Senin, 21 November 2016

Melankolia Bolang

Baru Bolang...
Kau datang dengan udara pagi bercampur air.
Desir sungai dan kicauan burung kutilang.
Kilau matahari menyinari bening embun diatas daun.
Aku terbangun dengan pikiran bebas tanpa beban.
Tanpa bising, tanpa polusi, tanpa anarki...
Aku menyukai semua suasana alam ini...

Berkemas untuk bergegas...
Aku berjalan melintasi lembah dan sungai.
Ngarai dan punggungan asri menjadi dinding.
Ku usap keringat, lalu berjalan lagi...
Inilah kehidupan alam yang penuh kedamaian abadi.
Tempat aku berdiri dan menempa hati.
Rintik hujan menghapus semua kelelahan semua ini.

Hingga senja menjelang diperbadasan...
Sejenak melintas dipikiran ini tentang salamnya.
Meluluhkan luka, menghilangkan lelah jiwa...
Memang rasa cinta ini masih terpupuk baik di dalam hati.
Namun, apakah aku bermimpi terlalu dalam untuknya.
Sosok melankolia yang identik dengan seni dan sastra...
Oh tuhan, beribu kali kuhindari hujaman cintanya.

Akankah kubiarkan rasa cintanya tumbuh berkembang?...
Ataukah aku larut pada lautan mimpi yang menggenang...
Apakah semua akan nyata, atau hanya larut dalam rasa...
Dirinya begitu sempurna untuk ku miliki tuhan.
Tolong lupakan bayangnya dari pikiran ini ...
Tak pernah aku merasa bahwa dirinya pantas untukku.
Aku hanya menggemarinya sebagai melankolia...
Cinta...

Dini hari baru bolang...
Ketika malam menghantam dan melerai semua tenaga...
Otak, Energi, Fisik, bahkan darah telah terlerai dalam rimba.
Hingga pagi nan permai datang menarikku dari alam bawah sadar.
Dengan sisa linu dan amis bau darah, aku terbangun...
Bergegas ku berdiri lalu bersuci di aliran air sungai.
Baru Bolang pagi hari...
Bayangmu tetap tumbuh didalam halusinasiku...
Melankolia Senja...



Baru Bolang, 18-20 November 2016
Rimba dan melankolis
Gamal Johanes Perdana


Tidak ada komentar:

Posting Komentar