Sekian lama aku berjalan dan mencari kebenaran...
Meski lelah kaki ini berjalan jauh.
Aku tetap mencari hal yang aku tuju.
Meski sempat dicaci maki, aku bertahan demi kebenaran.
Tak perduli seberapa keras dunia menghujat.
Jika logika berkata benar, mengapa harus ragu menjalani.
Aku berjalan diantara rumput ilalang...
Sampai akhirnya aku terhenti ketika kulihat senja tenggelam.
Kupandangi dengan cermat hingga akhirnya...
Aku sadar akan kegelapan yang menelan pandangan.
Meski akhirnya kewalahan ku mencari jalan keluar.
Dirinya tetap saja ada dan tumbuh di dalam pikiran.
Bagaikan virus, perasaan ini menyebar dan berkembang pesat.
Hingga aku tak kuasa mengendalikannya...
Meski terus kucari-cari obat penawarnya.
Tetap tak kutemukan kesembuhan yang pasti dari luka ini.
Meski telah berkali-kali ku berkelana dan kutuliskan.
Dia tetap tumbuh dan ikut dalam perjalananku.
Ketika dini hari datang bersama fajar yang hangat...
Aku terduduk dibawah pohon pinus dengan segelas teh hangat.
Dan ketika radiasi matahari pecah di atas langit.
Perasaan itu hilang seiring dengan udara malam yang dingin.
Kuraih tas dan kukemasi semua perlengkapan.
Lalu ku berjalan mencari kebenaran atas kehadirannya semalam.
Jakarta, 30 Oktober 2016
10:39
Memo in Sumbing, September 2016
Gamal Johanes Perdana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar