Meong ...
Merdu suaranya berbicara.
Dia berlari kencang lalu berbalik arah padaku.
Matanya bulat seperti bola ping-pong.
Berkaca-kaca seperti kelereng,,,
Dan dia adalah sahabat mungilku.
Lois De Olmow...
Meong Meong...
Kala dahinya ku usap manja.
Dia adalah sahabat mungil yang riang dan manja.
Selalu saja berbuat ulah yang konyol.
Selalu mencari perhatian lebih dariku.
Dia selalu tidur disampngku kala aku menulis.
Ya, dia adalah partnerku...
Lois De Olmow...
Meong Meong Meong...
Kata halusnya kudengar lagi malam ini.
Seperti berbicara denganku, tapi aku tak paham.
Kukunya yang tajam menghancurkan plastik berisi kertas.
Dan hancurlah semua kertas itu...
Ku rangkai lagi baris dan deretan kertas puisi.
Memilah dan memilih, hingga akhirnya aku temukan kertas lusuh.
Iya, aku ingat hal yang indah ketika dia menjelma.
Dalam tulisan itu terangkai kata...
"Tuhan, aku mencintainya sungguh dan sangat. Malam ini kutulis kata manis lagi lewat bait untuk kau kirimkan pada mimpinya. Jika dia tidak menyadarinya entahlah, Malam yang indah di anak sungai Cisadane, Perbatasan Leuwiliang"
Meong... Meongg...
Kala ku terbangun dari memoku.
Kulihat kucingku tertidur pulas di ranjang tidurku.
Tak lagi kulihat besitan matanya yang menolek.
Malam dunia...
Tidurlah dengan lelap bersama mimpi indahmu.
Dan ingatlah untuk sadar kembali...
Karna mimpi indah itu terlalu sulit dilupakan.
Meooong...
Jakarta,10 November 2016
11:59 P.M.
Gamal Johanes Perdana

Tidak ada komentar:
Posting Komentar