Tenggelamlah matahari...
Sungguh aku muak akan anarkinya selatan.
Dimana semua jalan tak lagi lapang...
Penuh amarah yang tak terkendali.
Busuk pula kotor...
Disamping terminal...
Dengan latar belakang senja penuh anarki...
Selatan...
Dari angkutan ke angkutan...
Kuperhatikan kehidupan sekitar akan ke egoisan.
Kepincangan ekonomi...
Serta kerusakan moral anak bangsa.
Mereka semua mengembara dengan penampilan buruk.
Merekalah musisi jalanan...
Yang menghias anarkinya jalan dengan nada sumbang.
Pula karya seninya yang abstrak diatas kulit cokelat...
Dari persimpangan...
Ku simak mereka yang angkuh dalam kendaraan.
Sendiri dalam satu roda empat...
Melontarkan sirine dengan keras tanpa sadar.
Kalau dirinya lah faktor kemacetan...
Lalu motor jalan saling mendahului seperti semut...
Dan bis yang lapang tanpa penumpang...
Aku terduduk santai di kursi belakang...
Lalu ku putar musik dengan nada lembut.
Ku tenangkan jiwa ini...
Dibawah langit oranye bercampur abu-abu biru.
Dalam lelahnya tubuh yang telah di hujat...
Aku tak ingin menjadi orang yang tempramental.
Aku hanya ingin menjadi orang yang damai...
Tentram diantara kisruhnya selatan...
Senja menuju malam...
Jakarta, 21 Desember 2016
07:48 P.M.
Gamal Johanes Perdana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar