Mereka adalah butiran aksara...
Yang tersusun atas dasar perasaan hati.
Yang berbaris membentuk kalimat dan paragraf seni.
Bermakna dan beralur lembut seperti kapas...
Tak berbunyi, Namun bisa membuat kau bersuara.
Tak menangis, tapi bisa membuat kau menangis.
Tak bercitra, tapi kau bisa melambung atas imajinasi.
Semua tersusun atas dirinya...
Dari lentik jariku, untuknya.
Yang hadir ketika malam penuh dengan jutaan bintang.
Begitu pula cinta mengetuk batin...
Berkata salam yang lembut, namun sangat mengguncang perasaan.
Yang tak tertulis, namun bisa membuatku berkata.
Yang tak menghujam, namun bisa membuatku merintih kesakitan.
Yang tak berwujud, sebab bayangnya hanya ada dalam mimpi.
Dan terus menjadi mimpi yang kerap menghantui.
Kala malam datang...
Dirinya datang dengan menghiasi perasaanku yang dalam.
Bagai kilauan embun fajar...
Rasa ini terlalu murni untuk terungkap secara kata.
Sebab apa yang ku rasa sangatlah tinggi kadarnya.
Dan rapih terkubur dalam sanubari.
Dan dirinya yang aku cintai...
Tetaplah menjadi hal yang begitu indah untuk ku cintai.
Meski takkan mungkin ku miliki...
Biarlah...
Kurasa dirinya akan temui kehidupannya sendiri nanti.
Tuhan...
Sampaikan salam cintaku.
Untuk dirinya seorang....
Dalam sejuknya pikiranku malam ini.
Jakarta, 22 November 2016
01:02 A.M.
Gamal Johanes Perdana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar