Rabu, 23 November 2016

Petualang


Aku ingin bebas, seperti burung yang terbang di awan.
Berenang seperti ikan di samudra.
Tanpa ada batas yang menghalangi jalan ku.
Menambah wawasan dimana ku belajar segalanya.
Bernyanyi dengan alam dan hewan.
Beradaptasi dengan kekerasnya keadaan.

Aku sadar, bahwasannya aku tak begitu bebas.
Terbatas antara dinding dan jurang.
Kebebasan hanya jadi impian yang menyenangkan.
Begitu sulit tuk di kabulkan di hidupku.
Lompatan ku tak sanggup menggapai dinding yang tinggi.
Lari ku tak secepat bumi ini berputar.
Teriakanku pun termakan oleh gemuruh dan halilintar.
Pandanganku terhalang oleh gelapnya dasar laut.
Terus mengejar, menggapai, menjerit, mencari cahaya.
Hingga aku tak kuat tertekan seperti ini.

Sadarku...
Hidup ini adalah petualangan dan kenikmatan.
Aku melawan arus kerasnya zaman yang menghantui pikiranku.
Siapa yang kuat, ialah pemenangnya...
Ku belajar melompat dari pendek hingga tinggi.
Ku belajar berlari dari pelan hingga cepat.
Ku belajar berteriak melawan gemuruh dan halilintar.
Ku belajar meraba tanpa cahaya.
Mendaki tuk meraih mimpi di atas puncak.
Mengayuh tuk menjadi lebih cepat.
Hingga ku mengatakan "aku akan datang lebih dari ini"
Pelita cukup menerangi malam yang dingin.

Mimpiku belum terwujud.
Aku ingin hutan tempat tinggalku.
Gunung tempat wisataku.
Dan binatang teman temanku.
Tak ada lagi rasa takut ketika ku bermalam di hutan.
Hal biasa ketika ku tersesat di gunung.
Sehingga ku anggap harimau sebagai kucing peliharaan.

Takan ku pandangi burung yang terbang.
Aku telah menjadi bintang.
Tak ingin lagi ku menjadi ikan kecil di samudera.
Karena ku telah menjadi ikan paus.
Senanglah saat ku melihat generasi baru tumbuh.
Menekuni langkah apa yang pernah aku lewati.
Untuk menjadi hebat dari yang lemah.
Di sini aku masih memimpikanmu.

Jakarta, 23 November 2016
11:10 P.M.
Gamal Joanes Perdana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar