Tuhan, salahkah aku apabila aku mencintainya...
Aku selalu saja menghindar dan memanipulasi rasa.
Bahkan ketika aku merindukannya...
Aku berlari untuk menyendiri...
Merajut kata, menorehkan tinta di atas kertas putih.
Oh tuhan, mengapa rasa ini terus tumbuh subur dihati.
Padahal sudah kulakukan segala hal agar semua sirna.
Hingga hampir aku menyerah saat ini...
Halimun...
Sukamantri...
Bahkan lelah kaki ini berjalan menuju sumbing.
Dengan harapan penuh bahwa aku bisa melupakannya.
Hingga ketika sumbing bercerita...
Aku terduduk lemas diantara rumput ilalang.
Hingga ketika bintang datang...
Mata ini berkaca sebab dia tak jua hilang dari pikiran ini.
Ketika hati mencoba lupa dengan rekayasa.
Lagi...
Dan lagi.
Dirinya hadirnya di pikiranku, laksana fajar menjelang.
Langkah kaki ketika dini hari...
Ku petik lantunan nada dan kumainkan dengan lembut.
Aku nyanyikan sebuah lagu khusus untuknya.
Harum udara pagi dengan sebatang rokok dan teh dingin.
Ketika malam menjadi petang...
Rasa rindu semakin dalam ku pandang...
Hingga Pagi menjelang.
Aku tetaplah aku yang hidup dalam impian...
Semalam.
Jakarta, 07 November 2016
02:18 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar