Selasa, 29 November 2016

November...

Di senja akhir november...
Katanya mengantarkan langkahku menuju pintu.
Yaitu pintu keluar dari hatinya.
Sebelum aku keluar dari akar permasalahan ini.
Aku ingin dirinya paham akan apa yang selama ini menjadi rahasia.
Ketika perbatasan leuwiliang menjadi saksi bisu atas perasaan.
Ketika halimun dan salak...
Serta sumbing yang menjadi pusat segalanya.
Hingga berakhir di akhir november...

Kututup rasa sayangku dengan terpaksa...
Langkahkan kaki dan kepalkan tangan.
Semua harus ku lakukan meski pahit dan sakit.
Tak berguna...
Dinginkan kepala, lalu pergi dengan perlahan.
Namun pasti...
Semua harus selesai ketika fajar hadir menerangi desember.
Kutaruh pena dan kututup buku untuk selamanya.
Aku berjanji pada dunia...
Bahwa aku tak ingin lagi memikirkannya.

Sapta Aldaka...
Ketika perjalananku selesai sampai disini.
Takkan kuhapus sejarah semua ini agar tak lagi ku ulangi.
Dan aku...
Adalah aku yang hidup pada jati diriku sendiri.
Aku memilih untuk keluar pada detik ini...
Aku harus menutup pintu sebelum pintu tertutup.
Aku harus mengucapkan salam perdamaian sebelum memburuk.
Aku harus berjalan lekas sebelum semuanya berakhir.

Sebelum itu...
Aku titip perasaan ini.


Jakarta, 29 November 2016
11:16 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar