira aku tidak bisa mencintainya dengan penuh.
Tapi cinta berkata iya...
Dan sangat tidak mungkin aku mencintainya di satu lambang.
Dan sangat tidak pantas aku memilikinya...
Dirinyalah bagaikan intan permata.
Akulah bongkahan koral...
Meski cinta soal hati.
Derajatnya bukanlah untukku...
Jakarta, 13 Oktober 2016
10:54 P.M.
Gamal Johanes Perdana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar