Jumat, 14 Oktober 2016

Halimun

Malam yang dingin di halimun.
Hampir dua tahun lamanya aku tak singgah disini.
Tempat dimana kartika kirana dilahirkan...
Dimana kala itu langit yang hitam kelam.
Di penuhi butiran mutiara yang indah...
Itulah halimun.
Aku cintai sebab ketenangannya yang teduh.

Disini aku terduduk menyendiri...
Tak ada inspirasi...
Tak ada ilusi yang jelas.
Hanya samar ku ingat dia.
Dan hanya remang ku ingat kirana.
Yang pasti ...
Hampir aku tak peduli akan kehadirannya.
Dan aku rasa aku hampir berhasil...
Sebab dirinya hanya terlintas.
Lalu aku lupakan...

Dirimu adalah cinta yang samar...
Ketika hatiku di ketuk dengan halus.
Dia masuk dengan sejuta keindahan.
Yang kala itu pikirku akan bahagia dengan sejuta aksara.
Indah jika ku ingat lagi...
Ketika kulihat ia memiliki satu kesamaan.
Dan lagi...
Memetik dawai dan bernyanyi bersama...
Merajut aksara dengan indah...
Kala ku pandang bola matanya.
Oh cinta, air mata itu jatuh sebab aku sangat mencintainya...
Biarlah itu berlalu...

Hampir dini di halimun...
Tapi tak jua kulihat bintang dilangit.
Meski hujan telah menghangatkan udara.
Tak jua ku temukan kehangatan di hati.
Meski telah mencair...
Dua tahun lamanya hati ini membeku akan kehidupannya...
Aku akui bawasannya aku terlalu memupuk itu semua.
Sebab dulu aku pikir terlalu sayang membiarkannya layu...
Dan kini, cukup ku berikan air.
Agar bunga itu tetap hidup bersama kenangan.
Dan sisanya...
Ku pupuk bunga yang hidup di hati ini.
Yang hampir lima tahun hidup di hatiku.
Sebab cintanya lebih sejati dan nyata...
Aku sadar kalau selama ini aku tertelan cinta yang samar.
Hai halimun...
Bantu aku keluar dari kekelaman hati ini.
Salam hangat...
Dariku untuk malam yang panjang.

Halimun, 08 Oktober 2016
11:43 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar