Aku ingin bebas,
seperti burung yang terbang di awan.
Berenang seperti
ikan di samudra.
Tanpa ada batas
yang menghalangi jalan ku.
Menambah wawasan
dimana ku belajar segalanya.
Bernyanyi dengan
alam dan hewan.
Beradaptasi
dengan kekerasnya keadaan.
Aku sadar,
bahwasannya aku tak begitu bebas.
Terbatas antara
dinding dan jurang.
Kebebasan hanya
jadi impian yang menyenangkan.
Begitu sulit tuk
di kabulkan di hidupku.
Lompatan ku tak
sanggup menggapai dinding yang tinggi.
Lari ku tak
secepat bumi ini berputar.
Teriakanku pun
termakan oleh gemuruh dan halilintar.
Pandanganku
terhalang oleh gelapnya dasar laut.
Terus mengejar,
menggapai, menjerit, mencari cahaya.
Hingga aku tak
kuat tertekan seperti ini.
Sadarku...
Hidup ini adalah
petualangan dan kenikmatan.
Aku melawan arus
kerasnya zaman yang menghantui pikiranku.
Siapa yang kuat,
ialah pemenangnya...
Ku belajar
melompat dari pendek hingga tinggi.
Ku belajar
berlari dari pelan hingga cepat.
Ku belajar
berteriak melawan gemuruh dan halilintar.
Ku belajar meraba
tanpa cahaya.
Mendaki tuk
meraih mimpi di atas puncak.
Mengayuh tuk
menjadi lebih cepat.
Hingga ku
mengatakan "aku akan datang lebih dari ini"
Pelita cukup
menerangi malam yang dingin.
Mimpiku belum
terwujud.
Aku ingin hutan
tempat tinggalku.
Gunung tempat
wisataku.
Dan binatang
teman temanku.
Tak ada lagi rasa
takut ketika ku bermalam di hutan.
Hal biasa ketika
ku tersesat di gunung.
Sehingga ku
anggap harimau sebagai kucing peliharaan.
Takan ku pandangi
burung yang terbang.
Aku telah menjadi
bintang.
Tak ingin lagi ku
menjadi ikan kecil di samudera.
Karena ku telah
menjadi ikan paus.
Senanglah saat ku
melihat generasi baru tumbuh.
Menekuni langkah
apa yang pernah aku lewati.
Untuk menjadi
hebat dari yang lemah.
Di sini aku masih
memimpikanmu.
Jakarta, 23 November 2016
11:10 P.M.
Gamal Joanes Perdana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar